EtIndonesia. Pada 22 September 2025, seorang pemilik restoran di Zhaotong, Provinsi Yunnan, Tiongkok menceritakan pengalaman menyentuh: seorang kakek yang sedang dirawat sendirian di rumah sakit datang ke restorannya untuk meminta makanan karena tidak punya uang untuk makan. Video itu kemudian menyebar luas di internet dan membuat banyak orang menangis.
Menurut laporan berbagai media daratan Tiongkok, pemilik restoran hotpot bernama Tuan Mou menceritakan bahwa pada malam 22 September, ketika semua pelanggan sudah pulang dan ia sedang beristirahat di meja kasir sambil menggendong anaknya, seorang kakek dengan tas di punggung perlahan masuk ke restoran. Ia membuka sebuah kotak makan berisi nasi dingin, lalu berkata pelan:
“Saya dirawat di rumah sakit dekat sini. Seharian belum makan. Bisakah saya meminta sedikit lauk sisa?”
Kakek itu dengan hati-hati mengeluarkan kartu identitas, rekam medis, dan kartu identitas putrinya, sambil terus menegaskan, “Saya bukan penipu.”
Tuan Mou memperhatikan bahwa kakek itu telah menunggu di luar restoran selama sekitar satu jam. Ia menduga bahwa kakek tersebut sengaja menunggu hingga tidak ada pelanggan baru masuk sebelum memberanikan diri masuk.
雲南老人獨自住院到飯館討飯 全網看哭
— 大纪元新闻网 (@dajiyuan) October 6, 2025
9月22日,一段視頻顯示,雲南昭通一位老人住院沒錢吃飯,帶著一盒冷米飯走進火鍋店,小心翼翼拿出病歷與身分證,自稱女兒已經患病去世,反覆強調「我不是騙子」。
店主牟先生當場端出熱騰騰的回鍋肉與青菜,並承諾老人隨時可來免費用餐。影片感動全網。… https://t.co/Y0nJAGS32x pic.twitter.com/hoHDaWyHC0
Melihat gelang pasien di pergelangan tangan sang kakek, Tuan Mou memintanya duduk dan segera ke dapur untuk memasakkan dua hidangan: tumis daging babi khas Sichuan dan tumis sayur hijau.
Ketika makanan hangat dihidangkan, Tuan Mou bertanya dengan lembut, “Anak Bapak tidak menemani Bapak?”
Kakek itu menjawab pelan, “Saya punya seorang anak perempuan, tapi dia sudah meninggal karena kanker.”
Setelah itu, sang kakek meminta agar makanan dibungkus untuk dibawa pulang. Tuan Mou berkata, “Makan saja di sini.”
Namun sang kakek menjawab, “Saya takut mengotori toko Anda.”
Tuan Mou kemudian mengatakan bahwa melihat kakek itu membuatnya teringat pada kedua orang tuanya yang bekerja keras di luar kota. Saat kakek itu hendak pergi, Tuan Mou berkata,
“Selama Bapak dirawat, kalau tidak punya uang untuk makan, datang saja ke sini. Saya akan sediakan dua kali makan gratis setiap hari.”
Video ini membuat banyak warganet menangis dan tersentuh:
“Tidak tahan lihatnya, kakek ini benar-benar menyedihkan.”
“Hati saya terasa sesak, ingin menangis.”
“Melihat kejadian di Zhaotong ini, saya tidak bisa menahan air mata.”
“Masih banyak orang yang hidup susah di luar sana, makan hanya roti dan air, tidur di bawah jembatan atau taman.”
“Terima kasih untuk pemilik restoran yang berhati baik. Banyak orang berjuang keras hanya untuk sekadar bertahan hidup.”
Beberapa warganet juga berbagi pengalaman pribadi dan memuji kebaikan hati sang pemilik restoran: “Saat Shanghai lockdown, akhir April saya hanya punya lima yuan di rekening dan masih harus menunggu gaji beberapa hari lagi.”
“Suatu malam, ada pemuda datang ke toko saya, bilang belum dapat kerja dan ponselnya hilang. Suami saya langsung memasakkan sepiring besar nasi goreng untuknya. Kami bilang dia boleh makan gratis beberapa hari, meski dia tak pernah datang lagi, semoga dia sudah dapat pekerjaan.”
“Dunia ini memang keras, tapi selalu ada orang seperti pemilik restoran itu — yang dengan secercah cahaya kecil menerangi jalan orang lain. Semoga kebaikan seperti ini terus menular.”
Namun, ada pula komentar pedas dari warganet:
“Siapa yang membuat para lansia jadi tak punya sandaran seperti ini?”
“Detail ketika kakek itu menunjukkan kartu identitas anak perempuannya menggambarkan betapa putus asanya kelompok ‘keluarga kehilangan anak tunggal’ di bawah tekanan penyakit dan kemiskinan.”
Tiongkok memiliki lebih dari satu juta “keluarga kehilangan anak tunggal” — korban kebijakan satu anak yang diterapkan sejak 1980-an. Saat itu, pemerintah PKT mengkampanyekan slogan “Punya satu anak lebih baik, pemerintah akan tanggung jawab di masa tua.” Namun pada 2005, rezim berubah haluan dengan menyatakan bahwa “tanggung jawab merawat lansia tidak bisa bergantung pada pemerintah.”
Pada 2015, para ahli demografi memperkirakan bahwa dari 218 juta anak tunggal di Tiongkok, sekitar 10 juta di antaranya bisa meninggal sebelum usia 25 tahun. Artinya, jutaan keluarga di masa depan akan kehilangan satu-satunya anak mereka — menghadapi masa tua tanpa dukungan dan tanpa harapan. (hui)
Sumber : NTDTV.com


