Kebahagiaan Para Pengusung Tandu

EtIndonesia. Tahun 1924, Bertrand Russell, salah satu pemikir terbesar Inggris pada abad ke-20, datang ke Sichuan, Tiongkok. Saat itu, negeri Tiongkok sedang terpecah oleh perang saudara, penuh kekacauan dan penderitaan rakyat.

Russell baru saja menulis karyanya yang terkenal “The Conquest of Happiness” (Penaklukan Kebahagiaan), dan berharap bisa menyebarkan gagasan tentang kebahagiaan untuk menuntun rakyat Tiongkok keluar dari penderitaan.

Ketika itu musim panas. Udara di Sichuan sangat panas dan pengap. Russell bersama rombongan menaiki tandu bambu yang dipikul dua orang untuk mendaki Gunung Emei. Jalan gunung curam dan berbahaya, membuat para tukang usung tandu bercucuran keringat.

Sebagai seorang filsuf, Russell bukannya menikmati pemandangan, melainkan sibuk merenung:  “Para tukang usung ini pasti membenci kami yang duduk di tandu. Dengan cuaca sepanas ini, mereka masih harus memanggul kami naik gunung. Mungkin mereka juga bertanya-tanya, mengapa nasib mereka harus menjadi pengusung, bukannya penumpang?”

Namun, ketika sampai di sebuah dataran kecil di tengah perjalanan, rombongan berhenti untuk beristirahat. Russell turun dari tandu dan dengan penuh perhatian memperhatikan para tukang usung.

Apa yang dia lihat justru mengejutkannya. Para pengusung itu duduk santai berderet, mengeluarkan pipa tembakau, sambil bercanda, tertawa, dan bercerita riang tentang keluarga dan kampung halaman mereka. 

Mereka bahkan dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Russell tentang negeri asing, dan sesekali melontarkan lelucon yang mengundang tawa. Tak tampak sedikit pun kebencian, keluhan, atau rasa getir terhadap pekerjaan dan nasib mereka.

Russell kemudian menuliskan pengalaman ini dalam esainya “Karakter Orang Tionghoa”. 

Dari situ ia menarik kesimpulan penting: Melihat kebahagiaan orang lain dengan kacamata kita sendiri adalah sebuah kesalahan.

Shakespeare pernah menggunakan perumpamaan indah: hidup kita bagaikan sebuah taman, dan kehendak kitalah sang tukang kebun. Apakah taman itu dipenuhi bunga indah, hanya ditanami satu pohon, atau bahkan dibiarkan terbengkalai, semua tergantung pada diri kita sendiri. Artinya, bila kita menghendaki kebahagiaan, maka kita sendirilah yang bisa menciptakannya.

Kebahagiaan tidak bergantung pada keadaan luar, melainkan pada sikap hati.

·        Saat sukses, nikmatilah kesuksesan.

·        Saat terpuruk, tetaplah bahagia demi harapan masa depan.

Pelajaran Hidup

Tidak selalu orang yang duduk di tandu adalah yang paling bahagia, dan tidak selalu orang yang memanggul tandu adalah yang paling menderita.

Kebahagiaan ada di dalam hati, bukan di luar diri.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine