EtIndonesia. Surat undangan wawancara dari Perusahaan Ruide bagaikan seberkas cahaya yang menerangi hati Clifford yang gelisah namun penuh harapan.
Di hari wawancara, Clifford menyiapkan dirinya dengan sangat rapi. Dia menyisir rambutnya dengan teliti, memakai pakaian terbaik, lalu mengenakan dasi baru sebagai tanda doa keberuntungan. Tepat pukul 10 pagi, dia melangkah masuk ke ruang HRD Perusahaan Ruide.
Setelah sekretaris menyampaikan ke manajer, Clifford menarik napas dalam-dalam, menggenggam tas kerjanya, lalu mengetuk pintu kantor manajer dengan pelan—dua kali.
“Apakah Anda Tuan Clifford?” terdengar suara dari dalam.
“Selamat pagi, Pak Manajer. Saya Clifford,” jawabnya sambil perlahan membuka pintu.
Namun manajer berkata dengan nada tenang: “Maaf, Tuan Clifford, bisakah Anda mengetuk sekali lagi?”
Clifford agak heran, tapi tidak banyak berpikir. Dia menutup kembali pintu, mengetuk dua kali, lalu masuk.
“Tidak, tidak. Kali ini tidak sebaik yang pertama. Bisa Anda ulangi lagi?” kata manajer dengan tatapan dingin.
Clifford kembali keluar, mengetuk pintu, dan masuk lagi.
“Pak, apakah kali ini sudah tepat?”
“Cara Anda bicara kurang baik—” sahut manajer.
Clifford mencoba lagi: “Saya Clifford, senang sekali bisa bertemu dengan Anda, Pak Manajer.”
“Jangan begitu,” manajer tetap berkata datar. “Coba sekali lagi.”
Clifford pun berganti cara: “Mohon maaf, saya mengganggu pekerjaan Anda.”
Manajer tersenyum tipis: “Hampir, kalau Anda bisa ulang sekali lagi akan lebih baik.”
Begitu seterusnya. Sampai Clifford sudah sepuluh kali keluar masuk, namun tetap ditolak. Rasa bahagia dan antusias yang semula dia bawa telah sirna. Yang tersisa hanyalah rasa jengkel. Dalam hati dia bergumam, masuk ruangan dan menyapa, memangnya harus serumit ini? Ini bukan wawancara, tapi jelas-jelas mempermainkan orang!
Kesal, Clifford berbalik hendak pergi. Namun baru beberapa langkah, dia terhenti. Tidak! Aku tidak bisa kabur begitu saja. Sekalipun Perusahaan Ruide tidak berniat menerimaku, aku harus mendengar penolakan itu langsung dari mereka.
Dia menarik napas panjang, menenangkan diri, lalu untuk ke-11 kalinya mengetuk pintu. Kali ini, yang menyambutnya bukan lagi kritik, melainkan tepuk tangan meriah penuh sambutan hangat. Clifford sama sekali tak menyangka, ketukan ke-11 justru membuka pintu kesuksesan.
Ternyata, Perusahaan Ruide sedang mencari seorang peneliti pasar (market researcher). Syaratnya bukan hanya pengetahuan dan kecerdasan, tetapi juga kesabaran, ketekunan, dan ketahanan mental. Rangkaian “tes mengetuk pintu” itu memang sengaja dirancang untuk menguji kualitas psikologis kandidat.
Pelajaran Hidup
Dalam hidup, kita sering menghadapi tuntutan yang keras dan situasi yang membuat kita tidak nyaman. Namun, jika kita mampu menghadapinya dengan kesabaran untuk melunakkan, keteguhan untuk bertahan, dan akal sehat untuk menerima, mungkin justru di situlah terbentang jalan menuju keberhasilan.


