Pada 4 Oktober 2025, hampir seribu wisatawan terjebak di kamp sisi timur Gunung Everest di Tibet akibat badai salju mendadak yang membuat mereka tak dapat turun gunung. Beberapa saksi mata menceritakan pengalaman mengerikan tersebut dan masih merasa trauma. Ada yang mengatakan bahwa bertahan semalam di tengah badai salju dan sambaran petir itu bisa dibilang seperti “lolos dari maut”. Seorang lainnya berkata, bahkan jaket anti-air tebal pun tak mampu menahan dingin — seluruh tubuh membeku, sangat menakutkan.
EtIndonesia. Pada 4–5 Oktober, sisi timur Everest dilanda badai salju besar, menyebabkan lebih dari seribu orang terjebak di sepanjang jalur pendakian. Pada 4 Oktober malam, banyak netizen mengirim pesan minta tolong:
“Badai salju merobohkan banyak tenda,”
“Tumpukan salju terlalu dalam, yak tidak bisa berjalan,”
“Beberapa orang mengalami hipotermia.”
Pada 6 Oktober, seorang wisatawan bermarga Dong mengatakan kepada Xiaoxiang Morning News bahwa rombongannya yang berjumlah belasan orang mulai mendaki pada 4 Oktober. Sekitar tengah hari hujan mulai turun, lalu berubah menjadi salju yang makin lama makin deras.
Saat malam tiba, cuaca memburuk drastis — antara pukul 03.00 hingga 05.00 dini hari hujan turun sangat lebat. Mereka tidak bisa tidur di dalam tenda dan harus terus menyapu salju yang menumpuk di atasnya. “Angin konvektif sangat kuat, saljunya luar biasa deras, dan banyak kilat menyambar di sekitar,” ujarnya.
Dong menggambarkan bahwa ini adalah cuaca terburuk yang pernah ia alami selama bertahun-tahun melakukan pendakian. “Bisa bertahan hidup malam itu benar-benar seperti keluar dari maut,” katanya.
Banyak wisatawan terjebak di lembah Gama (嘎瑪溝) di Kecamatan Qudang, Kabupaten Dingri, di sisi timur Everest. Lembah ini memiliki ketinggian antara 2.100 hingga lebih dari 5.000 meter. Satu-satunya sarana transportasi adalah yak dan kuda. Biasanya, perjalanan menyusuri dan kembali dari Gama memakan waktu sekitar 10 hari. Jalur ini dikenal sebagai salah satu dari “10 rute trekking klasik terbaik di dunia”.
Menurut laporan National Business Daily, selama liburan “Pekan Emas 1 Oktober” tahun ini, lembah Gama dipenuhi banyak kelompok pendaki. Pada 4 Oktober, fotografer Dong Shuchang, yang sudah beberapa kali mendaki di kawasan Everest, mengatakan, “Kami saja bertemu tiga tim pendaki. Di lembah Gama kemungkinan ada beberapa ratus orang. Hampir semua area perkemahan penuh.”
Dong Shuchang menceritakan, saat mendaki sekitar 1.000 meter dan mencapai perkemahan pertama di jalur timur — Xiaowucuo — badai salju tiba-tiba datang. “Tidak menyangka akan sebesar itu. Jauh melebihi perkiraan, sangat menakutkan.”
Ia menjelaskan bahwa hujan es bercampur salju membasahi seluruh tubuh. “Meski memakai jas hujan, jaket gunung keras (hard shell), dan celana pendakian, tetap tidak bisa menahan dingin. Seluruh tubuh basah, dan jaket luar membeku menjadi lapisan es.” Ia menambahkan, “Yang paling saya khawatirkan adalah hipotermia, karena di alam terbuka itu bisa sangat berbahaya dan mengancam jiwa.”
Seorang petugas pengatur kendaraan di kawasan wisata Everest bernama Yixi mengatakan bahwa ketebalan salju di basecamp telah mencapai lebih dari 50 cm, dan di lembah Gama bahkan lebih tebal. Jalur trekking seluruhnya tertutup salju, sinyal ponsel terputus, komunikasi hanya mengandalkan radio, dan kendaraan hanya bisa mencapai dasar lembah.
Pada siang hari tanggal 5 Oktober, Dong Shuchang dan timnya berhasil mengikuti pemandu untuk turun sendiri hingga tiba di Kecamatan Qudang. “Di sana sinyal sangat buruk, bahkan listrik mati, hanya mengandalkan genset,” ujarnya.
Seorang pemandu gunung bernama Xiaoming mengatakan bahwa ia memimpin lima orang mulai dari Desa Youpa pada 29 September untuk mendaki jalur sisi timur Everest. Pada 2 Oktober pagi, ketika mencapai ketinggian 4.550 meter di daerah Tangxiang, salju mulai turun deras dan jalan menjadi licin. Ia segera memutuskan untuk membatalkan pendakian ke basecamp Everest dan kembali melalui jalur kecil.
“Kalau dipikir sekarang masih ngeri. Untung kami memutuskan turun lebih awal, pada 4 Oktober sudah keluar dari gunung. Kalau tetap lanjut naik, akibatnya tidak terbayangkan,” kata Xiaoming. Ia baru bisa mendapatkan mobil jemputan pada 5 Oktober pukul 20.00 dan tiba di hotel di Xigazê (日喀则) sekitar 6 Oktober pukul 02.00 dini hari. (Hui/asr)


