EtIndonesia. Ketika Hans Christian Andersen masih kecil, ayahnya — seorang tukang sepatu miskin — meninggal dunia, meninggalkan dirinya dan sang ibu hidup dalam kemiskinan.
Suatu hari, Andersen kecil bersama beberapa anak lainnya diundang ke istana kerajaan untuk bertemu pangeran dan memohon sedikit hadiah.
Dengan penuh harapan, dia menyanyi dan membaca naskah drama yang dia hafal, berharap penampilannya bisa membuat sang pangeran terkesan.
Setelah dia selesai, sang pangeran tersenyum ramah dan bertanya:“Anak kecil, adakah sesuatu yang bisa aku bantu untukmu?”
Andersen menjawab dengan penuh percaya diri:“Saya ingin menulis naskah drama dan menampilkannya di Teater Kerajaan.”
Pangeran menatap anak laki-laki itu dari ujung kepala hingga kaki — seorang bocah dengan hidung besar seperti badut dan sepasang mata sendu, lalu berkata lembut namun tegas:“Menghafal naskah itu satu hal, Nak, tapi menulisnya adalah hal lain. Saran saya, belajarlah keterampilan yang berguna untuk hidupmu.”
Mengejar Mimpi Tanpa Menoleh ke Belakang
Namun, bocah miskin itu tidak menyerah. Sekembalinya ke rumah, dia tidak pergi belajar keterampilan seperti yang disarankan, melainkan memecahkan celengan satu-satunya yang dia miliki.
Dia berpamitan pada ibunya dan berangkat ke Kopenhagen — berbekal tekad dan mimpi besar untuk menjadi seorang penulis.
Di kota besar itu, Andersen hidup mengembara. Dia mengetuk pintu rumah-rumah para bangsawan satu per satu, namun tak seorang pun peduli padanya.
Dia tidak menyerah. Dia terus menulis — puisi epik, kisah cinta, dan naskah drama — meski semuanya tidak mendapat perhatian dan sering ditolak. Da memang sedih, tapi tak pernah berhenti menulis.
Buah dari Ketekunan
Akhirnya, pada tahun 1825, secara kebetulan Andersen menulis beberapa cerita anak-anak — dan tanpa dia duga, cerita-cerita itu disambut dengan luar biasa.
Anak-anak menyukainya, para pembaca menunggu karya barunya dengan antusias. Saat itu, usia Andersen baru 30 tahun.
Sejak itu, kisah-kisah dongeng karyanya seperti :
“Pakaian Baru Sang Raja” (The Emperor’s New Clothes) dan“Itik Buruk Rupa” (The Ugly Duckling) menjadi warisan abadi yang menemani jutaan anak di seluruh dunia tumbuh dengan imajinasi, harapan, dan keberanian.
Pesan Kehidupan
Andersen pernah membuktikan bahwa mimpi tidak mengenal nasib atau asal-usul. Miskin, ditolak, direndahkan — semua itu tak mampu menghentikan langkahnya.
Bagi kamu yang cerdas dan berjiwa kuat:
Tak peduli seberapa keras hidup menekanmu, jangan pernah tunduk — tetaplah bertahan.
Seperti kaktus yang tumbuh di tanah kering dan gersang, meski keras dan penuh duri, ia tetap berdiri tegak dan pada waktunya — mekar bersemi dengan bunga yang indah. (jhn/yn)


