Kontroversi Pendidikan yang Mempermalukan Rasa Bersalah, Sekolah  di Henan, Tiongkok Memaksa Ortu Berlutut dan Siswa Bergantian Menginjak-injak Mereka

Sebuah video yang beredar baru-baru ini memperlihatkan sebuah sekolah menengah di Henan, Tiongkok, yang menyelenggarakan kegiatan bernama “pendidikan rasa bersalah”, di mana para orang tua diminta berlutut dan membentuk “jembatan manusia” sementara para siswa dengan mata tertutup berjalan menginjak punggung orang tua mereka satu per satu. Aksi ini memicu gelombang kemarahan dan kritik luas di media sosial.

EtIndonesia. Pada 6 Oktober 2025, video yang beredar di internet menunjukkan puluhan orang tua berlutut di lantai sebuah aula besar, menundukkan badan hingga membentuk “jembatan manusia”. Para siswa, dengan mata tertutup, berjalan di atas punggung orang tua mereka satu per satu, sementara terdengar suara seseorang berkata, “Jalanlah! Jalanlah!”

Menurut warganet yang mengetahui kejadian tersebut, insiden ini terjadi di Sekolah Menengah Atas Ketiga Kabupaten Zhongmou, Kota Zhengzhou, Provinsi Henan, dan merupakan bagian dari program “pendidikan rasa bersalah” yang diselenggarakan oleh pihak sekolah.

“Pemimpin sekolah yang mengatur kegiatan ini bernama Hu Jinbiao. Saya adalah alumni angkatan 2024. Saat kelas dua SMA, kami juga pernah mengikuti kegiatan semacam ini, tetapi waktu itu kami diminta berjalan di atas punggung teman laki-laki sekelas,” ujar seorang siswa dari sekolah itu.

“Banyak siswa tidak setuju, jadi beberapa dari kami berdiri di samping agar teman yang dilewati bisa cepat lewat tanpa benar-benar diinjak. Setelah semua siswa ‘menyeberang jembatan’, pihak sekolah bahkan menunjukkan punggung beberapa siswa laki-laki yang memerah akibat diinjak,” tambahnya. 

Seorang warganet lain yang mengaku sebagai siswa di sekolah tersebut mengatakan: “Yang paling parah adalah, para siswa tidak tahu bahwa orang di bawah mereka adalah orang tua sendiri, karena mereka semua ditutup matanya. Ada seorang siswi yang setelah melepas penutup mata baru menyadari bahwa orang yang diinjaknya adalah ayah dan ibunya — dia langsung menangis.”

Sejumlah alumni juga mengkonfirmasi bahwa kegiatan serupa sudah pernah diadakan pada angkatan-angkatan sebelumnya, meskipun dalam skala yang lebih kecil: “Benar, dulu juga pernah ada kegiatan seperti ini, tapi waktu itu yang berbaring di lantai adalah siswa, bukan orang tua.”

Seorang orang tua peserta mengatakan bahwa pihak sekolah tidak memberitahukan sebelumnya bahwa mereka harus berlutut, dan sesampainya di lokasi mereka terpaksa ikut demi ‘tidak mempermalukan anaknya’.

Setelah video tersebut tersebar luas, banyak netizen mengecam keras kegiatan ini:

“Apakah ini ide manusia normal? Baik siswa maupun pihak sekolah sama sekali tidak memahami arti pendidikan. Bukankah seharusnya memberi teladan, bukan penghinaan?”
“Inti dari pendidikan adalah kesetaraan dan bimbingan. Metode ekstrim seperti ini tidak menanamkan rasa syukur, justru menunjukkan ketidak-hormatan terhadap hubungan keluarga.”

 “Bagaimana kalau ada orang tua yang cedera karena diinjak? Siapa yang bertanggung jawab? Anak menginjak orang tua — ide macam apa ini? Pendidikan bukan pertunjukan, martabat manusia tidak boleh diinjak!”

Komentar lain menambahkan: “Kalimat ‘jalanlah’ yang terdengar di video terasa sangat aneh, seperti adegan film horor. Dan yang paling gila, siswa bahkan tidak tahu bahwa yang mereka injak adalah orang tua mereka!”
“Benar-benar tidak masuk akal! Apakah sekolah ini kerasukan?”
“Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan para pendidik ini, sampai bisa memikirkan ide seburuk itu.”

Banyak komentar juga menyoroti bahwa pendidikan semacam ini menyalahi prinsip dasar penghormatan dan kemanusiaan, dengan menyebut:

“Cara seperti ini tidak hanya merendahkan martabat manusia, tapi juga merusak makna sejati dari pendidikan rasa syukur dan pertumbuhan moral. Ini menyakiti perasaan dan harga diri baik orang tua maupun anak.”

“Apa inti dari pendidikan? Bukankah seharusnya mengajarkan rasa hormat dan memberi bimbingan? Bagaimana mungkin rasa bersalah bisa diajarkan dengan cara ekstrem seperti ini? Ini bisa menimbulkan trauma psikologis bagi siswa.”

Pada 6 Oktober, Dinas Pendidikan Kabupaten Zhongmou menanggapi bahwa mereka telah menerima laporan keluhan dari siswa dan telah menyampaikannya kepada pimpinan, namun belum memulai penyelidikan resmi dan belum mengumumkan tindakan terhadap guru yang terlibat atau kompensasi bagi orangtua.

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine