Tak Ada Derajat (Tinggi-Rendah) dalam Kehidupan

EtIndonesia. Seorang pria yang dikenal berbudi luhur selalu merasa gelisah karena dia tinggal di kawasan Timur Kota. Dia adalah sosok yang santun dan berperilaku teratur — hidupnya penuh kedisiplinan dan kesopanan.

Namun, orang-orang di lingkungan tempat tinggalnya bersikap bebas, kasar, dan cenderung semaunya sendiri. Dia terbiasa hidup sederhana dan menahan diri, sedangkan mereka menikmati hidup secara berlebihan.

Dia menuntut dirinya untuk selalu bersih dan bermoral tinggi, sementara warga di sekitarnya tampak acuh terhadap nilai-nilai itu — mereka berpikir praktis, cenderung berorientasi pada keuntungan.

Semakin lama, batinnya penuh kegelisahan. Akhirnya, dia datang kepada orang bijak, meminta saran apakah dia sebaiknya pindah tempat tinggal atau melakukan sesuatu yang lain.

Pelajaran dari Lembah dan Burung

Orang bijak itu mendengarkan dengan tenang. Beberapa saat terdiam, dia tidak menjawab sepatah kata pun, melainkan mengajak pria itu pergi ke sebuah lembah yang indah.

Lembah itu penuh udara segar dan pemandangan menakjubkan. Ribuan burung gagak beterbangan, berceloteh, bermain, dan hinggap di pepohonan. Suasana terasa harmonis dan damai, meski penuh suara gaduh khas alam liar.

Namun, menjelang senja, datang seekor elang besar. Dengan sombong, elang itu menyerobot wilayah para gagak, menukik ke sana kemari sambil mencakar dan mematuk mereka.

Ketenangan lembah pun lenyap. Para gagak yang tadinya damai kini panik dan ketakutan, beterbangan ke segala arah. Setelah puas mengacaukan keadaan, elang itu pun terbang pergi dengan sikap angkuh dan merasa lebih tinggi dari para gagak.

Kebijaksanaan Sang Guru

Melihat semua itu, sang bijak perlahan berkata: “Elang itu mengira, hidup bersama para gagak adalah suatu kehinaan,  namun dia tak tahu — bahwa para gagak juga tidak suka berada bersamanya. Dalam kehidupan, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Yang berbeda hanyalah cara hidup masing-masing.”

Dia menatap pria itu dengan lembut dan melanjutkan: “Kamu tidak seharusnya membenci orang-orang di kawasan timur kota.  Sebaliknya, kamu harus berterima kasih,  karena mereka masih mau menerima seseorang yang begitu berbeda dengan mereka.

Kamu merasa hidup di sana adalah sebuah ‘aib’, padahal bagi mereka, cara hidupmu yang penuh aturan dan moralitas itu justru terasa seperti gangguan —  sama seperti elang yang datang mengacaukan kedamaian para gagak.”

Kesadaran yang Menyentuh

Mendengar itu, pria berbudi luhur itu tertegun dan merasa sangat malu. Dia baru menyadari bahwa selama ini dirinya menganggap diri lebih tinggi dari orang lain, padahal kenyataannya — dia justru hidup berkat penerimaan orang-orang yang dia pandang rendah.

Orang-orang yang selama ini ingin dia jauhi, ternyata adalah harta paling berharga dalam hidupnya, karena merekalah yang menguji dan memperkaya makna kemanusiaannya.

Makna Cerita

Dalam kehidupan ini, tidak ada makhluk yang lebih mulia dari yang lain —  hanya ada perbedaan dalam cara hidup, nilai, dan kebiasaan.

Belajarlah untuk menghormati perbedaan, karena sering kali, yang kita anggap “rendah” justru menjadi cermin yang memperhalus jiwa kita. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine