“Bukan merasa bahagia, tapi saya merasa pekerjaan berat baru dimulai,” kata Sanae Takaichi, 64 tahun, dalam pidato kemenangannya.
EtIndonesia. Sanae Takaichi terpilih pada akhir pekan lalu sebagai pemimpin baru Partai Demokrat Liberal (LDP) Jepang yang berhaluan tengah-kanan, dan diperkirakan akan menjadi perdana menteri perempuan pertama di negara itu.
“Bukan merasa bahagia, tapi saya merasa pekerjaan berat baru dimulai,” ujar Takaichi, 64 tahun, dalam pidato kemenangannya.
Mantan menteri keamanan ekonomi dan menteri dalam negeri ini kerap mengatakan bahwa inspirasinya adalah Margaret Thatcher — perdana menteri Inggris dari tahun 1979 hingga 1990 — yang namanya diabadikan dalam ideologi politik dan ekonomi yang dikenal sebagai Thatcherisme.
Takaichi mengatakan bahwa ia pernah bertemu dengan Thatcher—yang dijuluki “Iron Lady” oleh pers Inggris—dalam sebuah simposium tak lama sebelum Thatcher wafat pada 2013.
Latar Belakang
Takaichi lahir di kota Nara, dekat Osaka, di wilayah Kansai yang secara ekonomi penting di pulau utama Jepang, Honshu, pada tahun 1961, ketika ekonomi Jepang mulai bangkit setelah kehancuran Perang Dunia II.
Ayahnya bekerja di industri otomotif, sementara ibunya adalah seorang polisi di Nara.
Ia lulus dari Universitas Kobe dengan gelar manajemen bisnis, lalu pada tahun 1984 masuk ke Matsushita Institute of Government and Management, lembaga yang didirikan oleh pendiri Panasonic Corp. untuk “mengembangkan para pemimpin masa depan.”
Pada Desember 1987, ia menjadi congressional fellow di Kongres Amerika Serikat selama dua tahun, sebelum mengajar di Nihon Junior College of Economics.
Takaichi memulai karier politiknya pada 1993 dengan memenangkan kursi di majelis rendah sebagai calon independen. Ia sempat bergabung dengan Partai New Frontier yang kini sudah bubar, sebelum pindah ke LDP pada 1996.
Takaichi memperoleh jabatan menteri junior pertamanya pada 1998, meskipun kariernya tidak langsung melejit dengan cepat.
Pada 2006, ketika Shinzo Abe menjadi perdana menteri, ia mengangkat Takaichi sebagai Menteri Negara untuk Kebijakan Sains dan Teknologi, dan delapan tahun kemudian menunjuknya sebagai Menteri Dalam Negeri dan Komunikasi.
Ia juga memegang berbagai posisi penting di LDP, termasuk sebagai ketua dewan riset kebijakan partai.
Setelah Abe mengundurkan diri pada 2020, karier Takaichi tetap bersinar, dan pada 2022 ia diangkat menjadi Menteri Keamanan Ekonomi di bawah Perdana Menteri Fumio Kishida.
Upaya Merebut Kepemimpinan
Ambisinya bukan rahasia lagi. Ia pernah mencalonkan diri sebagai pemimpin LDP pada 2021 dan kembali pada 2024.
Tahun lalu, ia memimpin di putaran pertama pemilihan, namun setelah Shinjiro Koizumi tersingkir, sebagian besar pendukung Koizumi beralih mendukung Shigeru Ishiba, yang akhirnya terpilih.
Kali ini, Takaichi mempertahankan keunggulannya di putaran pertama dan mengalahkan Koizumi untuk menjadi pemimpin partai.
Takaichi tetap menjadi pengikut setia Abenomics—kebijakan stimulus ekonomi yang digagas oleh mentornya, Shinzo Abe, yang dibunuh pada 2022.
Ia menyerukan pemotongan pajak untuk membantu masyarakat menghadapi kenaikan biaya hidup, dan mengkritik Bank of Japan karena menaikkan suku bunga.
Dalam hal ini, ia mungkin memiliki banyak kesamaan dengan Presiden AS Donald Trump, yang dijadwalkan berkunjung ke Jepang pada akhir bulan ini.
Takaichi termasuk dalam sayap kanan LDP dan kerap mengambil posisi nasionalis yang dikritik oleh Tiongkok, Korea Selatan, dan negara lain.
Ia rutin mengunjungi Kuil Yasukuni di Tokyo, yang menurut kepercayaan Shinto merupakan tempat bersemayamnya kami atau arwah 2,5 juta orang yang gugur demi Jepang dalam perang—termasuk beberapa penjahat perang yang dieksekusi.
Kunjungan semacam itu sering dianggap oleh negara-negara Asia lain sebagai upaya mengagungkan masa lalu militeris Jepang.
Takaichi juga mendukung revisi konstitusi Jepang—yang disusun setelah perang—dan memperkuat militer Tokyo untuk menghadapi ancaman dari Tiongkok dan Korea Utara.
Aliansi dengan Taiwan
Ia pernah mengusulkan agar Jepang membentuk “aliansi keamanan semu” dengan Taiwan.
Dalam pidatonya bulan lalu, Takaichi juga menyinggung soal wisatawan asing yang menendang rusa suci di Taman Nara, menyentuh isu perilaku buruk turis yang kini menjadi perhatian politik, bersamaan dengan kekhawatiran publik terhadap meningkatnya imigrasi.
Takaichi menikah dengan Taku Yamamoto, sesama anggota parlemen LDP, pada 2004, dan secara resmi mengadopsi tiga anaknya.
Pasangan itu bercerai pada 2017 namun menikah lagi empat tahun kemudian. Suaminya mengalami stroke awal tahun ini.
Laporan ini berkontribusi dari Associated Press dan Reuters


