EtIndonesia. Ketika Mr. Parklin (Transliterasi-red) baru membuka kantor hukum kecilnya di Amerika Serikat, hidupnya penuh kesulitan. Bahkan untuk membeli satu mesin fotokopi saja dia tak mampu.
Saat itu gelombang besar imigran terus berdatangan ke Amerika, dan Parklin banyak menangani kasus-kasus imigrasi. Sering kali dia dipanggil tengah malam ke kantor imigrasi untuk menjemput klien yang ditahan, dan tak jarang harus berurusan dengan pihak hukum maupun orang-orang dunia hitam demi membantu mereka.
Dia mengendarai mobil Honda tua yang catnya sudah mengelupas, berkeliling dari satu kota kecil ke kota lain, menjalani profesinya sebagai pengacara dengan penuh kerja keras dan ketekunan.
Tahun demi tahun berlalu. Akhirnya, usaha kerasnya membuahkan hasil — telepon kantornya kini memiliki empat saluran, ruang kerjanya diperluas, dia mempekerjakan sekretaris pribadi dan staf hukum, dan mulai mengendarai mobil Mercedes-Benz. Klien berdatangan, kehormatan datang dari segala arah — hidupnya tampak makmur dan terhormat.
Kehancuran yang Datang Seketika
Namun, hidup tidak selalu berjalan mulus.
Pepatah benar: “Langit tak selalu cerah, dan pikiran manusia pun bisa keliru.”
Karena satu keputusan investasi yang salah, Parklin menanamkan seluruh asetnya ke pasar saham — dan nyaris kehilangan segalanya.
Belum cukup sampai di situ, pada pergantian tahun, undang-undang imigrasi Amerika kembali diubah. Kuota untuk imigran profesional dikurangi drastis, dan dalam sekejap, kantornya yang dulu ramai kini sepi pengunjung.
Dia tidak pernah menyangka, bahwa dari puncak kesuksesan hingga ke ambang kehancuran, jaraknya bisa hanya satu malam saja.
Sebuah Surat Tak Terduga
Dalam masa keterpurukannya, suatu hari Parklin menerima sebuah surat. Surat itu ditulis oleh seorang presiden direktur perusahaan besar, yang menyatakan kesediaan untuk memberikan 30% saham perusahaan kepadanya, dan bahkan menunjuknya sebagai penasihat hukum tetap (lifetime legal representative) untuk perusahaan itu dan dua cabangnya.
Dia terkejut dan tak percaya. Dia tak mengenal orang itu. Apa mungkin ini benar?
Dengan rasa ingin tahu bercampur haru, dia pergi menemui sang direktur — seorang pria keturunan Polandia, berusia sekitar empat puluhan.
Begitu bertemu, sang direktur tersenyum dan bertanya: “Masih ingat saya?”
Parklin menggeleng.
Pria itu kemudian mengambil sesuatu dari laci mejanya — sebuah wesel lima dolar yang sudah lusuh, diapit oleh kartu nama lama bertuliskan alamat dan nomor telepon kantor hukum Parklin.
Parklin memandangnya dengan bingung. Pria itu kemudian mulai bercerita…
“Sepuluh tahun yang lalu, saya sedang mengantre di kantor imigrasi untuk mengurus kartu kerja. Saat tiba giliran saya, kantor hampir tutup. Ternyata biaya pembuatan kartu naik lima dolar, dan mereka tidak menerima cek pribadi. Saya juga tidak membawa uang tunai tambahan.
Jika hari itu saya tidak mendapatkan kartu kerja, perusahaan tempat saya melamar akan mempekerjakan orang lain. Saat itulah Anda — berdiri di belakang saya — menyodorkan uang lima dolar tanpa ragu. Saya ingin mengembalikannya dan meminta alamat Anda, lalu Anda memberikan kartu nama ini.”
Parklin perlahan mulai teringat peristiwa itu, tapi tetap heran, lalu bertanya: “Lalu, apa yang terjadi setelah itu?”
Pria itu tersenyum: “Setelah hari itu, saya diterima bekerja di perusahaan ini. Tak lama kemudian, saya menciptakan dua paten penting, dan karier saya mulai menanjak.
Sejak hari pertama saya bekerja, saya sebenarnya ingin mengirimkan wesel ini kepada Anda, tapi saya menahannya. Karena lima dolar itu mengubah cara pandang saya terhadap hidup.
Sebagai imigran yang datang ke negeri asing sendirian, saya mengalami banyak penolakan dan kesulitan. Tapi kebaikan kecil Anda hari itu membuat saya sadar — bahwa dunia ini masih memiliki kehangatan, dan saya harus menjadi orang yang menghargainya.”
Kebaikan yang Kembali dengan Berlipat Ganda
Lima dolar — jumlah kecil yang nyaris tak berarti. Namun dalam kisah ini, uang itu mengubah nasib dua orang sekaligus.
Satu orang memperoleh pekerjaan dan masa depan, yang lain — di saat paling sulit — mendapatkan balasan kebaikan yang tak ternilai.
Roda hidup selalu berputar, setiap kebaikan kecil yang kita tabur, suatu hari bisa kembali kepada kita —dalam bentuk yang sama sekali tak terduga. (jhn/yn)


