Pemilik Jutaan Mobil Energi Baru di Tiongkok Bingung Akibat Kendaraan Terbengkalai karena Masalah Jaringan dan Kekurangan Suku Cadang

Dalam beberapa tahun terakhir, pasar mobil energi baru (New Energy) di Tiongkok mengalami persaingan yang sangat ketat. Banyak perusahaan otomotif energi baru (EV) gulung tikar akibat persaingan tersebut. Akibatnya, mobil-mobil yang sudah dijual dari merek-merek yang bangkrut kini menghadapi berbagai masalah — sistem jaringan mobil terputus, pembaruan perangkat lunak berhenti, kekurangan suku cadang, dan kesulitan memperpanjang asuransi — membuat para pemilik mobil “gagal proyek” menjadi  frustasi.

EtIndonesia. Belakangan ini, di berbagai platform media sosial Tiongkok, banyak pemilik mobil energi baru mengeluhkan kondisi mereka. Setelah produsen mobil yang mereka beli bangkrut, layanan purna jual merek tersebut berhenti satu per satu, menyebabkan berbagai kesulitan dan kerepotan. Keluhan mereka pun menarik perhatian media.

Menurut laporan China Automobile News pada 8 Oktober, dalam sepuluh tahun terakhir sudah ada ratusan perusahaan mobil energi baru yang bangkrut, melibatkan jutaan pemilik mobil. “Mobil-mobil pintar yang dulu begitu diharapkan kini berubah menjadi mobil ‘gagal proyek’ tanpa garansi dan sulit diperbaiki,” tulis laporan itu.

Salah satu contoh besar adalah kebangkrutan Nezha Auto, yang sebelumnya merupakan juara penjualan mobil listrik baru. Hampir 500.000 pemilik mobil Nezha kini terdampak berat. 

Baru-baru ini, para pemilik menerima pesan massal dari perusahaan induk Nezha, Hozon Auto, yang memberi tahu bahwa karena Lenovo menolak menjalankan perjanjian layanan jaringan mobil, maka layanan data mobil mereka akan dihentikan. Para pemilik diminta membeli kuota data sendiri melalui akun resmi WeChat milik Lenovo.

Seorang pemilik mobil di Beijing, bernama Tuan Guo, mengatakan kepada media bahwa ia dulu membeli mobil WM Motor karena tertarik dengan promosi pembukaan dealer baru. Awalnya ia merasa mendapatkan “mobil unggulan tersembunyi”, tetapi sejak 2022 layanan purna jual mulai runtuh. Paket garansi tambahan yang ia beli seharga lebih dari 5.000 yuan (Rp11,25 juta) untuk 8 tahun/200.000 km menjadi tidak berlaku, dan ketika mobilnya rusak, bengkel mengatakan suku cadangnya “tidak tersedia, tunggu pemberitahuan”. Penantian tersebut kini sudah lebih dari setengah tahun tanpa hasil.

Guo menambahkan, melihat gelombang kebangkrutan di industri mobil listrik saat ini, ia sudah mengambil pelajaran: “Kalau nanti ganti mobil, saya tidak akan berani beli merek kecil lagi.”

Di Shandong, seorang pengusaha bernama Han Rongkai memiliki beberapa mobil energi baru, termasuk merek HiPhi dan Jiyue — keduanya kini bangkrut. Ia mengatakan bahwa sebelumnya produsen akan datang setiap kuartal untuk perawatan rutin, tetapi sekarang ia harus ke pusat layanan di Jinan sendiri. Beberapa voucher servis yang ia beli pun ada yang tidak lagi diakui, dan ia harus mengadu melalui telepon agar diterima.

Begitu sebuah perusahaan otomotif bangkrut, nilai produk mereka anjlok drastis. Baik mobil baru maupun bekas, harganya jatuh bebas.

Seorang pemilik di Jinan, Tuan Li, mengatakan pada 4 Oktober kepada media lokal Haibao News bahwa ia membeli mobil Jiyue tahun lalu dengan harga sekitar 200.000 yuan (Rp450 juta). Tidak lama setelah itu, perusahaan menghadapi kesulitan finansial dan harga mobilnya jatuh. Di pasar mobil bekas, mobilnya kini hanya dihargai maksimal 100.000 yuan — dan itu pun sulit laku.

Seorang pedagang mobil bekas di Jinan, Tuan Ma, mengungkapkan bahwa satu unit Nezha V Long Range di tokonya yang harga aslinya lebih dari 80.000 yuan (Rp 180 juta), kini hanya bisa dijual sekitar 30.000 yuan (Rp 67,5 juta). Di Chengdu, seorang staf perusahaan otomotif mengatakan kepada media bahwa mereka kini menjual mobil Jiyue baru hampir dengan harga setengahnya. Misalnya, model Jiyue 01 Long Range yang semula berharga 249.900 yuan kini dijual murah seharga 149.800 yuan.

Beberapa pemilik mobil bahkan menghadapi risiko yang lebih serius — layanan pembaruan perangkat lunak mobil bisa dihentikan kapan saja. 

Seorang pemilik bernama Sun Kai, yang memiliki mobil merek Nezha dan Jiyue, berkata: “Sekarang saya bahkan tidak berani ganti ponsel, takut aplikasi untuk mengendalikan mobil saya dihapus dan tidak bisa diunduh lagi. Soal pembaruan sistem, saya sudah tidak berharap lagi.”

Banyak pemilik juga mengeluhkan kesulitan memperpanjang asuransi. Seorang pemilik mobil Nezha bernama Nyonya Yu mengatakan bahwa perusahaan asuransi secara halus menolak memperpanjang polisnya. Setelah ditolak oleh beberapa perusahaan besar, ia akhirnya berhasil memperpanjang asuransi di perusahaan kecil yang kurang dikenal, tetapi nilai pertanggungannya anjlok drastis — dari 100.000 yuan tahun lalu menjadi hanya sekitar 40.000 yuan tahun ini.

Menanggapi jutaan pemilik mobil energi baru yang kini tidak punya tempat untuk menuntut garansi, pakar layanan purna jual mobil energi baru, Wang Ligang, mengatakan bahwa meskipun kebangkrutan perusahaan adalah bagian dari dinamika pasar, konsumen tidak seharusnya menanggung biayanya.

 “Layanan purna jual adalah faktor kunci bagi kelangsungan merek dan industri otomotif. Jika kepercayaan publik terus terkikis tanpa batas, yang dirugikan bukan hanya satu merek, tetapi seluruh industri mobil energi baru,” katanya. 

Laporan oleh Li Ming / Editor: Zheng Yu – NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine