EtIndonesia. Berbeda dengan situasi Timur Tengah yang tampak menuju perdamaian, ketegangan antara Rusia dan Ukraina justru menunjukkan arah sebaliknya. Pada Rabu (8/10/2025), Moskow menyatakan bahwa dorongan untuk mencapai kesepakatan damai dengan Ukraina telah hampir sepenuhnya hilang, serta memperingatkan bahwa jika Amerika Serikat mengirimkan rudal Tomahawk ke Ukraina, Rusia akan menembak jatuh rudal tersebut dan melakukan tindakan balasan.
Sementara itu, Uni Eropa sedang mempercepat rencana untuk menghentikan ketergantungan pada energi Rusia, yang diperkirakan akan sepenuhnya berlaku pada 2026.
Dengan meningkatnya ketegangan di medan perang, banyak pihak khawatir bahwa Eropa kini menghadapi krisis keamanan paling serius sejak berakhirnya Perang Dingin.
Moskow: “Motivasi perdamaian telah habis” — konflik berpotensi memburuk
Seorang pejabat tinggi Rusia menyatakan bahwa motivasi untuk mencapai perdamaian dengan Ukraina kini telah sirna. Pernyataan ini merupakan yang pertama sejak pertemuan puncak antara Vladimir Putin dan Donald Trump di Alaska pada Agustus lalu.
Pada hari yang sama, Duma Negara Rusia (parlemen Rusia) juga menyetujui usulan untuk menarik diri dari perjanjian bersejarah dengan AS mengenai pengelolaan plutonium tingkat senjata. Perjanjian itu sebelumnya mewajibkan kedua negara untuk memusnahkan masing-masing 34 ton plutonium militer, jumlah yang cukup untuk membuat 17.000 hulu ledak nuklir.
Selain itu, beberapa anggota parlemen senior Rusia memperingatkan bahwa jika AS benar-benar memberikan rudal jelajah Tomahawk kepada Ukraina, Moskow tidak hanya akan menembak jatuh rudal tersebut, tetapi juga akan membom lokasi peluncurannya dan melancarkan tindakan balasan terhadap Washington.
Para pengamat menilai, tanda-tanda ini menunjukkan bahwa perang Rusia-Ukraina berpotensi meningkat secara signifikan, sehingga prospek perdamaian tampak semakin suram. Namun, ada juga analisis yang menyebutkan bahwa Moskow mungkin hanya menggertak, mengingat Trump sebelumnya pernah menyebut Rusia sebagai “macan kertas.”
Putin Pamer Kemenangan Militer di Hari Ulang Tahunnya
Pada 7 Oktober, bertepatan dengan hari ulang tahunnya, Presiden Vladimir Putin bertemu dengan para petinggi militer Rusia dan menyombongkan keberhasilan pasukannya, dengan mengklaim bahwa pada tahun 2025 Rusia telah menguasai hampir 5.000 km² wilayah Ukraina.
Putin mengatakan: “Saat ini, Angkatan Bersenjata Rusia sepenuhnya memegang inisiatif strategis di medan perang.”
Kementerian Pertahanan Rusia juga melaporkan bahwa pasukan mereka merebut dua desa baru di garis depan Ukraina, dan kini sedang bergerak menuju dua kota penting di wilayah Donetsk — Siversk dan Kostyantynivka.
Ukraina Bertahan Sambil Menyerang Infrastruktur Energi Rusia
Di tengah serangan Rusia, pasukan Ukraina bertahan dengan gigih di garis depan, sambil melancarkan serangan drone terhadap infrastruktur energi Rusia untuk mengurangi pendapatan Moskow dalam membiayai perang.
Selama dua bulan terakhir, Ukraina telah melancarkan lebih dari 30 serangan. Menurut analis dari Kelompok Riset Energi Kpler, serangan-serangan itu “cukup efektif,” dengan hasil bahwa produksi kilang minyak Rusia turun sekitar 10%. Karena kekurangan sumber daya, Moskow baru-baru ini membatasi ekspor produk minyaknya.
Uni Eropa Selangkah Lebih Dekat Menghentikan Energi Rusia
Sementara itu, Uni Eropa mencapai kemajuan penting dalam rencana menghapus ketergantungan energi Rusia. Pada Rabu, hampir semua negara anggota menyetujui rancangan kebijakan tersebut, yang dijadwalkan akan disahkan pada 20 Oktober.
Jika disetujui oleh Parlemen Eropa, maka mulai 1 Januari 2026, Eropa akan secara bertahap menghentikan impor gas dan minyak Rusia. Kontrak jangka pendek akan dihentikan pada Juni 2025, sementara kontrak jangka panjang akan selambat-lambatnya berakhir pada Januari 2028. Langkah ini menjadi bagian dari tekanan ekonomi Eropa terhadap Rusia.
Eropa siaga menghadapi potensi meluasnya perang
Dengan meningkatnya ketegangan di Ukraina, negara-negara Eropa Timur juga bersiap menghadapi kemungkinan perang meluas. Lituania, yang berbatasan dengan Belarus, baru-baru ini mengadakan latihan evakuasi di ibu kota Vilnius.
Selain itu, Polandia dan negara-negara Baltik tengah menyusun rencana darurat untuk menghadapi skenario terburuk — jika perang merembet ke wilayah mereka, bagaimana cara melakukan tindakan pertahanan dan evakuasi yang efektif. (Hui/asr)
oleh Yi Jing, wartawan NTD Television.


