Oleh Evgenia Filimianova
Perayaan pecah di Israel dan Jalur Gaza setelah tercapainya kesepakatan tahap pertama dari rencana perdamaian Presiden Amerika Serikat Donald Trump antara Israel dan kelompok Hamas.
Dalam perundingan tidak langsung yang digelar di Mesir, kedua pihak pada 8 Oktober mencapai kesepakatan berdasarkan rencana perdamaian 20 poin Trump. Tahap pertama mencakup pembebasan seluruh sandera Israel yang tersisa dalam beberapa hari ke depan dengan imbalan pembebasan ratusan tahanan Palestina.
Gencatan senjata diperkirakan akan diberlakukan setelah Israel secara resmi meratifikasi kesepakatan tersebut pada 9 Oktober.
Kabar mengenai tercapainya kesepakatan ini disambut suka cita di kedua wilayah. Di Gaza, warga tumpah ke jalan-jalan Khan Yunis sambil bernyanyi, menari, dan bertepuk tangan. Sementara itu di Israel, keluarga para sandera menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Trump atas perannya dalam memediasi kesepakatan tersebut.
Pada 8 Oktober malam, sejumlah keluarga sandera melakukan panggilan telepon bersama Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick dan Presiden Trump.
Dalam video yang dibagikan Forum Keluarga Sandera dan Orang Hilang melalui platform X, seorang anggota keluarga terdengar mengatakan:
“Sejak Anda menjadi presiden—bahkan sebelum itu—kami percaya Anda akan menuntaskan misi ini sampai semua 48 sandera pulang. Terima kasih banyak. Diberkatilah para pembawa damai.”

Lutnick juga menyampaikan apresiasinya kepada Trump, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, utusan khusus Steve Witkoff, dan Jared Kushner—menantu Trump sekaligus mantan utusan Timur Tengah—atas upaya mereka dalam mencapai kesepakatan tersebut.
Rebecca Bohbot, istri dari sandera Elkana Bohbot, menulis pesan di X: “Saya kehabisan kata-kata—hanya air mata kebahagiaan. Hati saya dipenuhi rasa syukur karena mereka akan segera pulang. Terima kasih telah mewujudkannya. Saya berdoa agar semua sandera, termasuk Elkana, kembali dengan selamat. Kami mencintaimu, Presiden Trump.”
Ribuan orang juga berkumpul di Hostages Square, Tel Aviv, pada 9 Oktober untuk merayakan kesepakatan damai. Di Yerusalem, warga menyampaikan rasa terima kasih mereka kepada para pemimpin Israel dan AS.
“Senang sekali mendengar para sandera akan pulang. Terima kasih, Trump. Terima kasih, Netanyahu,” ujar seorang warga kepada Reuters.
Beberapa peserta bahkan menyerukan agar Trump dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang sebelumnya mengajukan nama Trump pada Juli lalu, mengatakan pada 9 Oktober bahwa mantan presiden AS itu memang pantas menerima penghargaan tersebut — sehari menjelang pengumuman resmi pemenang Nobel Perdamaian 2025.
Forum Keluarga Sandera dan Orang Hilang, yang mewakili sebagian besar keluarga sandera Israel, mengundang publik untuk ikut bersolidaritas dengan menulis, “Perjuangan ini belum berakhir sampai semua orang kembali pulang.”
Berbicara dari alun-alun tersebut, Rotem Cooper, putra dari Amiram Cooper—yang diculik dari kibbutz Nir Oz pada 7 Oktober 2023 dan kemudian tewas dalam tahanan—mengatakan kepada Jewish Chronicle: “Kami seperti prajurit yang baru melewati pertempuran. Belum ada rasa lega. Rasa lega baru datang ketika kami melihat para sandera kembali hidup-hidup.”
Sebuah survei terbaru dari Viterbi Family Center for Public Opinion and Policy Research di Israel Democracy Institute menunjukkan 66 persen warga Israel berpendapat sudah saatnya perang di Gaza diakhiri. Angka ini naik 13 poin persentase dibanding periode yang sama tahun lalu.
Alasan utama yang dikemukakan responden adalah kekhawatiran terhadap keselamatan para sandera, disebutkan oleh 50,5 persen responden Yahudi dan 34,5 persen responden Arab. Survei ini melibatkan 800 responden berbahasa Ibrani dan 200 berbahasa Arab, mewakili populasi Israel berusia di atas 18 tahun.
Reaksi Dunia
Perayaan di Israel dan Gaza juga disertai ucapan selamat dari berbagai pemimpin dunia kepada Trump atas keberhasilannya memimpin upaya perdamaian ini.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres pada 9 Oktober memuji upaya diplomatik Amerika Serikat, Qatar, Mesir, dan Turki yang berhasil memediasi apa yang ia sebut sebagai “terobosan yang sangat dibutuhkan.”
“Bagi warga Israel dan Palestina, kesepakatan ini membawa secercah harapan—dan cahaya itu harus menjadi fajar perdamaian, awal dari akhir perang yang menghancurkan ini,” katanya.
Para pemimpin di Eropa dan Timur Tengah juga menyambut baik kesepakatan tersebut dan menyerukan agar segera diimplementasikan.
Kantor Perdana Menteri Israel mengumumkan bahwa Kabinet Keamanan Israel akan bersidang pada pukul 17.00 waktu setempat, disusul rapat pemerintah pada pukul 18.00.
Perang di Gaza telah berlangsung sejak 7 Oktober 2023, ketika kelompok bersenjata yang dipimpin Hamas menyerang Israel dan menewaskan sekitar 1.200 orang, sebagian besar warga sipil, serta menyandera lebih dari 250 orang. Hingga kini, diperkirakan sekitar 20 sandera masih hidup dalam tahanan. (asr)


