EtIndonesia. Dahulu kala, di sebuah desa terpencil, hiduplah seorang pria miskin. Dia hanya memiliki sebidang tanah kecil untuk ditanami. Suatu tahun, hasil panennya sangat buruk. Akhirnya, dia hanya tersisa satu kantung kecil berisi benih.
Ketika musim tanam tiba, saat fajar baru menyingsing, dia segera bangun dari tempat tidur dan pergi ke ladang untuk menabur benih. Dia menabur dengan sangat hati-hati, takut kehilangan satu butir pun.
Menjelang siang, matahari terasa sangat terik, tubuhnya letih, maka dia berhenti sejenak dan duduk beristirahat di bawah sebatang pohon. Saat itu, tanpa sengaja segenggam benih jatuh dari kantungnya dan masuk ke dalam lubang kecil di bawah pohon.
Meskipun jumlahnya hanya sedikit, si petani miskin tetap merasa sayang.
Dia bergumam dalam hati: “Benihku sudah sedikit sekali. Bagi orang seperti aku, setiap butir benih sangat berharga. Jika hilang satu saja, itu sudah kerugian besar.”
Dengan pikiran itu, dia mengambil sekop dan mulai menggali di sekitar akar pohon untuk mengambil benihnya kembali. Cuaca begitu panas hingga keringat menetes deras dari dahi dan punggungnya, namun dia tidak berhenti menggali.
Akhirnya, ketika benih itu berhasil ditemukan, dia justru melihat bahwa benih-benih itu jatuh di atas sebuah kotak kecil yang terkubur di bawah tanah. Ketika dia membukanya, ternyata di dalam kotak itu terdapat emas murni.
Sejak hari itu, kehidupan si petani berubah total. Dia menjadi orang kaya.
Orang-orang di desanya berkata kepadanya: “Kamu benar-benar orang paling beruntung di dunia!”
Dia tersenyum dan menjawab: “Ya, aku memang beruntung. Tapi semua ini datang dari kerja keras dan rasa menghargai yang kecil.”
Makna Hidup:
Setiap usaha tidak pernah sia-sia. Orang yang tidak takut kesulitan, yang terus bekerja dengan tekun dan menghargai hal-hal kecil dalam hidupnya, akhirnya akan menuai hasil yang melampaui dugaan — bahkan menemukan “emas” di bawah pohon kehidupan mereka sendiri. (jhn/yn)


