Kantor Epoch Times Taiwan pada 15 Oktober 2025 menerima surat ancaman yang menyatakan akan meledakkan kantor redaksi. Setelah penyelidikan, polisi memastikan merupakan ancaman bom.
Bahkan, baru-baru ini, kantor pusat Epoch Times di New York juga menerima surat berisi bubuk putih dan surat ancaman palsu; FBI telah turun tangan menyelidiki laporan tersebut.
Pada Kamis (16/10/2025), Asosiasi Wartawan Taiwan bersama sejumlah anggota legislatif mengecam tindakan intelijen Partai Komunis Tiongkok (PKT). Lembaga itu juga mendesak aparat keamanan serta kepolisian untuk menanganinya secara serius agar penindasan lintas negara PKT tidak menjalar ke Taiwan.
EtIndonesia. Epoch Times menghadapi ancaman di Amerika Serikat dan Taiwan. Surat ancaman terhadap Epoch Times Taiwan dikirim ke kotak surat Direktur Jenderal Kepolisian Kementerian Dalam Negeri Taiwan pada Rabu (15/10/2025), mengklaim bahwa beberapa bom kendali jarak jauh telah dipasang di kantor Epoch Times Taiwan dan akan diledakkan pada 16 Oktober.
Setelah menerima laporan, polisi Taiwan segera bertindak dan berhasil memastikan tidak ada ancaman nyata.
Menanggapi hal ini, para anggota parlemen Taiwan menuntut penyelidikan menyeluruh, sementara Dewan Urusan Daratan (MAC) Republik Tiongkok mengutuk keras aksi tersebut.

“Jangan biarkan orang-orang yang hanya berani mengirim surat ancaman ini merasa bahwa tindakan mereka berhasil. Di balik ancaman seperti ini biasanya ada kekuatan yang menggerakkan. Kami mengutuk keras praktik intimidasi semacam ini,” ujar Wakil Ketua MAC Liang Wen-chieh.
Anggota legislatif Taiwan, Wu Szu-yao menegaskan: “Lembaga keamanan nasional dan lembaga yudisial kita tidak akan menyepelekan hal ini. Saya bersuara bagi Epoch Times dan mengecam tindakan PKT yang menindas pihak yang berbeda pendapat. Tangan PKT jangan menjangkau ke Taiwan yang demokratis dan bebas, jangan merusak ketertiban masyarakat Taiwan, apalagi melukai media independen yang berperan sebagai pilar keempat demokrasi.”
Sedangkan Anggota legislatif Hsu Chih-chieh menambahkan: “Epoch Times dan NTD telah lama mengungkap kejahatan PKT. Saya mendesak kepolisian untuk menyelidiki secara menyeluruh, baik terhadap mata-mata PKT maupun pihak mana pun yang berniat jahat mengancam atau menghancurkan Epoch Times. Semua ini harus dicegah dengan tegas.”

Sebagai media yang selama ini menyoroti kebenaran situasi di Tiongkok, Epoch Times kembali menjadi sasaran ancaman tepat menjelang Sidang Pleno Keempat PKT—sebuah waktu yang sensitif.
Asosiasi Wartawan Taiwan juga mengecam keras tindakan tersebut dan menyatakan siap berkoordinasi dengan organisasi jurnalis internasional untuk memberikan dukungan bila diperlukan.
“Sikap kami sangat jelas: kami mengecam keras setiap bentuk ancaman atau tindakan ilegal, karena hal itu merupakan serangan terhadap fondasi dan nilai utama masyarakat demokratis,” kata Ketua Asosiasi Wartawan Taiwan Wu Po-hsuan.
Sementara itu, pada Selasa (7/10/2025), The Epoch Times di Amerika Serikat menerima sebuah amplop yang berisi bubuk putih yang tampaknya dimaksudkan untuk mengintimidasi media tersebut.
Amplop berwarna kuning itu berisi surat kabar The Epoch Times dan sebuah kantong bening kecil dengan penutup zip yang berisi bubuk putih. The Epoch Times segera memberitahukan kepada Departemen Kepolisian New York (NYPD), yang kemudian mengambil barang-barang tersebut untuk diuji. Hasil penyelidikan masih menunggu. Pihak berwenang federal juga telah diberitahukan atas insiden itu.
Amplop yang dikirim memiliki tanda pos resmi Tiongkok, yang menunjukkan bahwa amplop itu berasal dari Tiongkok atau dikembalikan dari Tiongkok—pada saat yang sama ketika para aktor pro-Beijing meningkatkan kampanye mereka untuk menargetkan dan mengancam The Epoch Times.
Dalam beberapa bulan terakhir, aktor ancaman asal Tiongkok telah mengirim email secara massal ke berbagai lembaga pemerintahan dan sipil di Amerika Serikat serta di seluruh dunia, menyamar sebagai alamat email dan staf The Epoch Times.
Selama seminggu terakhir, aktor-aktor Tiongkok tersebut juga membuat akun media sosial palsu untuk menyamar sebagai pejabat senior The Epoch Times, tampaknya merupakan bagian dari kampanye siber yang semakin meluas terhadap The Epoch Times.
Salah satu akun semacam itu membanjiri sebuah kanal YouTube dengan pesan-pesan bernada kekerasan. Pengguna tersebut, yang memakai nama dan profil Huang Wanqing, pemimpin redaksi Epoch Times edisi bahasa Tionghoa, berulang kali menyatakan rencana untuk menabrak orang di depan Gedung Kantor Kepresidenan Taiwan dan melepaskan tembakan.

“Baik pemerintah Taiwan maupun Amerika Serikat harus menyadari bahwa ini adalah kejahatan bermotif politik yang kuat. Meskipun tidak terjadi ledakan sungguhan atau ancamannya palsu, kasus ini tetap harus ditangani dalam kerangka keamanan nasional. Jika dianggap hanya sebagai kasus kriminal biasa, itu sama saja membiarkan metode semacam ini semakin merajalela,” ujar Mantan Ketua Asosiasi Wartawan Taiwan Li Chih-te.
Menurut catatan Epoch Times, sejak tahun lalu mereka telah menerima lebih dari seratus surat ancaman serupa, beberapa di antaranya berisi ancaman bom, penembakan, dan penculikan. Saat ini, FBI di AS dan kepolisian Taiwan telah turun tangan menyelidiki kasus tersebut.
Sebuah email berbahasa Tionghoa yang dikirim ke The Epoch Times pada 7 Oktober disertai dengan foto tangan membentuk tanda kemenangan di depan bendera bintang lima partai komunis Tiongkok. Dalam email lain yang dikirim sehari kemudian, pengirim menyatakan bahwa “meskipun melihat keadaan saat ini, Partai Komunis Tiongkok hampir tidak memiliki peluang untuk menang, namun mereka tetap memutuskan untuk berpihak padanya.”
“Dalam setiap dinasti dan generasi selalu ada orang seperti saya, dan di era ini saya memainkan peran itu,” demikian bunyi email tertanggal 8 Oktober, seraya menambahkan bahwa mereka ‘terlibat sepenuhnya’.
“Keberuntungan dicapai melalui bahaya,” lanjut email tersebut.

The Epoch Times mengecam keras upaya intimidasi terhadap media mereka.
“The Epoch Times dengan tegas mengutuk kampanye intimidasi yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok,” kata Jasper Fakkert, pemimpin redaksi Epoch Times edisi bahasa Inggris, dalam sebuah pernyataan.
“Kami tidak akan terintimidasi dan akan terus menjalankan misi kami untuk menyediakan informasi yang benar dan tidak disensor kepada masyarakat di seluruh dunia, termasuk di Tiongkok.”
Casey Fleming dari BlackOps Partners, sebuah perusahaan konsultan keamanan siber yang berbasis di Washington menyatakan tujuan operasi ini adalah memberikan tekanan psikologis.
“Semua ini dimaksudkan untuk menakut-nakuti,” ujarnya kepada The Epoch Times, menggambarkan berbagai tindakan tersebut sebagai bagian dari ‘perang tanpa batas’ yang telah lama dilakukan oleh rezim Tiongkok untuk ‘melemahkan musuh dari dalam’,” katanya.
“Hanya keberadaan sebuah organisasi yang menolak kekuasaan PKT (Partai Komunis Tiongkok) saja sudah membuat mereka malu dan melemahkan kekuasaan mereka atas rakyat Tiongkok maupun dunia. Mereka harus menghapus rasa malu itu sekarang juga,” tegasnya.
Penindasan terhadap Kelompok Spiritual
Di balik operasi ini terdapat upaya yang semakin intens dari rezim partai komunsi Tiongkok untuk membungkam kelompok spiritual tertentu di seluruh dunia.
Pada akhir tahun 2022, pemimpin partai komunis Tiongkok Xi Jinping secara pribadi memberikan perintah dalam sebuah pertemuan rahasia untuk menargetkan perusahaan-perusahaan yang didirikan oleh praktisi Falun Gong.
Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah disiplin spiritual yang berlandaskan pada prinsip Sejati, Baik, dan Sabar (Zhen, Shan, Ren). Praktik ini menarik sekitar 70 hingga 100 juta pengikut di Tiongkok pada tahun 1990-an, namun sejak saat itu menjadi sasaran penganiayaan brutal yang diarahkan negara.
Sejak tahun 1999, tak terhitung banyaknya praktisi yang mengalami penahanan sewenang-wenang, kerja paksa, penyiksaan, bahkan kematian akibat pengambilan organ secara paksa.

Awal Berdirinya The Epoch Times
The Epoch Times didirikan pada 2000 di Atlanta, negara bagian Georgia, Amerika Serikat, oleh para praktisi Falun Gong yang melarikan diri dari Tiongkok setelah pembantaian Lapangan Tiananmen dan melihat awal mula penganiayaan terhadap keyakinan mereka.
Tujuan para pendiri adalah membawa informasi yang disensor ketat keluar dari Tiongkok serta mengungkap kekejaman yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap puluhan juta orang yang selama ini hampir tidak dilaporkan.
Rezim Tiongkok menangkap puluhan kontributor awal media tersebut di Tiongkok, dan beberapa di antaranya dijatuhi hukuman hingga 10 tahun penjara.
Menurut seorang sumber politik, Xi Jinping merasa frustrasi dengan kegagalan para pejabatnya untuk mencegah The Epoch Times dan media saudaranya NTD tumbuh menjadi salah satu platform utama dalam mengungkap kejahatan PKT.
Pada tahun 2025, Departemen Kehakiman AS mengonfirmasi beberapa upaya spionase siber yang diarahkan dari Beijing dan menargetkan The Epoch Times. Berdasarkan dakwaan federal, peretas yang didukung negara berhasil meretas akun email pemimpin redaksi dan wakil presiden surat kabar tersebut dalam salah satu skema pada Mei 2017.
Para pelaku serangan siber itu juga mengklaim bertanggung jawab atas beberapa kampanye lainnya, termasuk ancaman bom palsu terhadap perpustakaan-perpustakaan di New York pada April. Ancaman tersebut muncul menjelang peringatan besar Falun Gong dan menyebabkan setidaknya satu evakuasi.

Target Lain: Shen Yun Performing Arts
Shen Yun Performing Arts, yang juga didirikan oleh praktisi Falun Gong di New York, menjadi target menonjol lainnya. Kelompok seni ini melakukan tur dunia setiap tahun untuk menampilkan “Tiongkok sebelum komunisme,” dengan beberapa segmen tari yang menggambarkan penganiayaan yang masih berlangsung oleh PKT.
Banyak gedung pertunjukan terkenal di seluruh dunia menerima ancaman intimidasi sebelum jadwal pertunjukan mereka. Para pelaku biasanya menuntut agar pertunjukan dibatalkan dan mengancam akan melakukan kekerasan bila tidak dipatuhi.
Analisis awal dari seorang analis independen melacak beberapa email ancaman tersebut ke Provinsi Shaanxi di barat laut Tiongkok. Pihak berwenang Taiwan, saat menyelidiki ancaman terhadap Shen Yun, sebelumnya telah mengidentifikasi Xi’an, ibu kota provinsi tersebut, sebagai kota asal kemungkinan email-email itu.
Huang, pemimpin redaksi Epoch Times edisi berbahasa Tionghoa, menyatakan bahwa berbagai tindakan tersebut menunjukkan ciri khas kampanye yang terkoordinasi.
“Ini adalah bagian dari represi transnasional PKT,” ujarnya dalam pernyataan.
“Ini merupakan operasi peniruan sistematis, dengan tujuan menciptakan teror dan kekacauan,” tambahnya.
Fleming menegaskan kembali penilaian tersebut. “Ini adalah terorisme,” pungkasnya.
Sumber : NTD Asia Pasifik dan The Epoch Times


