EtIndonesia. Dalam operasi bersama Amerika Serikat dan Inggris untuk menindak jaringan penipuan lintas negara, perusahaan Prince Group yang bermarkas di Kamboja menjadi sasaran. Ketua grup tersebut, Chen Zhi, telah didakwa oleh Departemen Kehakiman AS dan sembilan perusahaan Taiwan masuk dalam daftar sanksi.
Penelusuran lebih lanjut mengungkap bahwa Chen pernah beraktivitas di Taiwan, dan markas perusahaan cabangnya berlokasi di kawasan strategis Bo’ai, Taipei—di jalan yang sama dengan Kantor Kepresidenan Taiwan.
Dari laporan-laporan sebelumnya, hal ini juga tanpa sengaja menyingkap markas polisi rahasia PKT yang tersembunyi di Taiwan.
“Perusahaan Prince Real Estate Investment di Taiwan—bagian dari Prince Group yang disanksi AS—hingga Mei tahun lalu masih beroperasi di Jalan Chongqing Selatan, Taipei, hanya berjarak kurang dari 300 meter dari Kantor Kepresidenan Republik Taiwan,” ujar reporter NTD Tang Jie-an.
Gerbang kantor kini tertutup rapat, namun papan nama Prince Group masih tergantung. Siapa sangka, di jalan yang sama dengan istana kepresidenan, ternyata tersembunyi kantor jaringan kejahatan lintas negara asal Kamboja.
Chen Zhi, yang kini didakwa sebagai gembong penipuan internasional, pernah tinggal di Taiwan dan setidaknya masuk ke negara itu lebih dari 10 kali. Dari sembilan perusahaan Taiwan yang disanksi, beberapa di antaranya juga terdaftar di alamat Jalan Chongqing Selatan ini.
Tang Jie-an melaporkan: “Setiap beberapa waktu, masih ada orang datang ke sini untuk mengambil surat. Media melaporkan bahwa Chen Zhi memang pernah tinggal di Taiwan, dan nama dia juga tercantum sebagai penerima surat di alamat ini.”
Chen Zhi, warga Fujian, Tiongkok, mendirikan Prince Group di Kamboja pada tahun 2015. Kini dia sedang dalam pelarian setelah perusahaannya dijerat sanksi AS-Inggris. Jejak aktivitasnya di Taiwan membuat publik heboh dan merasa “semakin menyeramkan kalau dipikir lebih dalam.”
Meskipun sembilan perusahaan Taiwan itu telah memindahkan alamat resmi ke Distrik Da’an, Prince Group tampaknya belum sepenuhnya meninggalkan lokasi lamanya di kawasan Bo’ai. Waktu kepindahan mereka juga mencurigakan—terjadi tepat setelah pemberitaan besar tahun lalu, dan kantor pun ditinggalkan kosong.
“Saya bekerja di departemen keamanan politik PKT selama 15 tahun. Sebagai penyamaran, polisi rahasia menempatkan saya di perusahaan real estat milik mereka sebagai kepala perencana. Hubungan antara perusahaan ini dan polisi rahasia sangat erat. Bos besar perusahaan tahu siapa saya dan apa misi saya,” ungkap Eric, mantan agen Biro Keamanan Politik Kementerian Keamanan Publik Tiongkok, yang melarikan diri ke Australia pada 2024.
Pada 2024, Eric mengaku pernah menjadi pejabat di Prince Real Estate Phnom Penh dan menggunakan posisinya untuk menutupi aktivitas penindasan lintas negara oleh polisi rahasia PKT. Ia bahkan mengungkap adanya rencana untuk menculik kartunis Tiongkok “Biantai Lajiao” (Lada Gila) dari Taiwan.
Kartunis “Biantai Lajiao” (Wang Liming) mengatakan pada 2024: “Mereka punya rencana cadangan di Taiwan. Kalau saya pergi ke Taiwan, mereka bilang sudah punya koneksi dengan cabang Prince Group di sana dan yakin bisa menculik saya dari Taiwan ke laut lepas.”
Pengungkapan ini memicu kehebohan di kalangan warganet, yang menilai tempat itu sebenarnya adalah pos polisi rahasia Tiongkok di Taipei.
Dakwaan AS juga menyebutkan bahwa Prince Group berkolusi dengan Kementerian Keamanan Negara dan Kementerian Keamanan Publik PKT, bahkan Chen Zhi pernah menyombongkan diri mendapat bocoran operasi penegakan hukum dari pejabat intelijen PKT sebagai imbalan suap.
Wakil Ketua Dewan Urusan Daratan (MAC) Liang Wen-chieh menegaskan: “Terkait Prince Group, saya yakin kejaksaan dan badan keamanan nasional akan segera menyelidikinya. Kini banyak warga Tiongkok daratan yang memperoleh paspor Kamboja untuk mencoba masuk ke Taiwan. Ini harus diawasi dengan ketat.”
MAC menyatakan akan memperketat pengawasan terhadap warga Tiongkok asal Kamboja yang datang ke Taiwan.
Sementara itu, laporan investigatif dari jurnalis Kanada yang dikutip oleh Departemen Keuangan AS menyebutkan bahwa Chen Zhi memiliki hubungan dengan Departemen Front Persatuan PKT. Tiga warga Taiwan yang terlibat membantu mengelola operasi di Palau. Mereka menggunakan perusahaan cangkang untuk menyusup ke negara sahabat Taiwan dan bahkan menyewa lahan yang berdekatan dengan fasilitas militer AS.
Laporan oleh Zeng Yi-hao, Lin Jia-wei, dan Tang Jie-an dari NTD Asia Pasifik, Taipei, Taiwan.


