EtIndonesia. Isyarat gejolak diplomasi global kembali menguat setelah CNN melaporkan bahwa Donald Trump menyatakan minat untuk bertemu kembali dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, bahkan disebut telah secara pribadi mengundang Trump ke KTT APEC di Seoul, membuka peluang terjadinya pertemuan bersejarah jilid berikutnya antara Washington dan Pyongyang.
Sejumlah analis menilai, jika pertemuan ini terwujud, maka ini bukan demi isu Semenanjung Korea semata — melainkan bagian dari operasi global Trump untuk memutus pengaruh Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik dan Timur Tengah secara bersamaan.
Spekulasi Memanas : Beijing “Melempar Tanggung Jawab” ke Pyongyang?
Di media sosial Weibo dan X, muncul dugaan bahwa PKC (Beijing) sedang menjadikan Korea Utara sebagai “tameng politik”, agar bisa lepas dari tekanan internasional atas kerasnya dugaan keterlibatan Tiongkok dalam operasi militer Hamas di Gaza.
Salah satu komentar yang viral menyindir tajam: “PKC buang Korea Utara jadi kambing hitam. Kim Jong Un disiapkan jadi perisai politik Xi Jinping.”
Laporan terpisah yang beredar minggu ini bahkan menyebut bahwa pekerja konstruksi terowongan Hamas di Gaza diduga berasal dari perusahaan konstruksi milik Tiongkok — namun Beijing sejauh ini menolak berkomentar.
Analisis : PKC Mulai Terdesak – “Kehilangan Pengaruh Terbesar dalam 40 Tahun”
Pengamat independen Tang Boqiao menyatakan dalam wawancara bahwa Trump telah memenangkan Timur Tengah tanpa perang, membuat Beijing sepenuhnya tersisih setelah membakar miliaran dolar dalam proyek pengaruh geopolitik yang gagal total.
Dia menyebut lima blok kekuatan pro-Beijing yang selama ini dibiayai PKC:
- Iran
- Suriah
- Hizbullah
- Hamas
- Milisi Houthi Yaman
“Hampir seluruhnya sedang mengalami kekalahan strategis, dan PKC akan kehilangan pengaruh paling besar di Timur Tengah dalam 40 tahun terakhir,” ujar Tang.
Ironisnya, hingga detik-detik sebelum penandatanganan gencatan senjata Gaza, media corong Beijing masih bersikeras menulis: “Hamas tidak akan menyerah, dan akan berperang sampai akhir.”
Strategi Global Trump : Serangan “Tiga Lapisan” untuk Mengepung Beijing
Jurnalis investigasi OAN, Chanel Rion, menyebut kebijakan luar negeri Trump saat ini bukan respons acak terhadap krisis, melainkan bagian dari strategi geopolitik besar menutup ruang gerak Beijing di tiga front utama:
Dia menyebutkan tiga lapisan serangan Trump terhadap PKT:
- Lapisan Pertama — Iran
Trump memperketat sanksi dan tekanan militer terhadap Iran, memutus jalur energi strategis PKT dalam proyek Belt and Road Initiative. - Lapisan Kedua — Gaza dan Hamas
Trump memaksa terciptanya perdamaian historis di Timur Tengah, membebaskan sandera Israel, dan mengakhiri kekuasaan militan pro-PKT seperti Hamas.
Dampaknya: PKT kehilangan pijakan politik dan aset intelijen utama di Timur Tengah. - Lapisan Ketiga — Venezuela (Wilayah Belakang PKT di Amerika Latin)
Trump memberi sinyal siap menggerakkan pasukan elite CIA dan melakukan operasi perubahan rezim terhadap pemerintahan Maduro — yang selama ini menjadi “klien energi strategis Beijing di Karibia”.
Chanel Rion menegaskan: “Tidak masuk akal AS mengerahkan 10.000 tentara + 8 kapal perang hanya untuk urusan narkoba. Ini operasi geo-ekonomi untuk menghabisi blok Beijing.”
Maduro Mengalah – Tapi Washington Tidak Tergiur
Pada 17 Oktober 2025, Trump mengungkap secara terbuka bahwa Presiden Venezuela, Nicolás Maduro diam-diam menawarkan kompromi besar — termasuk membuka kembali akses minyak dan emas Venezuela bagi perusahaan AS, dengan imbalan normalisasi hubungan dan pencabutan sanksi.
Jawaban Trump sangat keras:
“Dia (Maduro) akan kasih apa saja.
Dia tahu dia tidak bisa melawan Amerika Serikat.”
Namun mengejutkan, Gedung Putih menolak tawaran itu, menandakan Washington tampaknya tidak lagi tertarik pada kompromi ekonomi — melainkan perubahan rezim total.


