Pasien Hidup dengan Mayat, Perawat Wuhan: Jumlah Kematian Jauh Melebihi Laporan Resmi 

EtIndonesia. Mantan perawat Rumah Sakit Ketiga Kota Wuhan, Zhang Yu, mengungkapkan bahwa selama masa wabah virus Komunis Tiongkok (COVID-19), jumlah kematian yang ia saksikan jauh melampaui angka resmi yang diumumkan pemerintah. Ia berharap rakyat Tiongkok dapat melihat dengan jelas betapa besar bahaya yang dibawa Partai Komunis Tiongkok (PKT) bagi masyarakat.

Zhang Yu mulai bekerja sebagai perawat sejak tahun 2014 di Rumah Sakit Ketiga Wuhan. Setelah melihat bagaimana rezim komunis mengabaikan nyawa rakyat selama pandemi, ia akhirnya menyadari sifat sejati PKT dan mengundurkan diri pada April 2015.

Ia mengenang bahwa dari Januari hingga Maret 2020, seluruh sepuluh lantai gedung rumah sakit dibuka untuk pasien COVID-19, dan setiap lantai menampung hampir 40 pasien.

“Setiap shift kami bekerja selama delapan jam, dan di lantai kami saja, setiap giliran kerja ada sekitar 4 hingga 5 pasien meninggal dunia,” ujarnya. 

Menurutnya, tiga lantai rumah sakit khusus menampung pasien COVID-19 dalam kondisi berat, masing-masing berkapasitas hampir 40 orang. Setiap tiga hari, seluruh pasien berganti karena meninggal, dan digantikan oleh pasien baru. Ia menambahkan bahwa di rumah sakit rujukan utama COVID-19 di Wuhan, dari 10 pasien hanya 1 atau 2 yang bisa diselamatkan.

Zhang Yu berkata lagi: “Setelah pasien meninggal, biasanya harus menunggu lebih dari 24 jam sebelum petugas krematorium datang menjemput. Jadi pasien yang masih hidup harus tinggal bersama jenazah di kamar yang sama selama satu atau dua hari.”

Menurut data resmi hingga 27 Maret 2020, jumlah kematian akibat virus di Wuhan adalah 2.535 orang, namun angka ini banyak diragukan oleh pihak luar.

Zhang Yu menggambarkan suasana di rumah sakit: “Bagian rawat jalan dan IGD saat itu seperti kiamat. Kursi di lorong-lorong penuh oleh pasien, yang tidak kebagian tempat duduk membawa papan kayu atau ranjang lipat sendiri dan tidur di berbagai sudut rumah sakit. Ada pasien yang baru saja masuk rumah sakit, beberapa saat kemudian sudah berteriak memanggil perawat karena tidak kuat lagi.”

Ia menuturkan, saat itu rumah sakit mensyaratkan hasil CT scan dan tes PCR positif secara bersamaan untuk memastikan diagnosis COVID-19. Namun, banyak pasien tidak diberi tes PCR dengan alasan alat tidak tersedia, dan akhirnya dicatat sebagai pneumonia biasa, bukan COVID-19.

Zhang Yu mengatakan: “Para pasien berpikir bahwa begitu masuk rumah sakit mereka akan diselamatkan. Padahal, itu hanya seperti pindah dari rumah ke penjara lain. Mereka hanya diberi obat-obatan yang tidak efektif, seolah-olah ada pengobatan, padahal itu hanya untuk menenangkan ketakutan mereka.”

Ia juga mengungkapkan bahwa selama pandemi, ia terpisah dari anaknya yang berusia dua tahun selama hampir setengah tahun tanpa bisa bertemu.

Zhang Yu berkata: “Mereka benar-benar tidak mengizinkan kami bertemu. Anak saya dikurung di rumah, saya dikurung di tempat kerja. Dengan dalih demi kebaikan kami, mereka justru membatasi kebebasan pribadi dan kebebasan berbicara.”

Ia dengan tegas menyatakan bahwa PKT adalah penipu sekaligus preman. Setelah tiba di Amerika Serikat pada Mei 2025, Zhang Yu mengumumkan pengunduran diri dari semua organisasi terkait PKT melalui situs Tuidang milik Epoch Times.

Zhang Yu menutup dengan mengatakan: “PKT telah lama mencuci otak rakyat, tetapi saya percaya sekarang mereka tidak lagi berhasil. Semakin banyak anak muda yang mulai sadar, bahkan generasi orang tua saya pun mulai terbangun. Jika kita bersatu, kekuatan kita akan besar. Kita harus seperti para pemuda dalam Gerakan Kertas Putih dan peristiwa Tiananmen — berani berdiri dan mengatakan ‘tidak’ kepada rezim itu.” (Hui/asr)

Laporan dari wartawan NTD, Li Yujie dan Li Xunzhen, di Los Angeles.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine