EtIndonesia. Inggris telah meluncurkan penyelidikan atas serangan siber berskala besar yang memberi peretas akses ke data rahasia dari delapan pangkalan militer, lapor Daily Mirror.
Sebuah kelompok peretas Rusia yang terkait dengan Vladimir Putin membobol sistem Kementerian Pertahanan Inggris.
Para penyerang memperoleh akses ke:
- Dokumen internal;
- Daftar personel;
- Alamat email resmi;
- Informasi rahasia lainnya, beberapa di antaranya kemudian dipublikasikan di web gelap.
Serangan siber Rusia
Laporan menunjukkan bahwa peretas memasuki sistem melalui perusahaan kontraktor Dodd Group, yang menyediakan layanan untuk fasilitas militer. Kementerian Pertahanan Inggris menyebut insiden itu “katastrofik.” Para peretas berhasil menerobos sistem keamanan siber berlapis-lapis dan mengakses data terkait keamanan beberapa pangkalan militer.
Di antara lokasi yang ditargetkan adalah Pangkalan Udara Lakenheath di Suffolk, yang menampung jet tempur F-35 AS. Menurut media Inggris, pangkalan ini mungkin juga menyimpan senjata nuklir.
Pelanggaran tersebut kemungkinan melibatkan kelompok peretas Rusia, Lynx, yang sebelumnya terlibat dalam investigasi serupa.
Data pribadi anggota militer dan veteran, termasuk nama, detail perbankan, dan alamat, kemungkinan telah jatuh ke tangan para penyerang. Catatan penggajian berisi informasi sekitar 272.000 personel militer, menjadikan kebocoran ini salah satu yang terbesar dalam sejarah Kementerian Pertahanan Inggris.
Laporan sebelumnya meliput serangan siber yang mengganggu operasional di beberapa bandara Eropa. Serangan tersebut memengaruhi bandara di London, Brussel, dan Berlin.
Pada hari-hari menjelang pemilihan parlemen pada 3-4 Oktober, Republik Ceko mencatat peningkatan serangan siber dari Rusia.
Pada bulan Desember tahun lalu, peretas Rusia menargetkan registri negara bagian Kementerian Kehakiman Ukraina. Ini merupakan salah satu serangan siber terbesar sejak perang skala penuh dimulai. (yn)


