EtIndonesia. Seorang gadis berusia 14 tahun di Shantou, Provinsi Guangdong, Tiongkok tewas setelah dipukuli oleh beberapa teman sekolahnya. Sang ibu yang putus asa terlihat berlutut di depan warga memohon bantuan.
Menurut video yang beredar di internet, pada 18 Oktober sore, seorang gadis berusia 14 tahun dari Desa Huali Barat, Kota Simapu, Distrik Chaonan, Shantou, diduga dianiaya hingga tewas oleh empat siswa laki-laki.
Dalam video terlihat, seorang gadis bertubuh kurus tergeletak di tanah tanpa gerak.
Diduga ibu dari gadis tersebut terlihat bingung dan histeris ketika melihat putrinya tidak bergerak sama sekali, lalu berlutut di hadapan orang-orang di sekitar untuk meminta tolong.
Kemudian, muncul pula video lain di mana sang ibu meminta pertolongan di grup kelas anaknya. Dalam pesan itu, ia menulis bahwa putrinya bernama Chen Yingrou (陈瀅柔), berusia 14 tahun, dan dianiaya hingga tewas oleh empat orang di sebuah tempat bernama Xigu’an di Desa Huali Barat. Ia menangis mengatakan bahwa putrinya sudah tidak tertolong selama hampir satu jam tanpa ada yang menolong, dan tidak tahu harus berbuat apa.
Kabar ini segera disensor di internet Tiongkok. Meskipun di aplikasi Douyin (TikTok versi Tiongkok) banyak orang mencoba mencari topik ini, tidak ada satu pun video yang bisa ditemukan.
Tangkapan layar memperlihatkan adanya rekam jejak pencarian Douyin yang kosong meskipun banyak orang mencarinya.
Kemudian, sang ibu yang berbicara dengan logat daerah yang sangat kental, juga menangis dan memohon bantuan di grup kelas tempat putrinya bersekolah.
(Tangkapan layar menunjukkan sang orang tua menangis di grup kelas, memohon bantuan dari wali kelas.)
Baru-baru ini, media juga mengungkap kasus pembunuhan brutal di Distrik Longhua, Shenzhen, yang terjadi pada April tahun ini — seorang siswi berusia 14 tahun ditikam 26 kali oleh teman sekelasnya hingga tewas, dan kasus itu sempat mengguncang masyarakat.
Menurut dokumen dakwaan, korban bermarga Pan (潘) dan pelaku bermarga Zhong (钟), keduanya siswa kelas 3 SMP di sebuah sekolah di Shenzhen. Mereka tinggal di kompleks perumahan yang sama dengan seorang teman lain bermarga Chen.
Sejak awal masuk SMP, ibu pelaku meminta bantuan ibu korban dan ayah teman lain untuk mengantar-jemput anaknya, dengan alasan suaminya bekerja di luar kota dan ia sibuk bekerja. Dari niat baik, kedua orang tua tersebut setuju membantu selama tiga tahun penuh, tanpa menyangka bahwa akhirnya anak mereka justru dibunuh oleh Zhong. (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com


