Laporan terkini dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI) per Oktober 2025 mengungkapkan perkembangan positif dan ketangguhan pasar modal Indonesia di tengas ketidakpastian global. Dengan 955 perusahaan tercatat, total kapitalisasi pasar mencapai Rp 14.890 triliun, tumbuh rata-rata 11,16% per tahun dalam lima tahun terakhir. Pertumbuhan ini diiringi dengan peningkatan likuiditas yang signifikan, ditandai dengan rata-rata nilai transaksi harian saham sebesar Rp 15,495 triliun.
Yang menarik, partisipasi investor domestik terus menguat. Total jumlah investor di pasar modal telah mencapai 18,9 juta, dengan 7,9 juta di antaranya merupakan investor saham. Data demografis menunjukkan bahwa generasi muda (di bawah 30 tahun) mendominasi dengan porsi 54,12%, diikuti oleh kelompok usia 31-40 tahun (34,89%). Mayoritas investor berasal dari kalangan karyawan (40,06%) dan memiliki latar belakang pendidikan SMA/sederajat (44,52%).
Posisi Indonesia di Kancah Global dan Peran Jawa Timur
Dalam perbandingan global, BEI masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Dengan 955 emiten, Indonesia berada di atas Thailand (861) dan Malaysia (1.064), namun masih di bawah Filipina (282) dan Vietnam (391) dalam hal jumlah perusahaan tercatat. Kapitalisasi pasar BEI senilai USD 892 miliar juga menunjukkan potensi peningkatan dibandingkan dengan bursa regional lainnya.
Dalam konteks ini, Jawa Timur emerge sebagai pilar penting. Provinsi ini merupakan satu-satunya di luar DKI Jakarta yang memiliki Bursa Efek sendiri, yaitu AEI. Sebanyak 56 emiten berdomisili di Jawa Timur, dengan 50 perusahaan sekuritas berkantor cabang di sana. Kontribusi Jawa Timur terhadap pasar nasional sangat signifikan: investor dari provinsi ini berjumlah 2 juta orang (10,5% dari total nasional), dengan total transaksi akumulatif hingga Agustus 2025 mencapai Rp 533,16 triliun. Surabaya menjadi kota dengan transaksi tertinggi (Rp 327,29 triliun), diikuti oleh Kota Malang dan Kabupaten Sidoarjo.
Potensi Pasar Syariah dan Inisiatif Edukasi
Pasar modal syariah Indonesia juga menunjukkan prospek cerah. Terdapat 657 saham syariah, mewakili 68% dari total saham di BEI. Performa indeks syariah (ISSI) secara konsisten solid, dengan volume dan frekuensi perdagangan mencapai lebih dari 60% dibandingkan pasar reguler. Jumlah investor syariah terus bertumbuh, mencerminkan potensi besar Indonesia sebagai pusat keuangan syariah global.
BEI Kantor Perwakilan Jawa Timur aktif mendorong literasi keuangan melalui berbagai program inovatif, seperti:
- JELITA: Menyasar masyarakat umum dan komunitas keagamaan untuk edukasi keuangan syariah.
- BANTER: Khusus bagi karyawan perusahaan tercatat di Jatim, dengan mitra seperti BJTM, MPMX, dan BATR.
- MABAR CERIA: Membekali mahasiswa baru dengan pengetahuan investasi sedini mungkin.
- TIMNAS: Meningkatkan literasi keuangan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk mencegah penipuan keuangan.
Tantangan dan Prospek ke Depan
Meski optimis, tantangan tetap ada. Jumlah pencatatan saham baru (IPO) di Indonesia pada September 2025 tercatat hanya 5, lebih rendah dari negara ASEAN seperti Malaysia (17) dan Thailand (10). Hal ini menunjukkan perlunya iklim investasi yang lebih kondusif dan stabil.
Secara keseluruhan, laporan ini menggambarkan pasar modal Indonesia yang tangguh dan terus berkembang. Dengan dukungan dari daerah-daerah potensial seperti Jawa Timur, komitmen pada pengembangan pasar syariah, dan program edukasi yang masif, BEI memiliki fondasi yang kuat untuk terus mencatatkan pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif di masa mendatang, mengukuhkan perannya sebagai mesin penggerak ekonomi nasional.


