Baru-baru ini, Kantor Perdana Menteri Israel mengumumkan bahwa setelah kelompok Hamas melanggar tahap pertama perjanjian damai dan menyebabkan pecahnya kembali pertempuran antara Israel dan Hamas, Israel kini telah menghentikan serangan dan kembali melaksanakan perjanjian gencatan senjata.
Pihak Israel juga memperingatkan Hamas agar mematuhi isi perjanjian dan segera menyerahkan jenazah 16 sandera yang tewas. Sementara itu, Presiden Trump menegaskan kepada media bahwa perjanjian gencatan senjata di Gaza masih berlaku.
EtIndonesia. Pada Senin (20/10), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pidatonya di parlemen menyatakan bahwa pada Selasa (21 Oktober), ia akan menyambut kunjungan Wakil Presiden AS, J.D. Vance.
Netanyahu mengatakan: “Kami akan berfokus pada dua hal utama — tantangan keamanan yang kami hadapi dan peluang politik yang ada. Kami pasti akan mengatasi tantangan tersebut dan memanfaatkan peluang yang muncul.”
Kantor Perdana Menteri Israel menyatakan bahwa teroris Hamas terus menyerang pasukan Israel yang berjaga di Gaza dan masih menahan 16 jenazah sandera, yang berarti melanggar perjanjian gencatan senjata Gaza. Namun setelah melakukan serangan balasan, pihak Israel kini telah kembali melaksanakan perjanjian.
“Setelah Hamas melanggar perjanjian gencatan senjata dan menyerang tentara kami yang memicu rangkaian serangan balasan, sekitar pukul 9 malam waktu Israel pada Minggu (19 Oktober), tentara kami kembali menegakkan perjanjian gencatan senjata. Kami tidak hanya akan terus menaati perjanjian itu, tetapi juga akan menegakkannya dengan ketat,” kata Juru bicara Kantor Perdana Menteri Israel, Shosh Bedrosian.
Bedrosian juga mendesak Hamas agar segera menyerahkan semua sandera yang tersisa. Ia menambahkan: “Kami tahu Hamas memiliki kemampuan untuk mengembalikan mereka (jenazah sandera) dan tahu di mana mereka berada. Penculik tidak mungkin kehilangan sandera mereka. Pernyataan bahwa Hamas tidak tahu di mana para sandera berada hanyalah alasan — bagian dari strategi propaganda mereka,” ujarnya.
Sehari sebelumnya, militer Israel menyatakan bahwa Hamas telah melanggar perjanjian gencatan senjata dengan menyerang tentara Israel yang sedang bertugas di wilayah Rafah, Gaza, menewaskan dua tentara. Setelah itu, Israel meluncurkan serangan udara terhadap puluhan target teroris Hamas di Gaza.
Pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump mengatakan di pesawat kepresidenan Air Force One bahwa pihaknya akan menyelidiki dengan serius serangan Hamas terhadap tentara Israel.
Trump berkata: “Mereka (Hamas) sangat arogan dan melakukan penembakan. Kami percaya pimpinan Hamas mungkin tidak terlibat langsung, melainkan tindakan kelompok pemberontak di dalamnya. Apapun alasannya, kami akan menindak tegas dengan cara yang keras namun adil.”
Ketika seorang wartawan bertanya, “Apakah perjanjian gencatan senjata di Gaza masih berlaku?”
Trump menjawab, “Ya, masih berlaku.”
Pada hari yang sama, Wakil Presiden AS J.D. Vance juga menyampaikan bahwa agar perjanjian gencatan senjata di Gaza dapat bertahan, negara-negara Arab harus membantu menegakkan langkah-langkah keamanan dan melucuti senjata Hamas.
Vance menuturkan: “Kami yakin perjanjian ini memberikan peluang terbaik untuk mewujudkan perdamaian yang langgeng. Namun begitu, kami juga menyadari bahwa proses ini akan menghadapi sejumlah hambatan, dan kami harus terus memantau situasinya.”
Laporan oleh Zhao Fenghua, New Tang Dynasty Television


