EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump pada 21 Oktober menyampaikan peringatan paling keras sejak gencatan senjata Gaza diberlakukan awal bulan ini. Dia menegaskan bahwa energi politik dan kesatuan blok Arab di Timur Tengah “tidak pernah sekuat ini dalam seribu tahun terakhir”.
Namun Trump memperingatkan Hamas agar tidak melakukan pelanggaran apa pun terhadap kesepakatan damai: “Jika Hamas kembali melanggar kesepakatan — negara-negara besar di kawasan siap bergerak ke Gaza dan menghancurkan mereka. Saya berharap mereka berubah. Jika tidak — akhirnya akan sangat brutal.”
Pernyataan tersebut muncul setelah laporan media Israel Reshet Bet mengungkap temuan intelijen bahwa Hamas secara diam-diam sedang terlibat dalam desain struktur politik baru Gaza pascaperang. Hamas disebut ikut memilih hingga separuh kandidat menteri dalam pemerintahan teknokrat yang sedang disusun — tanpa tampil secara formal.
Sejumlah analis memperingatkan bahwa Hamas mungkin sedang menjalankan strategi infiltrasi jangka panjang untuk tetap menguasai Gaza “dari balik layar” — tanpa harus tampil secara resmi dalam struktur pemerintahan.
Wakil Presiden AS, JD Vance Tiba di Israel — Misi Mendesak Menjaga Gencatan Senjata
Pada hari yang sama (21 Oktober), Wakil Presiden AS, JD Vance tiba di Tel Aviv untuk misi dua hari. Vance meninjau langsung perkembangan di lapangan dan bertemu pejabat tinggi Israel serta komando militer AS.
Usai peninjauan, Vance menyampaikan penilaian awal: “Situasi lebih baik dari yang saya perkirakan. Ini awal yang penuh harapan — tetapi tidak boleh lengah. Hamas harus patuh. Jika tidak — seperti yang dikatakan Presiden Trump — akibatnya akan sangat serius.”
Diplomat Eropa menyebut misi Vance ini sebagai “misi pengaman fase transisi paling kritis setelah gencatan” — karena setiap pelanggaran sekecil apa pun dalam 72 jam pertama berpotensi memicu perang ulang.
Inggris Turunkan Panglima Bintang Dua ke Israel — Gabung Pasukan Pengawas Gencatan
Laporan The Times memastikan bahwa Inggris telah mengirim seorang perwira tinggi berpangkat letnan jenderal (setara bintang dua) ke Israel untuk bergabung dalam struktur pasukan multinasional pimpinan AS.
Misi mereka:
- mengawasi langsung implementasi gencatan senjata
- mengamankan jalur koridor bantuan kemanusiaan
- memastikan Hamas tidak melakukan mobilisasi militer terselubung
Langkah ini menunjukkan bahwa London kini tidak hanya memberi dukungan diplomatik — tetapi ikut secara operasional dalam arsitektur pengamanan Gaza pascaperang.
Reaksi Geopolitik Dunia Arab dan Regional
Iran langsung mengeluarkan peringatan keras, menyebut ultimatum Trump sebagai langkah “kolonial militer gaya abad ke-19”.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran pada malam 21 Oktober menyatakan bahwa: “Jika pasukan eksternal masuk Gaza dengan dalih menjaga gencatan — akan dianggap invasi. Iran tidak akan tinggal diam.”
Namun sejauh ini, Iran tidak menyatakan komitmen intervensi langsung, hanya memberi sinyal agresif untuk menjaga citra pengaruhnya di dunia Islam, terutama di mata Hizbullah dan Houthi.
Qatar mengambil posisi moderat dan defensif
Sebagai mediator utama negosiasi Gaza, Doha menegaskan akan tetap berada di jalur diplomasi. Mereka bahkan memperingatkan Hamas secara internal agar tidak menyabotase momentum perdamaian yang sedang dibangun Trump — karena bisa menghancurkan posisi politik Qatar jika konflik kembali pecah.
Diplomat Eropa menyebut Qatar kini lebih dekat ke Washington dibanding Teheran dalam krisis Gaza 2025.
Mesir mendukung penuh langkah AS
Pemerintah Abdel Fattah el-Sisi mengaktifkan kembali kerja sama intelijen rahasia dengan Pentagon dan Mossad untuk mencegah Hamas menyusup kembali ke Sinai dan Rafah.
Seorang pejabat keamanan Mesir berkata ke Al Arabiya: “Mesir tidak akan membiarkan Gaza jatuh kembali ke tangan milisi liar. Jika diperlukan — kami akan ikut mengamankan zona penyangga.”
Analisis Strategis: Hamas Sedang Menguji Kesabaran Dunia?
Banyak analis menilai bahwa Hamas saat ini tidak mau menanggung risiko perang frontal baru, namun sedang mencoba strategi politik infiltrasi jangka panjang, yaitu:
- tidak mengambil jabatan resmi, tetapi mengendalikan struktur administratif dari balik layar
- membiarkan pemerintahan teknokrat berjalan — sambil menanam pengaruh kunci di keamanan dan distribusi bantuan
- menjaga narasi moral resistance di mata dunia Muslim, tanpa menanggung beban negara
Inilah alasan mengapa Washington dan London langsung menurunkan pasukan pengawas kelas tertinggi, bukan sekadar diplomat.


