Sidang pleno keempat Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang berlangsung selama empat hari dimulai pada Senin (20 Oktober). Namun pada hari pembukaannya, media resmi Partai hanya menerbitkan satu siaran pers pendek sekitar seratus kata tanpa foto, menunjukkan suasana yang sangat rendah profil.
Sementara itu, ekonomi Tiongkok terus lesu—pertumbuhan PDB kuartal ketiga hanya 4,8%, penjualan ritel anjlok ke titik terendah dalam sepuluh bulan terakhir, dan masalah pengangguran semakin parah.
Selama sidang pleno, pengendalian keamanan di Beijing diperketat, dengan penjagaan ketat dan penangkapan terhadap para pencari keadilan. Opini publik mencemooh bahwa PKT berusaha menutupi keruntuhan rezimnya dengan narasi-narasi besar.
EtIndonesia. Sidang pleno keempat PKT dibuka pada 20 Oktober 2025 di Beijing. Hingga malam hari, media resmi hanya merilis satu laporan sekitar seratus kata, yang menyebutkan bahwa Sekretaris Jenderal PKT Xi Jinping menyampaikan laporan kerja—tanpa disertai foto apa pun.
Yang lebih aneh lagi, menjelang pembukaan sidang pleno, kantor berita Xinhua tiba-tiba menerbitkan artikel tengah malam pada 20 Oktober yang memuji Xi Jinping atas “kemajuan besar dan inovatif” yang disebut-sebut dicapai dalam pembangunan ekonomi dan sosial Tiongkok selama periode “Rencana Lima Tahun ke-14”.
“Kemungkinan satu-satunya yang bisa dilakukan Xi Jinping dalam sidang pleno kali ini adalah terus bergerak ke kiri, baik di bidang politik maupun ekonomi. Jadi sidang pleno keempat tahun ini tidak akan memiliki hal menarik yang berarti. Satu-satunya yang patut diamati adalah bagaimana media resmi setelah sidang selesai akan menggunakan narasi besar—seperti slogan-slogan Xi ‘harus ini, juga itu, bahkan lebih dari itu’—untuk menipu rakyat Tiongkok,” ujar pengamat politik Lan Shu.
Namun, kenyataan ekonomi yang lesu dan kondisi fiskal yang genting sangat bertolak belakang dengan retorika media Partai.
Pada hari yang sama, Biro Statistik Nasional PKT mengumumkan bahwa pertumbuhan PDB kuartal ketiga tahun ini hanya 4,8%. Nilai penjualan ritel pada September naik hanya 3,0%, yang merupakan titik terendah dalam sepuluh bulan terakhir—menunjukkan kelebihan kapasitas industri dan lemahnya permintaan domestik.
Para ahli menilai bahwa angka-angka resmi PKT biasanya palsu, dan kondisi sebenarnya kemungkinan lebih buruk.
“Sangat sulit mendapatkan data akurat karena PKT terus memalsukan angka. Indikator penting dari resesi dan depresi adalah pertumbuhan PDB serta tingkat pengangguran. Sekarang PKT sangat berusaha menutup-nutupi data pengangguran,” ujar Profesor Xie Tian dari Aiken Business School, Universitas South Carolina.
Selama sidang pleno, Beijing kembali meningkatkan langkah-langkah keamanan. Selain memberlakukan larangan total terhadap drone, pihak berwenang juga melarang penerbangan balon dan lentera Kongming.
Menurut laporan para pencari keadilan, situasi di Beijing seperti dalam keadaan siaga tinggi. Di daerah-daerah sibuk, jumlah patroli polisi meningkat, sementara di sekitar Hotel Jingxi—tempat sidang pleno berlangsung—terparkir mobil-mobil polisi dan kendaraan khusus.
Seperti biasa, pihak berwenang tidak hanya mengusir banyak pencari keadilan dari Kantor Pengaduan Beijing, tetapi juga memperketat pemeriksaan identitas di semua pintu masuk ke ibu kota. Di dalam kota, polisi melakukan razia terhadap warga luar daerah, menyebabkan banyak orang terpaksa menggelandang di jalanan.
“Teman saya dicegat saat kembali, diperiksa, dan tidak berani kembali ke tempat sewanya—jadi ia hidup menggelandang di luar. Benar-benar menyedihkan. Saya tidak mengerti, mengapa mereka (PKT) tidak merasa malu melihat orang-orang tidur di jalanan seperti pengungsi perang? Pemandangan itu membuat saya sangat sedih untuk rakyat yang menderita,” ujar seorang pencari keadilan bernama Zhao Wei.
Beberapa pencari keadilan berpendapat bahwa satu-satunya harapan bagi rakyat Tiongkok untuk hidup layak adalah dengan bangkit menggulingkan kediktatoran.
Seorang pencari keadilan bernama He Wei berkata: “Kita harus memberontak. Yang paling ditakuti oleh Partai Komunis adalah rakyat yang memberontak.”
Belakangan, di berbagai platform daring beredar luas video buatan AI bertema “Era Pasca-Partai Komunis”. Video itu menampilkan rakyat turun ke jalan, menyerbu Lapangan Tiananmen sambil membentangkan spanduk bertuliskan “Turunkan Partai Komunis”, menuntut “kebebasan berpendapat” dan “hak pilih”, serta menyerukan diakhirinya sistem satu partai. Video tersebut menarik perhatian besar di internet. (Hui/asr)
Laporan oleh Tang Rui dan Hong Ning – NTD Television


