Cara Michelle Miller
Jika Anda sudah tidur delapan jam tetapi tetap membutuhkan cangkir kopi ketiga sebelum tengah hari, penyebabnya mungkin bukan di kamar tidur Anda—melainkan di dalam pembuluh darah Anda.
Sebuah studi besar yang baru-baru ini diterbitkan di Lancet eBioMedicine menemukan bahwa orang dengan kadar molekul tertentu yang lebih tinggi dalam darah—termasuk asam lemak omega-6, yang banyak ditemukan pada kacang-kacangan, biji-bijian, dan minyak nabati—secara signifikan lebih kecil kemungkinannya mengalami kantuk berlebihan di siang hari (excessive daytime sleepiness/EDS).
EDS memengaruhi sekitar 1 dari 3 orang Amerika dan diketahui meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan diabetes. Meskipun insomnia dan sleep apnea sering dianggap sebagai penyebab utama, penelitian ini menunjukkan bahwa cara tubuh memetabolisme makanan, hormon, dan stres juga dapat berperan dalam membuat seseorang terus merasa lelah sepanjang hari.
“Kita mulai memahami bagaimana dan mengapa EDS terjadi, tanda-tanda awal seseorang mungkin mengalaminya, dan apa yang bisa kita lakukan untuk membantu,” kata peneliti utama Tariq Faquih, peneliti pascadoktoral di Brigham and Women’s Hospital, dalam siaran persnya.
Apa yang Terjadi di Dalam Darah Anda?
Para peneliti menemukan bahwa orang dengan kadar tujuh jenis metabolit darah tertentu yang lebih tinggi cenderung lebih waspada di siang hari.
Mereka menganalisis sampel darah dari lebih dari 6.000 orang dewasa dengan rata-rata usia 48 tahun, mengukur kadar metabolit, dan membandingkannya dengan tingkat kantuk yang dilaporkan peserta.
Salah satu hubungan terkuat dengan penurunan rasa kantuk di siang hari ditemukan pada asam lemak omega-6. Lemak ini, yang sudah dikenal baik untuk kesehatan jantung dan otak, juga membantu tubuh memproduksi melatonin—hormon yang mengatur tidur—sehingga memudahkan seseorang untuk tetap segar setelah tidur malam yang cukup. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa asam lemak omega-3 dan omega-6 dapat membantu orang lebih cepat tertidur.
Molekul lain yang ditemukan dalam kadar lebih tinggi pada orang yang lebih waspada adalah sphingomyelin—jenis lemak yang terdapat hampir di setiap sel tubuh, terutama di sistem saraf. Zat ini berperan penting dalam pengaturan hormon dan ritme sirkadian tubuh, yaitu jam biologis yang mengatur siklus tidur dan bangun. Tubuh bisa memproduksi sphingomyelin sendiri, tetapi kadarnya juga bisa meningkat melalui makanan seperti telur dan produk susu.
Perubahan Kecil, Dampak Nyata
Perbaikan yang terlihat memang tidak drastis, tetapi tetap bermakna.
Untuk setiap peningkatan standar kadar metabolit bermanfaat tersebut, peserta mencatat penurunan sekitar sepertiga hingga setengah poin pada Epworth Sleepiness Scale (ESS)—alat ukur yang menilai kemungkinan seseorang tertidur dalam berbagai situasi sehari-hari seperti membaca atau duduk di dalam mobil.
ESS memiliki rentang skor 0 hingga 24. Skor 11 atau lebih tinggi dianggap menunjukkan kantuk berlebihan, dan sekitar 15 persen peserta memenuhi ambang batas itu.
“Perubahan dua poin pada ESS biasanya dianggap signifikan secara klinis,” kata pengawas penelitian, Dr. Susan Redline, profesor kedokteran tidur di Harvard Medical School, dalam email kepada The Epoch Times.
“Orang dengan tingkat kantuk sedang di siang hari melaporkan bahwa hal ini memang memengaruhi aktivitas harian mereka dengan berbagai tingkat keparahan,” tambah Faquih.
Perbedaan Antara Pria dan Wanita
Hubungan antara metabolit darah dan rasa kantuk ternyata lebih kuat pada pria.
Sebagai contoh, pada pria, kadar tyramine O-sulfate yang lebih tinggi—senyawa yang terbentuk dari pemecahan makanan seperti keju tua dan daging olahan—berkaitan dengan kantuk lebih berat di siang hari. Senyawa ini juga dikaitkan dengan kualitas tidur yang lebih rendah dan waktu tidur yang tertunda, kemungkinan karena zat kimia ini dapat mengganggu jalur produksi melatonin.
Pada wanita, hubungan tersebut tidak begitu kuat. Para peneliti menduga bahwa fluktuasi hormon akibat siklus menstruasi, kehamilan, atau menopause dapat menutupi hubungan ini.
Namun, dalam studi lanjutan di Eropa yang digunakan untuk mengonfirmasi hasilnya, wanita dengan kadar asam lemak omega-6 dan omega-3 yang lebih tinggi—yang ditemukan dalam ikan berlemak seperti salmon, serta kacang dan minyak nabati—juga lebih jarang melaporkan kantuk di siang hari, yang menunjukkan bahwa lemak sehat bermanfaat bagi kedua jenis kelamin.
Langkah Selanjutnya: Bisakah Pola Makan Mengatasi EDS?
Para peneliti percaya bahwa temuan ini bisa mengarah pada cara baru menangani kelelahan kronis, terutama melalui pendekatan gizi, suplemen, atau obat-obatan yang menargetkan jalur metabolik penting ini.
Saat ini, pengobatan untuk kantuk di siang hari biasanya dilakukan dengan merangsang otak agar tetap terjaga—menggunakan obat resep atau terapi sleep apnea seperti mesin CPAP (Continuous Positive Airway Pressure). Metode ini bekerja dengan meningkatkan kadar zat kimia “pembangun kewaspadaan” di otak, tetapi belum menyentuh aspek nutrisi dan metabolisme tubuh.
“Penelitian kami menunjukkan bahwa pola makan dan faktor genetik bisa berperan penting dalam EDS,” kata Faquih, sambil menambahkan bahwa diperlukan studi lanjutan untuk menguji apakah meningkatkan kadar metabolit tertentu secara sengaja benar-benar bisa mengurangi rasa kantuk dalam kehidupan nyata.
Namun, para peneliti juga mengakui keterbatasan studi ini. Mengukur kadar metabolit tidaklah mudah, dan mengandalkan laporan subjektif tentang rasa kantuk, bukan uji tidur klinis, meninggalkan celah dalam data.
Langkah berikutnya adalah uji klinis untuk menentukan seberapa besar perubahan pola makan dapat memengaruhi tingkat energi harian.
“Melakukan uji klinis akan menjadi langkah besar berikutnya dan dapat membantu kita memahami seberapa besar pengaruh metabolit-metabolit ini terhadap EDS,” ujar Faquih.


