EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump resmi membatalkan pertemuannya dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin yang sedianya akan berlangsung di Budapest. Pembatalan mendadak ini dibarengi gebrakan besar: Washington mengumumkan paket sanksi terkeras terhadap Moskow sejak invasi Ukraina dimulai pada 2022.
AS Bekukan Aset Rosneft dan Lukoil – “Pengeluaran Perang Kremlin Akan Mati Pelan-pelan”
Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Trump menegaskan bahwa langkah ini dirancang untuk memutus sumber dana perang Rusia secara langsung, bukan melulu sebagai penekanan politik.
Menteri Keuangan Scott Bessent menambahkan bahwa sanksi ini diterapkan berdasarkan Executive Order No. 14024, dan untuk pertama kalinya:
- Seluruh aset Rosneft dan Lukoil diblokir penuh di seluruh lembaga keuangan AS
- Mitigasi hukum memungkinkan afiliasi dan anak perusahaan mereka ikut terkunci
- Seluruh transaksi berbasis USD kini secara otomatis dianggap ilegal
Bessent menyebut kebijakan ini sebagai “energi freeze total” — berbeda dari sanksi sebelumnya yang masih memberi ruang negosiasi.
Eropa Ikut Menekan – Uni Eropa Resmi Blokir LNG Rusia
Di hari yang sama, Uni Eropa merilis paket sanksi putaran ke-19, termasuk dua langkah yang belum pernah berani dilakukan sebelumnya:
| Langkah UE | Dampak Langsung |
| Larang total LNG Rusia masuk pasar Eropa | Negara-negara Baltik & Skandinavia langsung siaga |
| Tekan batas harga minyak Rusia ke USD 47,6/barel | Jauh di bawah harga pasar global (±82 USD) |
| Masukkan sektor kripto dalam sanksi | Pemotongan jalur keuangan alternatif Rusia |
Slovakia sempat menjadi hambatan terakhir, namun akhirnya menyetujui paket sanksi tersebut — memastikan kesepakatan 27–0 di Brussels.
Ukraina : “Inilah Tekanan yang Kami Tunggu dari Washington”
Duta Besar Ukraina di Washington, Oksana Markarova, menyambut langkah ini sebagai “bukti nyata bahwa AS tidak hanya berbicara, tetapi bergerak.”
Dalam waktu yang sama, Eropa bersama Kyiv menyelesaikan draf peta jalan perdamaian 12 poin, selaras dengan skema “gencatan senjata pada garis pertahanan saat ini” yang sebelumnya dikemukakan Trump.
Isi Kerangka Perdamaian Eropa–Ukraina:
- Penghentian perang berdasarkan posisi pasukan saat ini
- Pemulangan anak-anak Ukraina yang dideportasi Rusia
- Pertukaran tahanan lintas-negara
- Skema keamanan + dana rekonstruksi
- Percepatan integrasi Ukraina ke UE tanpa menunggu perdamaian penuh
Moskow Menolak Mentah-mentah – dan Balasang Langsung pun Dikeluarkan
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov menolak seluruh kerangka damai tersebut, menyebutnya “bukan perdamaian, melainkan taktik penghentian sementara agar Ukraina dan NATO bisa mengisi kembali senjatanya.”
Lavrov juga mengecam keras Menteri Luar Negeri Polandia, yang sebelumnya mengancam bahwa pesawat Putin “tidak akan dijamin keselamatannya” bila mencoba melintasi wilayah udara Polandia.
Sebagai jawaban keras atas semua tekanan itu, Kremlin mengonfirmasi latihan strategis besar-besaran kekuatan nuklir — langsung di bawah kendali Putin — melibatkan:
- Rudal balistik dari pangkalan darat
- Kapal selam nuklir kelas Borei
- Pembom strategis Tu-95 dan Tu-160
Aksi Segera Trump Berikutnya : Tekan Tiongkok
Trump menegaskan fokus berikutnya adalah mengarahkan tekanan ke Beijing, karena Tiongkok adalah jalur ekspor minyak tersembunyi Rusia yang kini menjadi penopang utama suplai Moskow.
Trump dijadwalkan bertemu langsung dengan Xi Jinping di Seoul, Korea Selatan, pekan depan.
Dia mengatakan: “Xi punya pengaruh besar terhadap Putin. Bila Tiongkok ikut menutup keran energi Rusia — perang akan selesai dalam 60 hari.”


