Master Hong Yi: “Setiap orang punya dermaganya sendiri, punya perahunya sendiri. Manusia punya takdirnya masing-masing.”

EtIndonesia. Salah satu ajaran terkenal Master Hong Yi berkata: “Saat naik kapal, jangan memikirkan orang-orang di daratan. Saat turun kapal, jangan membicarakan urusan di atas kapal. 

Masa lalu tak perlu diceritakan pada orang baru; Dan orang baru tak perlu menggali kisah lama. Jika dalam kehidupan sebelumnya ada utang, maka kehidupan ini kita akan bertemu. Jika dia pergi, berarti utangnya sudah lunas.

Segala pertemuan dan perpisahan berasal dari takdir, bukan kendali manusia. Setiap orang punya dermaga penyeberangannya sendiri, punya perahu kepulangannya sendiri. Gunung tinggi, sungai panjang — setiap jiwa punya takdirnya masing-masing.”

Pada hakikatnya, hidup manusia hanyalah satu perjalanan melewati gunung dan sungai. Apa yang ingin kau pertahankan — tak akan bisa kau genggam selamanya.  Apa yang ingin kau bawa — juga pada akhirnya harus kau lepaskan.

Kita mencicipi asin, manis, pahit, getirnya hidup. Kita alami tawa dan air mata, perjumpaan dan perpisahan. Dan suatu saat, ketika semuanya usai — kita pun sampai di akhir perjalanan.

Gemerlap dunia hanya sementara — jika kau mampu melihatnya sebagai bayang-bayang, hati akan tenang.  Masalah tak pernah hilang — namun ketika pikiranmu terbuka, hari pun menjadi terang.

Apa sebenarnya yang benar-benar “milik kita” dalam hidup ini? Harta? Kekuasaan? Nama besar?

Sesungguhnya — tidak ada satu pun dari semua itu yang mutlak menjadi milik kita. Semua yang kita genggam hanyalah hak pakai yang sementara. Yang kita kejar—sebenarnya tidak pernah benar-benar kita miliki.

Semua ini fana. Ketika kau datang, dunia menyambut. Ketika kau pergi, kau tetap pulang dengan tangan kosong.

Yang membuat hidup terasa berat bukan karena dunia keras —  melainkan karena hati kita tidak mampu melepaskan.

Kita hanya singgah sebentar di dunia manusia. Mengapa harus terlalu menggenggam? Tubuh ini hanya pakaian pinjaman — Kita berjalan, melihat, lalu berpamitan kembali.

Saat waktunya tiba — semua tetap harus dilepas. Yang akan tersisa hanyalah keheningan, Tanpa aku, tanpa kamu, tanpa nama.

Kita dulu seharusnya adalah jiwa yang pulang ke cahaya, Namun tersesat jatuh ke gemerlap dunia dan terikat olehnya. Begitu banyak cinta, begitu banyak kelekatan. Kita mengulurkan hati dengan tulus — namun akhirnya sering kalah oleh beberapa keping uang.

Sibuk sejak fajar hingga malam, mengorbankan tubuh dan jiwa — padahal akhirnya, uang tetap tak bisa dibawa, dan cinta pun tak bisa dimiliki selamanya.

Maka — biarkan waktu kembali kepada waktu. Biarkan orang lain kembali kepada dirinya masing-masing. Dan biarkan dirimu pulang kepada dirimu sendiri.

Hidup ini sederhana saja: Belajar agar batin tenang, berusaha agar hidup tercukupi, dan pada waktunya — belajar menikmati hidup, mengizinkan diri bahagia.

Jika takdir mempertemukan — terimalah. Jika tiba waktunya berpisah — lepaskanlah. Jangan memaksa siapa pun. Jangan menyiksa dirimu. Segala sesuatu telah lama ditulis. Ketika hari itu tiba — terimalah dengan hati yang tenang.

Mungkin satu-satunya hal yang benar-benar milikmu adalah detik ini — saat engkau hidup. Bahkan jika itu penuh luka — tetaplah hidup sepenuhnya. Karena hidup bukan soal memiliki — tapi tentang mengalami.

Hidup ini hanyalah perjalanan singkat. Letakkan bebanmu sesekali. Selama masih sehat dan masih hidup — jalanilah dengan baik dan damai. Tidak ada sungai yang tak dapat diseberangi. Tidak ada gunung yang tak dapat dilewati. Yang menahanmu — hanya gelombang emosi yang belum kau jinakkan.

Pagi berganti malam, musim silih berganti. Tahun berlalu begitu cepat.  Apa pun dirimu nanti — jangan menyalahkan siapa pun. Jangan membenci dirimu yang dulu.

Karena jika Tuhan memberi jalan ini untukmu — itu karena Dia tahu… kamu mampu melewatinya.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Chemistry Tumbuh dari Kedekatan: Mengapa Kencan Tatap Muka Masih Tak Tergantikan di Era Digital

Di era ketika lebih dari setengah lajang berusia di bawah 30 tahun menggunakan aplikasi kencan, berbagai bukti menunjukkan bahwa pendekatan digital terhadap percintaan mungkin...

Mengapa Introvert dan Ekstrovert Sama-Sama Berperan Penting dengan Kekuatan Mereka yang Unik

Cara sistem saraf kita merespons lingkungan sosial mencerminkan lebih dari sekadar kepribadian. Oleh Sarah Campise Hallier Dua orang teman memasuki sebuah bar karaoke. Yang satu langsung...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine