EtIndonesia. Yu Kwang-chung pernah berkata: “Lain kali saat kamu lewat, mungkin aku sudah tidak di dunia ini.”
Kalimat yang begitu sederhana, namun menyingkap seberapa rapuh dan sementara hubungan antar manusia.
Sebagai informasi singkat, Yu Kwang-chung, juga diromanisasi sebagai Yu Guangzhong adalah seorang penulis, penyair, pendidik, dan kritikus Taiwan.
Hidup ini — seberapa lama sebenarnya? Paling banyak hanya beberapa dekade. Jika dihitung pun, hanya sekitar tiga puluh ribu hari. Sungguh tidak panjang.
Kita semua adalah sosok yang unik dan tak tergantikan. Namun setiap pertemuan yang kita miliki — mungkin saja adalah yang terakhir.
Sepanjang perjalanan hidup, entah berapa banyak orang yang kita temui — lalu hilang tanpa jejak. Bahkan tinggal di kota yang sama sekalipun, mungkin puluhan tahun tak lagi berpapasan.
Yang paling menyedihkan bukanlah mereka yang sejak awal memang asing, melainkan mereka yang dulu begitu dekat… namun berangsur menjadi asing.
Nama-nama di daftar kontak — lama tak tersentuh. Status teman di media sosial — tidak lagi ingin kita buka. Hubungan yang dulunya hangat — perlahan berubah menjadi basa-basi… lalu menjadi kosong.
Dua orang yang dulu tak terpisahkan — kini duduk berhadapan pun tak tahu harus bicara apa.
Jangan berpikir kita bisa berkata: “Kalau tak sempat sekarang, nanti saja di kehidupan berikutnya.”
Tidak. Dunia ini tidak menjanjikan pertemuan kedua.
Seratus tahun kemudian — kita akan berada di lubang masing-masing. Mulut tak lagi bisa bicara, hati tak lagi bisa mencintai. Bahkan bertengkar pun sudah menjadi kemewahan yang tak terjangkau.
Hidup ini rapuh. Jika seseorang ingin bertemu — jangan terlalu sering menunda. Jika seseorang tulus padamu — jangan terus menganggapnya biasa.
Karena:
- Terlalu sering menolak — orang akhirnya berhenti mengetuk.
- Terlalu sering didiamkan — kehangatan akan membeku.
- Terlalu lama menunggu — kesempatan akan mati.
Air panas jika dibiarkan lama — akan menjadi dingin. Hati yang terus-terusan diabaikan — akan menjadi datar.
Apa sebenarnya kepemilikan paling mahal dalam hidup?Rumah sebesar apa pun — kita hanya tidur di satu ruangan. Mobil semewah apa pun — hanya mengantar kita dari titik A ke titik B.
Segala yang bisa dibeli — sesungguhnya tidak terlalu berharga.
Yang benar-benar tak ternilai adalah: hal-hal yang ketika pergi — tidak bisa digantikan, bahkan tidak bisa diulang.
- Orangtua yang sudah tua — tak bisa kita sayangi untuk kedua kalinya.
- Pasangan yang sudah pergi — tak bisa kita temani di hari berikutnya.
- Anak yang tumbuh besar — tidak akan kembali ke usia kecilnya lagi.
Ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa diputar ulang. Sekali lewat, hilang selamanya.
Karena itu — selagi hari ini masih ada, selagi orang-orang yang berarti masih di sisi — jangan biarkan waktu mencuri kesempatanmu.
Jika bisa memaafkan, jangan memperpanjang pertengkaran. Jika bisa menyapa, jangan terus menjaga jarak. Jika bisa hadir, jangan hanya mengamati.
Ingatlah:
Lain kali saat kau lewat — mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Maka selagi hari ini masih ada — jangan sia-siakan yang tidak bisa diulang.
Lain kali saat kau lewat — mungkin kita bahkan tidak saling mengenal lagi. (jhn/yn)


