EtIndonesia. Sejak Amerika Serikat melancarkan gelombang baru operasi pemberantasan perdagangan narkoba, militer AS untuk pertama kalinya melakukan aksi militer di wilayah Pasifik. Pada Kamis (23 Oktober), Presiden Donald Trump menegaskan bahwa aksi darat militer AS di Venezuela akan segera dimulai.
Sehari sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperingatkan keras, bahwa siapa pun yang tidak ingin kapalnya dihancurkan, harus berhenti mengirim narkoba ke AS.
“Kalau Tidak Ingin Kapal Dihancurkan, Berhentilah Mengirim Narkoba ke Amerika,” kata Menlu Rubio.
“Itu semua adalah kapal penyelundup narkoba. Jika orang-orang ingin berhenti melihat kapal mereka diledakkan, maka berhentilah mengirim narkoba ke Amerika Serikat,” katanya.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan pada Rabu (22 Oktober) bahwa militer AS menyerang dua kapal di kawasan timur Samudra Pasifik, menewaskan lima orang tersangka pengedar narkoba.
Dalam unggahan di platform X, Hegseth menulis bahwa intelijen AS telah memantau kapal-kapal tersebut, yang diyakini terlibat dalam penyelundupan narkoba ilegal di sepanjang jalur perdagangan narkoba internasional. Ia menegaskan bahwa kartel narkoba ini sama berbahayanya dengan Al-Qaeda, dan sedang melancarkan perang terhadap perbatasan serta rakyat Amerika.
Trump: Sanksi Militer untuk Selamatkan Nyawa Rakyat Amerika
Menanggapi pertanyaan soal legalitas serangan terhadap kapal penyelundup narkoba, Trump menyatakan bahwa narkoba yang masuk ke AS telah menewaskan 300.000 orang tahun lalu, dan operasi ini adalah demi keamanan nasional dan penyelamatan nyawa rakyat Amerika. Ia menegaskan bahwa pemerintahannya memiliki kewenangan hukum penuh untuk melancarkan operasi tersebut.
Presiden Trump juga kembali menegaskan rencana serangan darat terhadap target di Venezuela, serta kemungkinan tindakan keras terhadap Kolombia.
“Kau tidak akan merasa bersalah atas (serangan terhadap kapal penyelundup), karena setiap kali hal itu terjadi, kau telah menyelamatkan sekitar 25.000 nyawa warga Amerika,” ujarnya.
“Ketika mereka (pengedar narkoba) mencoba masuk lewat jalur darat, kami akan menyerang mereka dengan keras. Mereka belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Tapi sekarang kami sudah siap sepenuhnya. Kami mungkin akan kembali ke Kongres untuk menjelaskan secara rinci langkah-langkah yang akan kami ambil di darat,” katanya.
Pasifik vs Venezuela: Rubio Jelaskan Perbedaan Strategis
“Perbedaannya antara kawasan Pasifik dan Venezuela adalah bahwa kami memiliki mitra kerja sama di Pasifik,” kata Rubio.
Seorang jurnalis kemudian bertanya: “Jika AS punya sekutu di kawasan itu, mengapa tetap menyerang kapal dan membunuh orang di atasnya?”
Rubio menjawab: “Amerika memiliki kemampuan unik yang tidak dimiliki negara lain. Saya tidak akan menjelaskan secara rinci intelijen yang kami kumpulkan, tetapi saya dapat menjamin bahwa setiap kapal dan muatannya yang menjadi sasaran serangan telah dipantau sejak awal.”
“Setiap pergerakan barang-barang tersebut dilacak dengan ketat. Ada ratusan kapal yang beroperasi di laut setiap hari, dan banyak operasi udara yang kami batalkan karena tidak memenuhi standar.”
AS Perluas Operasi di Karibia dan Pasifik
Sebelumnya, militer AS telah melancarkan sedikitnya tujuh serangan di wilayah Karibia, yang menewaskan 32 pengedar narkoba asal Amerika Selatan.
Menurut laporan AFP, pada Rabu lalu, militer AS juga melakukan latihan kecil di pesisir Karibia, Panama, yang bertujuan untuk menumpas kejahatan terorganisir dan penyelundupan narkoba.
Sementara itu, AS juga sedang mengerahkan kekuatan militer besar di lepas pantai Venezuela. Namun pihak militer menegaskan bahwa latihan tersebut tidak berkaitan langsung dengan rencana intervensi militer di Venezuela.
Sumber: New Tang Dynasty Television (NTDTV)


