Pasar Properti Tiongkok Terus Menurun, Investor Asing Merugi

EtIndonesia. Pasar properti di Tiongkok terus mengalami penurunan tajam, dan kepercayaan investor asing pun merosot cepat. Baru-baru ini, sejumlah lembaga investasi internasional memilih menjual proyek properti mereka di Tiongkok dengan kerugian besar. Para ahli menilai, fenomena ini menunjukkan kemerosotan struktural ekonomi Tiongkok serta pecahnya gelembung properti secara menyeluruh.

Ekonomi Tiongkok Terus Melemah, Investasi Turun Tajam

Menurut data yang diumumkan oleh Biro Statistik Tiongkok pada 20 Oktober, investasi aset tetap di tiga kuartal pertama tahun ini turun 0,5%, merupakan penurunan pertama sejak pandemi 2020.

Sementara itu, investasi di sektor real estat telah menurun selama 36 bulan berturut-turut, dan pada sembilan bulan pertama tahun ini, anjlok 13,9% dibanding tahun sebelumnya.

Presiden BoYin Asset Management, Zhang Zhiwei, mengatakan bahwa tren penurunan investasi di Tiongkok sangat mengkhawatirkan, dan pertumbuhan ekonomi pada kuartal keempat kemungkinan akan terus melemah.

Investor Asing Berbondong-Bondong Keluar dari Pasar Properti Tiongkok

Modal asing kini semakin cepat meninggalkan pasar properti Tiongkok. Selama empat tahun berturut-turut, dana investasi global secara bersih menjual aset properti komersial di Tiongkok, dengan total penjualan mencapai USD 11,2 miliar antara 2021 hingga 2024.

Perusahaan investasi besar seperti BlackRock dan Carlyle Group pun menjual aset mereka dengan kerugian besar, menyebabkan bank-bank pemberi pinjaman ikut terdampak. Menurut beberapa pedagang dan bankir, semakin banyak lembaga global yang mempertimbangkan untuk keluar sepenuhnya dari pasar Tiongkok.

Profesor Xie Tian dari Aiken Business School, University of South Carolina, menilai bahwa investor asing telah tertipu oleh sinyal pasar palsu dari rezim PKT, dan ketika mereka mulai menyadari kondisi ekonomi yang sebenarnya, mereka segera mempercepat penarikan modal.

“Banyak ahli politik dan ekonomi sudah lama memperingatkan bahwa ekonomi Partai Komunis Tiongkok penuh kebohongan. Pasarnya palsu dan menyesatkan. Tapi perusahaan-perusahaan itu tidak mau percaya, atau bahkan sengaja ingin membantu PKT bertahan hidup. Lihat saja Li Ka-shing — dia mundur lebih awal dan berhasil menyelamatkan kekayaannya. Banyak yang baru sadar sekarang, tapi sudah terlambat,” ujar Xie Tian.

Dari Investasi Besar ke Kerugian Masif

Menurut data gabungan Goldman Sachs dan MSCI, dalam 15 tahun terakhir investor asing telah menanamkan sekitar USD 140 miliar di sektor properti Tiongkok, meliputi gedung perkantoran, gudang, dan pusat perbelanjaan.

Ekonom AS Huang Dawei menjelaskan bahwa pasar Tiongkok yang dulunya menjanjikan keuntungan tinggi, kini telah berbalik arah menjadi berisiko besar.

“Peluang pertumbuhan yang dulu besar kini perlahan hilang, sementara risikonya terus meningkat. Pasar saham dan properti Tiongkok terus memburuk, bahkan menimbulkan ketidakpastian besar bagi investor asing. Saat aset sulit dijual dan ekspektasi pasar memburuk, risiko kerugian pun meningkat, sehingga mereka mempercepat arus keluar modal,” jelasnya.

Sebelum pandemi, investor asing menggelontorkan dana besar ke properti Tiongkok, dengan rekor pembelian mencapai hampir USD 20 miliar pada 2019.
Namun sejak 2021, krisis sektor properti meledak bertubi-tubi.
Meskipun pada 2024 rezim PKT mengeluarkan lebih dari 780 kebijakan untuk “menstabilkan pasar properti”, hasilnya tetap nihil — sektor properti tetap lesu.

Seorang pejabat Kementerian Perumahan dan Pembangunan Perkotaan mengungkapkan bahwa Tiongkok kini memiliki hampir 600 juta bangunan, menyebabkan kelebihan pasokan properti, sewa turun tajam, dan harga rumah jatuh — beberapa bahkan kembali ke level 10 tahun lalu.

Risiko Likuiditas dan Efek Domino di Depan Mata

Huang Dawei menambahkan: “Begitu harga aset jatuh dan likuiditas memburuk, risiko utang meningkat. Ketika pasar tidak lagi dipercaya oleh investor domestik maupun asing, akan terbentuk siklus negatif. Hal ini bisa memicu efek domino dan mempercepat kehati-hatian investor lain — menyebabkan penurunan pasar yang makin dalam dan spiral ke bawah.”

Analis dari lembaga pemeringkat Fitch Ratings, Deng Biying, juga menilai bahwa lingkungan pasar Tiongkok yang buruk akan memicu lebih banyak penjualan aset bermasalah di masa depan.

Investor Asing Terjebak, BUMN Tiongkok Juga Ikut Menjual Aset

Analis properti Asia-Pasifik Patrick Huang mengatakan bahwa investasi asing di sektor properti Tiongkok kini sudah benar-benar “terkunci”, sulit dijual dan sulit pulih.

“Sebagian besar investor asing menanamkan modal pada proyek besar seperti properti komersial berskala tinggi. Di pasar yang sedang jatuh, menjual aset semacam itu sangat sulit. Jadi bagi banyak lembaga investasi, keluar sekarang bukan hanya berarti menjual rugi, tapi juga sulit menemukan pembeli,” ujarnya.

Faktanya, perusahaan milik negara (BUMN) Tiongkok juga mulai menjual properti mereka.
Sejak 2024, perusahaan negara di Guangzhou dan Jinan telah mendaftarkan aset-aset properti untuk dijual, dan baru-baru ini, BUMN di Beijing, Shandong, serta Zhejiang juga menawarkan paket besar properti dan toko untuk dijual cepat.


Sumber: New Tang Dynasty Television (NTDTV)

INSPIRASI ERABARU

Chemistry Tumbuh dari Kedekatan: Mengapa Kencan Tatap Muka Masih Tak Tergantikan di Era Digital

Di era ketika lebih dari setengah lajang berusia di bawah 30 tahun menggunakan aplikasi kencan, berbagai bukti menunjukkan bahwa pendekatan digital terhadap percintaan mungkin...

Mengapa Introvert dan Ekstrovert Sama-Sama Berperan Penting dengan Kekuatan Mereka yang Unik

Cara sistem saraf kita merespons lingkungan sosial mencerminkan lebih dari sekadar kepribadian. Oleh Sarah Campise Hallier Dua orang teman memasuki sebuah bar karaoke. Yang satu langsung...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine