EtIndonesia. Pada Kamis (23/10/2025), harga minyak internasional melonjak hampir 5%. Penyebab utama lonjakan ini adalah karena Amerika Serikat mengumumkan penerapan sanksi keras terhadap dua raksasa energi Rusia. Kedua perusahaan tersebut menguasai hampir setengah dari total produksi minyak Rusia dan merupakan sumber utama dana bagi Presiden Putin untuk membiayai perang.
Dampak dari sanksi ini membuat sejumlah perusahaan energi milik negara di Tiongkok dan India menghentikan pembelian minyak dari Rusia. Sementara itu, Uni Eropa juga mengesahkan paket sanksi ke-19 terhadap Rusia.
AS Berlakukan Sanksi Berat terhadap Dua Perusahaan Minyak Utama Rusia, BUMN Tiongkok Hentikan Pembelian
Pada hari Kamis, harga minyak dunia naik hampir 5% setelah Amerika Serikat pada hari sebelumnya menjatuhkan sanksi berat terhadap dua perusahaan minyak terbesar Rusia — Rosneft dan Lukoil.
Kedua perusahaan tersebut memproduksi sekitar separuh dari total produksi minyak Rusia, atau lebih dari 5% dari total produksi minyak mentah dunia.
Pendapatan dari minyak dan gas alam menyumbang seperempat dari anggaran negara Rusia, menjadi sumber utama dana bagi Moskow untuk melanjutkan perang di Ukraina. Inilah alasan utama AS meningkatkan sanksinya: untuk melemahkan kas perang Rusia dan mengirimkan ultimatum kepada Putin agar menghentikan perang. Pengamat menilai langkah ini menunjukkan pergeseran besar dalam kebijakan pemerintahan Trump terhadap Moskow.
“Saya pikir (sanksi ini) pasti akan berdampak. Ini adalah sanksi besar-besaran, ditujukan pada sektor minyak — terhadap dua perusahaan minyak terbesar Rusia di dunia. Saya hanya merasa sekarang waktunya sudah tiba. Kami telah menunggu cukup lama,” kata Trump.
Menurut pengumuman resmi, Departemen Keuangan AS mengharuskan semua perusahaan menghentikan transaksi dengan produsen minyak Rusia sebelum 21 November.
Sejumlah sumber industri mengatakan kepada Reuters bahwa setelah pengumuman sanksi tersebut, perusahaan-perusahaan minyak milik negara Tiongkok — termasuk PetroChina, Sinopec, CNOOC, dan Zhenhua Oil — semuanya menangguhkan pembelian minyak Rusia.
Selain itu, sumber yang mengetahui situasi juga mengungkapkan bahwa Reliance Industries, perusahaan swasta India yang merupakan pembeli terbesar minyak Rusia, juga berencana untuk mengurangi atau menghentikan impor minyak Rusia, termasuk menunda perjanjian pembelian jangka panjang dengan Rosneft.
Tiongkok dan India merupakan dua pelanggan utama minyak Rusia. Para analis memperkirakan bahwa penurunan tajam dalam pembelian ini kemungkinan akan memaksa Moskow mencari pembeli baru.
Eropa dan AS Serempak Menjatuhkan Sanksi Baru – Zelenskyy: “Langkah Penting”
Sementara itu, Uni Eropa juga mengambil langkah besar. Pada hari Kamis, negara-negara anggota UE resmi mengesahkan paket sanksi ke-19 terhadap Rusia yang mencakup pembatasan terhadap “armada bayangan” Rusia, sektor perbankan dan energi, serta larangan impor gas alam cair (LNG) dari Rusia.
Yang luar biasa, dua kilang minyak Tiongkok juga dimasukkan ke dalam daftar sanksi.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan: “Paket ke-19 ini sangat penting bagi para pemimpin Eropa dan Uni Eropa. Sanksi AS juga sangat penting. Ini mengirimkan sinyal positif kepada negara-negara lain di dunia untuk bergabung dalam pemberlakuan sanksi.”
Sementara itu, Putin pada hari yang sama menanggapi bahwa sanksi tidak bersahabat dari AS akan membawa dampak tertentu, namun tidak akan mengguncang ekonomi Rusia secara signifikan.
Ia juga menegaskan dengan nada keras bahwa Moskow tidak akan tunduk pada tekanan dari AS maupun negara lain. (Hui/asr)
Laporan oleh: Yi Jing/New Tang Dynasty Television (NTDTV)


