EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan mengadakan pertemuan bilateral dengan pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping minggu depan, sebagai bagian dari agenda kunjungan Trump ke Asia. Gedung Putih pada Kamis (23 Oktober) mengumumkan rincian perjalanan tersebut. Berikut laporan dari koresponden NTD di Gedung Putih, Zhang Liang.
“Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan bahwa Presiden Trump akan mengadakan pertemuan dengan pemimpin PKT Xi Jinping pada Kamis pagi (30 Oktober) waktu setempat, sebelum berangkat kembali ke Washington,” ujar Zhang Liang.
“Kunjungan ke Asia ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Awal bulan ini, pihak Tiongkok memperluas pembatasan ekspor terhadap logam tanah jarang serta peralatan dan teknologi terkait, sebagai tanggapan atas langkah AS yang memperluas larangan terhadap perusahaan Tiongkok dalam membeli teknologi Amerika,” tambahnya.
Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt : “Pada Kamis pagi waktu setempat (30 Oktober), Presiden Trump akan mengadakan pertemuan bilateral dengan pemimpin PKT Xi Jinping.”
Leavitt menyatakan bahwa selama perjalanan enam hari ini, Trump akan bertemu dengan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, dan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung. Sebelum kembali ke AS pada Kamis depan, Trump akan bertemu dengan Xi Jinping di kota Busan.
Dalam hal keamanan dalam negeri, pada konferensi pers Kamis malam, Trump menyinggung upaya pemerintahannya dalam memberantas narkoba dan kejahatan. Ia menyebut sejak 20 Januari tahun ini, pemerintahannya telah menangkap lebih dari 120.000 penjahat berbahaya di seluruh Amerika Serikat—sebuah rekor baru dalam sejarah.
Presiden Donald Trump: “Dalam hitungan minggu saja, satuan tugas kami telah memecahkan rekor penangkapan pemimpin dan anggota kartel serta geng kriminal terbanyak dalam sejarah Amerika, lebih dari 3.000 orang, dan jumlahnya terus meningkat. Termasuk di antaranya anggota kartel New Generation yang sangat brutal, Kartel Sinaloa, LNFM, geng MS-13, serta geng Tren de Aragua.”
“Selain itu, Presiden Trump memutuskan untuk membongkar sayap timur Gedung Putih guna membangun aula perjamuan mewah yang baru. Lokasi tersebut sebelumnya digunakan sebagai kantor bagi para Ibu Negara terdahulu, dan keputusan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat,” Reporter Zhang Liang.
“Gedung Putih menyatakan akan mengajukan rencana pembangunan tersebut kepada Komisi Perencanaan Ibu Kota Nasional, namun menegaskan bahwa lembaga itu tidak memiliki kewenangan untuk menghalangi keputusan pembongkaran. Saat ini, pekerjaan pembongkaran telah dimulai, dan anggaran proyek meningkat dari 200 juta dolar AS menjadi 300 juta dolar,” lanjutnya. (Hui/asr)
Laporan oleh Zhang Liang dan Yi Xin dari Gedung Putih, Amerika Serikat, untuk New Tang Dynasty Television.


