Presiden Trump mengunjungi Jepang dalam tur pertamanya ke Asia sejak kembali menduduki Gedung Putih
Oleh Travis Gillmore
Presiden Amerika Serikat Donald Trump disambut oleh kepala negara Jepang, Kaisar Naruhito, setelah tiba di Negeri Matahari Terbit pada Senin (27/10/2025). Keduanya bertemu secara singkat di Istana Kekaisaran Tokyo. Tidak ada pernyataan yang dikeluarkan dari kedua pihak, dan media Amerika Serikat tidak diundang untuk meliput acara tersebut.
Pertemuan pertama antara kedua pemimpin itu terjadi pada 2019, ketika Trump menjabat untuk pertama kalinya, tak lama setelah Naruhito naik takhta Krisantem.
Garis keturunan kaisar Jepang telah berlangsung selama ribuan tahun. Beberapa di antaranya dipandang sebagai sosok ilahi, sementara yang lain berperan sebagai kepala negara tradisional.
Sistem politik Jepang saat ini berakar pada konstitusi yang disusun oleh pasukan Sekutu antara tahun 1945 hingga 1947.
Dokumen itu membatasi kekuasaan politik kaisar, memperkuat kewenangan parlemen dalam mengatur undang-undang, menghapus hak untuk berperang, serta melarang pembentukan angkatan bersenjata selain untuk tujuan pertahanan—menurut keterangan dari Departemen Luar Negeri AS.
Trump dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri baru Jepang, Sanae Takaichi, pada 28 Oktober untuk membahas isu perdagangan dan keamanan, serta beberapa hal lainnya.
Takaichi menjadi perdana menteri perempuan pertama di Jepang setelah memperoleh dukungan dari majelis rendah parlemen pada 21 Oktober.
“Kami akan mengumumkan sebuah persahabatan yang hebat,” ujar Trump kepada wartawan di pesawat Air Force One dalam perjalanan menuju Jepang. “Ini akan menjadi hal yang sangat baik.”
Setelah pertemuan itu, Trump akan naik ke kapal induk USS George Washington untuk menyampaikan pidato kepada pasukan AS yang bertugas di kawasan tersebut.
Ia kemudian akan menghadiri jamuan makan malam bersama para pemimpin bisnis di Tokyo.
Tidak ada rincian yang diberikan mengenai daftar tamu atau perusahaan yang akan hadir.
Kunjungan ini merupakan perhentian kedua dalam tur tiga negara di Asia yang dimulai di Kuala Lumpur, Malaysia.
Selama berada di Malaysia, Trump menyaksikan penandatanganan berbagai kesepakatan dagang, perjanjian mineral tanah jarang, serta perjanjian damai bersejarah antara pemerintah Thailand dan Kamboja.
Trump selanjutnya akan terbang ke Korea Selatan untuk melakukan pembicaraan bilateral di sela-sela konferensi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC).
Ia juga akan bertemu dengan pemimpin Partai Komunis Tiongkok, Xi Jinping, di Busan, Korea Selatan, pada 30 Oktober.
“Saya rasa kita akan mencapai sebuah kesepakatan,” kata Trump, merujuk pada kerangka perjanjian dagang yang baru dibahas dalam beberapa hari terakhir.
Trump menambahkan bahwa ia akan mengunjungi Tiongkok pada awal 2026, dan Xi Jinping dapat berkunjung ke Washington atau kediaman Trump di Mar-a-Lago pada tahun depan.
Pertemuan dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, juga mungkin terjadi selama Trump berada di Asia.
“Aku akan senang bertemu dengannya jika dia juga ingin bertemu,” ujar Trump, seraya menyatakan kesediaannya memperpanjang perjalanan demi mewujudkan pertemuan itu.
Kedua pemimpin tersebut pertama kali bertemu pada tahun 2019, pada masa jabatan pertama Trump—menandai satu-satunya kesempatan dalam sejarah ketika seorang presiden AS menyeberangi perbatasan ke Korea Utara.


