Bulan Sedang Melihatmu

EtIndonesia. Di sebuah desa kecil, hiduplah sebuah keluarga miskin. Untuk menghemat pengeluaran, sang ayah sering diam-diam masuk ke kebun sayur tetangganya pada malam hari untuk mencuri beberapa sayuran.

Pada suatu malam, dia kembali mengajak anak laki-lakinya yang masih berusia tujuh tahun menyelinap ke kebun orang. Baru saja dia mencabut beberapa batang lobak, tiba-tiba si anak berbisik pelan dari belakang: “Ayah… ada yang sedang melihat Ayah!”

Sang ayah langsung terkejut. Dia panik, menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu berbisik: “Siapa? Di mana? Di mana orangnya?”

Anak itu menunjuk ke langit, dan berkata dengan sangat polos: “Ayah, lihat… bukankah bulan sedang melihat Ayah?”

Kalimat sederhana itu membungkam sang ayah seketika. Tangannya yang memegang lobak perlahan terkulai. Dia merasa malu… tapi juga tersadar.

Tanpa berkata apa-apa, dia menggandeng tangan anaknya — dan diam-diam pulang.

Sepanjang jalan, dia berpikir dalam hati: “Mencuri itu salah… Tuhan mungkin memakai mulut anakku untuk menyadarkanku… untuk mengajakku kembali ke jalan yang benar.”

Sementara itu — sang pemilik kebun yang sudah lama kesal karena sayurannya terus hilang — diam-diam sedang bersembunyi di balik pohon malam itu untuk memergoki pencurinya.

Ketika dia hendak meneriaki “pencuri!”, tiba-tiba ia mendengar ucapan si anak: “Ayah… bulan sedang melihat Ayah.”

Dia pun ikut terdiam. Tak jadi berteriak. Dia mendongak ke langit… memandangi bulan yang bersinar.

Dan dengan cahaya bulan itu — dia melihat wajah pencuri.  Ternyata dia kenal — orang itu tetangga sekampung yang memang hidup sangat miskin.

Malam itu, pemilik kebun pulang ke rumah, menceritakan semuanya kepada istrinya.

Sang istri hanya berkata pelan: “Bukankah bulan itu… juga sedang melihatmu?”

Malam itu, pemilik kebun tidak bisa tidur.  Keesokan harinya, dia mendatangi tetangga miskin itu — bukan untuk memarahinya.

Melainkan berkata: “Aku butuh orang untuk membantu di kebun.  Kalau kamu bersedia kerja, aku akan bayar… dan kamu juga boleh membawa pulang sayur setiap hari.”

Mendapat kesempatan kerja dan harga diri — tentu saja sang ayah langsung menerimanya dengan tulus dan lega.

Malam itu, si ayah dan anaknya kembali memandang bulan.

Si anak berkata: “Ayah, lihat… bulan sedang tersenyum.”

Dan di rumahnya sendiri, pemilik kebun juga menatap bulan sambil berkata kepada istrinya: “Dulu aku tidak sadar… bulan selalu melihat — bukan hanya orang lain. Tapi juga aku.
Melihat apa yang orang lakukan… dan bagaimana aku memilih untuk bertindak.”

Sahabatku… Jika suatu hari kau memiliki kesempatan untuk membantu orang lain — Bantulah.

Tapi ingatlah satu hal: Dalam menolong seseorang — jangan pernah mengabaikan harga dirinya. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine