17,5% Siswa di Tiongkok Menderita Gangguan Mental, Rezim Partai Komunis Tiongkok Umumkan “Sepuluh Aturan Pendidikan”

 Kabar tentang banyaknya siswa sekolah dasar dan menengah di Tiongkok yang bundir dengan cara melompat dari gedung terus bermunculan. Untuk memperkuat kesehatan mental para siswa, Kementerian Pendidikan Tiongkok mengeluarkan apa yang disebut “Sepuluh Langkah Penguatan Kesehatan Mental Siswa Sekolah Dasar dan Menengah”. Di antaranya: dilarang memberi peringkat berdasarkan nilai ujian, secara bertahap mereformasi sistem ujian masuk SMA (Zhongkao), serta mengurangi kecemasan siswa dan orang tua terkait masuk sekolah lanjutan. Namun isi kebijakan ini memicu perdebatan luas.

EtIndonesia. Para Siswa-siswi di Tiongkok umumnya menghadapi tekanan belajar yang besar. Mereka juga kurang tidur dan olahraga, kecanduan gim ponsel, serta masalah perundungan yang meluas.

Pada 23 Oktober, Kementerian Pendidikan Tiongkok merilis “Sepuluh Langkah Penguatan Kesehatan Mental Siswa Sekolah Dasar dan Menengah”

Isinya mencakup: mengurangi frekuensi tes harian, menyesuaikan tingkat kesulitan ujian secara wajar, melarang sekolah memberi peringkat nilai ujian, menerapkan “dua jam olahraga setiap hari”, menjamin waktu tidur yang cukup, dan melarang membawa ponsel atau perangkat elektronik ke dalam kelas.

Seorang cendekiawan di Beijing, bernama samaran Wang Hua, mengatakan bahwa meskipun pemerintah mengaku peduli pada kesehatan mental siswa dan melarang sistem peringkat, kenyataannya seluruh masyarakat Tiongkok penuh dengan sistem peringkat.

“Karena sistem sosial menentukan sistem ketenagakerjaan, dan sistem ketenagakerjaan menentukan sistem ujian serta seleksi. Sistem ujian dan seleksi membuat semuanya hanya melihat nilai, bukan kemampuan berpikir mandiri. Dengan begitu, tekanan mereka pasti meningkat,” ujar Wang Hua (nama samaran). 

“Ditambah lagi, apa yang mereka pelajari berlawanan dengan kenyataan sosial — masyarakat penuh dengan kebusukan moral, orang harus selalu waspada agar tidak ditipu, diculik, bahkan takut organ tubuhnya dicuri. Di tengah krisis dan tekanan semacam itu, bagaimana mungkin mereka bisa sehat secara mental?” tambahnya. 

Seorang pengacara dari  daratan Tiongkok, Chen Feng, menilai bahwa akar masalahnya terletak pada ideologi komunisme dan Marxisme itu sendiri. Langkah “sepuluh aturan” yang dikeluarkan pemerintah hanyalah tambalan yang tidak menyentuh akar persoalan.

 “Anak-anak dan remaja pada dasarnya aktif, penuh rasa ingin tahu, dan suka menjelajah. Namun pendidikan indoktrinasi komunis serta ajaran ateisme justru membunuh sifat alami manusia, demi mencapai keseragaman pikiran,” ujarnya. 

“Di dalam negeri, banyak gereja melarang anak di bawah umur masuk, tetapi begitu anak masuk SD, mereka diwajibkan bergabung dengan Pionir Muda — hampir 100%. Kontras ini jelas sekali. Masalahnya ada pada ideologi jahat rezim itu, yang telah menyelewengkan kemanusiaan dan sifat dasar manusia, sehingga banyak remaja akhirnya bermasalah secara mental,” tambahnya. 

Menurut data yang diumumkan media resmi Tiongkok pada 10 Oktober, prevalensi gangguan mental di kalangan siswa berusia 6–16 tahun mencapai 17,5%, artinya 1 dari 6 anak mengalami masalah psikologis. Namun Wang Hua meyakini angka ini sudah ditekan, dan jumlah sebenarnya jauh lebih tinggi.

 “Tekanan belajar tinggi karena masa depan mereka suram. Orang tua yang kehilangan harapan pada diri sendiri menggantungkan masa depan pada anak-anaknya. Pilihan hidup anak-anak sangat terbatas, sehingga mereka hanya bisa berjuang lewat nilai. Akibatnya, mereka tidak punya ruang untuk mengembangkan kemampuan, minat, dan bakat,” jelas Wang Hua. 

“Di dunia internasional semua menekankan kreativitas, tapi rezim ini malah membelenggu pikiran manusia — bagaimana mungkin bisa menciptakan sesuatu?” tegasnya. 

Lin Song, kepala sekolah salah satu sekolah Tionghoa di Sydney, Australia, mengatakan bahwa akar masalahnya adalah sistem totaliter Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang ingin mengontrol segalanya dan memaksa generasi muda untuk tunduk pada ideologi partai.

 “Di bawah kekuasaan PKT, generasi demi generasi di Tiongkok tumbuh tanpa kemampuan berpikir dan menganalisis. Mereka bahkan mengatur sampai dua jam olahraga per hari — mengapa harus ditekankan begitu keras?,” ujarnya. 

“Saya sempat berpikir, apakah tujuan sebenarnya adalah menjaga kesehatan fisik anak-anak seperti memelihara ayam, bebek, atau babi — agar tubuh mereka sehat dan nantinya bisa dijadikan sumber organ bagi pejabat partai untuk transplantasi? Saya tentu berharap tidak demikian, tapi siapa tahu niat tersembunyi mereka?” jelasnya. 

Dr. Lin menegaskan, tanpa perubahan sistem, sebanyak apapun “sepuluh langkah” seperti itu tidak akan mampu menyelesaikan masalah. Rezim hanya berusaha mencetak generasi baru yang patuh dan tidak berpikir kritis. (Hui/asr)

Huang Yimei/ Luo Ya – NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine