ASEAN yang beranggotakan 11 negara juga merupakan mitra dagang terbesar Tiongkok, dengan total perdagangan bilateral mencapai 771 miliar dolar AS tahun lalu.
Catherine Yang – The Epoch Times
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani sejumlah kesepakatan dagang selama tur ke Asia yang puncaknya akan diwarnai pertemuan dengan pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT), Xi Jinping, pekan ini.
Di saat bersamaan, Beijing berupaya memecah solidaritas antara negara-negara Asia dan Amerika Serikat dengan menawarkan berbagai kesepakatan dagang versi mereka sendiri.
Perjalanan Trump ini bertepatan dengan dua pertemuan besar kawasan Asia, yaitu KTT ASEAN di Malaysia dan KTT APEC di Korea Selatan, yang membuka peluang bagi pertemuan bilateral dengan puluhan negara di sela-selanya.
Berikut rangkuman kesepakatan yang dicapai Amerika Serikat dan Tiongkok selama tur ini.
Kesepakatan di ASEAN
Trump tiba di Malaysia pada 26 Oktober 2025, bersamaan dengan dimulainya KTT ASEAN, di mana ia menyaksikan penandatanganan perjanjian damai antara Thailand dan Kamboja—hasil mediasi yang ia bantu fasilitasi.
Pada hari yang sama, Gedung Putih mengumumkan tercapainya kesepakatan dagang dengan Kamboja dan Malaysia, serta kerangka perjanjian perdagangan dengan Thailand dan Vietnam. Selain itu, disepakati pula kerja sama dalam bidang keamanan dan pemberantasan kejahatan lintas negara selama kunjungan satu hari Trump di Malaysia.
Malaysia akan memberi akses preferensial bagi produk pertanian AS dan menurunkan hambatan bagi mobil asal AS. Negara itu juga setuju untuk membeli sejumlah besar produk energi dan teknologi dari AS, antara lain:
- Gas alam cair senilai 3,4 miliar dolar AS per tahun,
- Batu bara senilai 42,6 juta dolar AS per tahun,
- Produk telekomunikasi senilai 119 juta dolar AS,
- 30 pesawat Boeing, serta
- Semikonduktor, komponen kedirgantaraan, dan perlengkapan pusat data AS senilai total 150 miliar dolar AS.
Hubungan bilateral AS–Malaysia ditingkatkan menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif untuk pertama kalinya, yang memungkinkan kerja sama di bidang keamanan maritim.
Kamboja akan menghapus semua tarif atas produk AS, sementara AS mencabut embargo senjata terhadap Kamboja dan memperluas program pelatihan militer bagi perwira Kamboja. Kedua negara juga sepakat melanjutkan kembali latihan pertahanan gabungan serta kerja sama memberantas kejahatan lintas negara seperti perdagangan narkoba dan penipuan daring.
Thailand sepakat menghapus sebagian besar tarif atas produk industri, pangan, dan pertanian AS, serta memperkuat kerja sama dalam penyelidikan sindikat penipuan daring.
Vietnam akan memberi akses pasar yang lebih besar bagi produk industri dan pertanian AS. Beberapa perusahaan Vietnam telah menandatangani nota kesepahaman untuk membeli produk pertanian AS senilai 2,9 miliar dolar AS. Vietnam juga akan membeli 50 pesawat Boeing senilai lebih dari 8 miliar dolar AS.
Namun, sebelum perjanjian final ditandatangani, Vietnam harus menyelesaikan reformasi perlindungan hak kekayaan intelektual dan standar regulasi.
ASEAN sendiri merupakan mitra dagang terbesar Tiongkok, dengan total perdagangan dua arah mencapai 771 miliar dolar AS tahun lalu.
Saat Trump berada di Malaysia, Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang berbicara di KTT ASEAN pada 27 Oktober dan menyerukan agar negara-negara anggota bersatu melawan “proteksionisme” dan tarif perdagangan, serta mendorong “reformasi sistem tata kelola global.”
Trump sebelumnya menegaskan bahwa tarif diberlakukan untuk mengatasi defisit perdagangan dan hambatan tidak adil dari negara lain, serta untuk menghentikan ekspor prekursor fentanyl dari Tiongkok yang disebutnya sebagai pemicu krisis opioid di Amerika.
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr., yang negaranya akan menjadi ketua ASEAN pada 2026, menantang klaim damai Beijing dengan menyinggung insiden agresi kapal Tiongkok terhadap kapal Filipina di Laut Tiongkok Selatan.
Pada hari terakhir KTT, blok ASEAN menandatangani versi 3.0 perjanjian perdagangan bebas dengan Tiongkok, yang mencakup sektor baru seperti ekonomi digital dan ekonomi hijau.
“Peningkatan ini akan semakin mengurangi hambatan perdagangan, memperkuat rantai pasok, dan membuka peluang di sektor-sektor pertumbuhan masa depan,” ujar Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong.
Mineral Penting
Langkah Beijing pada awal Oktober yang membatasi ekspor logam tanah jarang (rare earth) meningkatkan ketegangan menjelang pertemuan Trump–Xi.
Trump menanggapi bahwa kendali Tiongkok atas logam tanah jarang bukanlah keunggulan besar jika digunakan dengan risiko kehilangan akses pasar AS.
Dalam masa jabatan keduanya, Trump mempercepat diversifikasi rantai pasok global dari ketergantungan pada Tiongkok. Setelah menandatangani perjanjian mineral penting dengan Australia pada 20 Oktober, ia mengatakan:
“Sekitar setahun dari sekarang, kita akan punya begitu banyak mineral penting dan logam tanah jarang hingga kita tak tahu harus menggunakannya untuk apa.”
Menurut negosiator perdagangan AS, Beijing bersedia menunda pembatasan ekspor logam tanah jarang selama satu tahun sambil meninjau ulang kebijakan tersebut.
Trump juga menandatangani perjanjian mineral penting dengan Thailand, Malaysia, dan Jepang.
Kesepakatan dengan Thailand dan Malaysia mencakup pertukaran informasi, investasi, dan kerja sama geosains, termasuk seminar akademik dan perlindungan industri dari praktik perdagangan tidak adil.
Sementara kerangka kerja sama dengan Jepang mencakup dukungan bersama untuk penambangan dan pemrosesan mineral penting, pembentukan cadangan nasional, penyederhanaan regulasi, dan investasi dalam waktu enam bulan setelah penandatanganan.
Perdana Menteri Jepang yang Tegas
Sanae Takaichi, perdana menteri wanita pertama Jepang, menegaskan bahwa Amerika Serikat adalah sekutu paling penting Jepang dan menyatakan dukungan terhadap Taiwan, isu yang sangat sensitif bagi Beijing.
Dalam pertemuannya dengan Trump pada Senin lalu, keduanya menandatangani “Deklarasi Menuju Era Keemasan Baru Aliansi AS–Jepang.”

Gedung Putih mengumumkan beberapa proyek dari investasi Jepang senilai 550 miliar dolar AS, termasuk di bidang energi, kecerdasan buatan, mineral penting, dan manufaktur.
Trump menyebut Jepang akan menjadi “sekutu terkuat” Amerika Serikat.
Pada Selasa, Trump menyampaikan pidato di hadapan pasukan AS di kapal induk USS George Washington di pangkalan angkatan laut Yokosuka, Jepang, yang turut dihadiri oleh Takaichi.
Perdana Menteri Takaichi berjanji meningkatkan anggaran pertahanan menjadi 2 persen dari PDB sebelum Maret dan merevisi strategi keamanan Jepang sebelum akhir 2026.
“Tatanan internasional yang bebas, terbuka, dan stabil kini terguncang hebat oleh perubahan keseimbangan kekuasaan dan meningkatnya persaingan geopolitik,” katanya.
“Di kawasan sekitar Jepang, aktivitas militer dan tindakan dari Tiongkok, Korea Utara, dan Rusia menimbulkan kekhawatiran serius.”
Beberapa tahun terakhir, militer Tiongkok makin agresif di Indo-Pasifik dan bahkan sempat melanggar wilayah Jepang.
Pada Selasa, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi menelepon Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi, membahas hubungan bilateral dan isu Taiwan, menurut laporan Global Times milik pemerintah Tiongkok.
Namun, versi pernyataan dari pihak Jepang tidak menyebutkan adanya rencana pertemuan antara Takaichi dan Xi Jinping.
Motegi menyampaikan keinginan untuk membangun hubungan Jepang–Tiongkok yang konstruktif dan stabil, namun juga menyoroti kekhawatirannya atas pembatasan ekspor logam tanah jarang, agresi militer Tiongkok di Kepulauan Senkaku, larangan impor daging sapi Jepang, serta kekerasan terhadap warga Jepang di Tiongkok.
Pada hari yang sama, Motegi bertemu Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, dan keduanya menegaskan kesamaan kepentingan keamanan nasional.
“Ini adalah era baru yang menarik bagi hubungan AS–Jepang, dibangun di atas fondasi kerja sama selama puluhan tahun, kini dimodernisasi untuk menghadapi tantangan zaman baru,” kata Rubio.
Xi Jinping dijadwalkan tiba di Korea Selatan untuk KTT APEC pada 1 November, dan diperkirakan akan bertemu Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung, serta beberapa kepala negara lain, meski Beijing belum menyebutkan negara mana saja.
(Travis Gillmore dan Reuters turut berkontribusi dalam laporan ini.)


