Pada Selasa (28 Oktober), polisi Brasil melancarkan operasi besar-besaran di Rio de Janeiro untuk membasmi geng narkoba “Komando Merah” (Comando Vermelho). Dalam operasi itu, sedikitnya 64 orang tewas, termasuk 4 polisi.
EtIndonesia. Pada 28 Oktober pagi, terjadi baku tembak sengit di berbagai wilayah kumuh Rio de Janeiro. Sekitar 2.500 polisi dan tentara dikerahkan untuk melaksanakan ratusan surat penangkapan dan penggeledahan, dengan sasaran utama kelompok pengedar narkoba Komando Merah.
Rekaman video menunjukkan suara tembakan bertubi-tubi dan asap tebal di atas permukiman kumuh. Anggota geng bahkan membakar kendaraan untuk menghalangi laju kendaraan lapis baja polisi.
Menurut kepolisian, dalam operasi ini telah ditangkap 113 tersangka, serta disita 118 senapan dan lebih dari setengah ton narkoba.
Operasi besar ini terjadi menjelang KTT Iklim Walikota Dunia C40, yang akan diselenggarakan di Rio de Janeiro.
Namun, Menteri Kehakiman Brasil Ricardo Lewandowski pada Rabu (29 Oktober) mengatakan bahwa Presiden Lula da Silva terkejut dan tidak menyangka akan banyaknya korban tewas, sebab operasi besar tersebut tidak diberitahukan sebelumnya kepada pemerintah pusat.
“Saat ini baik presiden maupun kami belum memperoleh data lengkap. Informasi yang kami miliki masih berasal dari media. Kami akan segera menuju Rio de Janeiro untuk menyelidiki langsung, memverifikasi jumlah korban tewas, luka-luka, dan orang-orang yang terdampak,” kata Ricardo Lewandowski.
Gubernur Negara Bagian Rio de Janeiro, Claudio Castro, menyatakan bahwa jumlah korban tewas resmi saat ini mencapai 58 orang, namun diperkirakan akan terus bertambah.
“Rio de Janeiro sedang memimpin upaya ini. Bukan berarti kami bertindak sendirian, tetapi kami menyadari tanggung jawab kami. Pusat masalah yang mengganggu Brasil ini berada di Rio, dan kami tidak akan lari dari tugas kami. Kemarin kami telah memberikan pukulan berat terhadap kejahatan terorganisir dan membuktikan bahwa kami mampu memenangkan pertempuran ini,” ujarnya.
Sementara itu, kantor pembela umum Rio de Janeiro menyatakan bahwa operasi kali ini merupakan yang paling mematikan dalam sejarah Brasil, dengan setidaknya 132 orang tewas — lebih dari dua kali lipat dari angka resmi awal pemerintah negara bagian.
Akibat besarnya jumlah korban, Kantor Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR) menyerukan agar dilakukan penyelidikan yang menyeluruh dan independen terhadap operasi militer tersebut. (Hui/asr)
Laporan oleh Tian Xin, reporter magang New Tang Dynasty Television.


