EtIndonesia. Penyelidikan terhadap kasus pencurian perhiasan di Museum Louvre semakin meluas. Pada Kamis (30 Oktober), Kejaksaan Paris mengumumkan bahwa lima orang lagi telah ditangkap, termasuk seorang tersangka yang DNA-nya cocok dengan bukti forensik.
Dengan penangkapan ini, total tersangka yang ditahan meningkat menjadi tujuh orang. Dari empat perampok utama yang dijuluki media Prancis sebagai “tim penyerbu”, tiga orang kini telah berada dalam tahanan polisi.
Polisi melakukan penggerebekan semalaman di Paris dan wilayah pinggiran Seine-Saint-Denis.
Jaksa Laure Beccuau mengatakan kepada radio RTL bahwa salah satu dari tersangka baru itu adalah anggota kelompok yang melakukan aksi perampokan pada 19 Oktober di siang bolong, sementara yang lain “kemungkinan dapat memberi informasi penting tentang bagaimana kejadian itu berlangsung.”
Perampokan Empat Menit yang “Sangat Terencana”
Rangkaian peristiwa kini mulai jelas. Beccuau mengungkapkan bahwa sembilan hari sebelum kejadian, para pelaku menanggapi iklan palsu di situs Leboncoin (situs iklan baris Prancis) untuk “lowongan pekerjaan pindahan rumah”, dan menggunakan kesempatan itu untuk mencuri sebuah truk pengangkat (lift hidrolik) yang biasa digunakan pekerja pindahan untuk naik ke lantai atas bangunan.
Pada hari kejadian, alat pengangkat itu diparkir di luar dinding Museum Louvre, di tepi Sungai Seine.
- Pukul 09.30, alat itu dinaikkan hingga ke jendela Galeri Apollo, tempat koleksi perhiasan kerajaan dipajang.
- Pukul 09.34, kaca jendela berhasil dipotong.
- Pukul 09.38, para pelaku sudah melarikan diri.
Seluruh aksi berlangsung hanya empat menit. Jaksa mengatakan bahwa karena polisi dan petugas keamanan museum datang “hampir bersamaan”, para perampok tidak sempat membakar alat pengangkat tersebut, sehingga meninggalkan bukti penting di lokasi.
Rekaman CCTV menunjukkan setidaknya empat pria memaksa membuka jendela, memotong dua etalase dengan alat listrik, lalu kabur menggunakan dua sepeda motor ke arah timur Paris.
Penyelidik belum menemukan bukti adanya keterlibatan orang dalam, namun tidak menutup kemungkinan bahwa ada jaringan kriminal yang lebih besar di balik empat pelaku utama itu.
Beccuau menjelaskan bahwa penyelidikan luar biasa ini melibatkan sekitar 100 petugas, yang bekerja tujuh hari seminggu, telah menganalisis sekitar 150 sampel forensik, dan menyita 189 barang bukti.
Hanya Satu Perhiasan Ditemukan
Dari delapan perhiasan bersejarah yang dicuri, dengan total nilai sekitar 102 juta dolar AS, tujuh masih hilang.
Barang-barang yang dicuri termasuk:
- Kalung zamrud dan berlian yang diberikan Kaisar Napoléon kepada istri keduanya, Permaisuri Marie-Louise, sebagai hadiah pernikahan.
- Perhiasan yang pernah digunakan oleh Ratu Marie-Amélie (istri Raja Louis Philippe I) dan Ratu Hortense (ibu Napoléon III).
- Mahkota mutiara dan berlian milik Permaisuri Eugénie, istri Napoléon III.
Satu-satunya benda yang telah ditemukan adalah mahkota zamrud milik Permaisuri Eugénie, yang terjatuh saat pelaku melarikan diri. Meski rusak, benda itu masih bisa dipulihkan.
Jaksa Beccuau menyerukan agar para pelaku mengembalikan perhiasan yang tersisa:
“Benda-benda ini sekarang tidak mungkin dijual… Masih ada waktu untuk mengembalikannya.”
Para ahli memperingatkan, jika emas dilebur dan batu permata dipotong ulang, maka jejak sejarah tak ternilai dari perhiasan itu akan hilang selamanya.
Dua Tersangka Akui Terlibat
Polisi Prancis mengakui adanya celah besar dalam sistem keamanan Museum Louvre.
Kepala Kepolisian Paris, Patrice Faure, mengatakan bahwa peringatan pertama yang diterima polisi bukan berasal dari sistem keamanan museum, melainkan dari seorang pesepeda yang kebetulan melintas, melihat beberapa pria bertopi helm sedang mengoperasikan alat pengangkat, lalu menghubungi layanan darurat.
Dua tersangka yang lebih dulu ditangkap adalah pria berusia 34 dan 39 tahun dari Aubervilliers, wilayah di utara Paris. Setelah ditahan selama hampir 96 jam, keduanya didakwa dengan tuduhan pencurian terorganisir dan konspirasi kriminal. Beccuau mengatakan bahwa keduanya telah mengakui keterlibatan mereka.
Salah satu dari mereka ditangkap di Bandara Charles de Gaulle, ketika hendak terbang ke Aljazair dengan tiket sekali jalan. DNA-nya cocok dengan jejak yang ditemukan pada salah satu sepeda motor pelarian. (Hui/asr)
Sumber : Epochtimes.com dan Associated Press


