EtIndonesia. Amerika Serikat kini memiliki jumlah miliarder terbanyak di dunia — mencakup sepertiga dari total miliarder global — jauh mengungguli Tiongkok yang berada di posisi kedua.
Menurut laporan Altrata, perusahaan riset kekayaan global, pada tahun 2024 jumlah miliarder dunia mencapai 3.508 orang, dengan total kekayaan bersih gabungan sebesar 13,4 triliun dolar AS, naik 10,3% dibanding tahun sebelumnya. Lonjakan pasar saham menjadi faktor utama dibalik peningkatan kekayaan para superkaya ini.
Meski miliarder hanya mewakili sekitar 0,07% dari total 5 juta orang yang memiliki kekayaan bersih di atas 5 juta dolar AS, mereka menguasai sekitar 13% dari total kekayaan kelompok tersebut.
Di antara kelompok ultra-kaya (Ultra High Net Worth / UHNW) — sekitar 487.000 orang dengan kekayaan bersih di atas 30 juta dolar AS — miliarder hanya mencakup 0,7%, namun menguasai 24% dari total kekayaan kelompok itu.
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa kesenjangan di antara para miliarder semakin lebar. Sebanyak 26 “super-miliarder” kini menguasai 21% dari total kekayaan miliarder dunia, padahal sepuluh tahun lalu, angka itu hanya 4%.
Secara geografis, Amerika Utara tetap menjadi pusat utama kekayaan dunia. Sekitar 1.135 miliarder berasal dari Amerika Serikat, dengan kekayaan yang mencapai 43% dari total kekayaan miliarder global. Tiongkok berada di posisi kedua dengan 321 miliarder (sekitar 10% dari kekayaan dunia), disusul Jerman di posisi ketiga.
Menariknya, Eropa kini menjadi kawasan dengan jumlah miliarder terbesar kedua setelah Amerika Utara. Pada 2024, untuk pertama kalinya jumlah miliarder Eropa melampaui 1.000 orang sejak Altrata mulai mengumpulkan data lebih dari satu dekade lalu.
Nama-nama terkenal dalam daftar tersebut termasuk Bernard Arnault (CEO LVMH, kekayaan 236,4 miliar dolar AS) dan Dieter Schwarz (pendiri jaringan supermarket Lidl, kekayaan 45,9 miliar dolar AS).
Dalam sepuluh tahun terakhir, distribusi miliarder di seluruh dunia berubah secara bertahap, namun daya tarik kota-kota besar global dengan peluang bisnis, budaya, dan gaya hidup mewah tetap kuat.
Kota-kota seperti Paris dan Los Angeles mencatat peningkatan signifikan dalam jumlah miliarder, sementara Dubai menunjukkan pertumbuhan stabil sebagai pusat bisnis dan ritel mewah. Pertumbuhan di Chicago dan Houston juga menegaskan penyebaran kekayaan miliarder yang semakin luas di Amerika Serikat.
Di Asia, beberapa miliarder mengalami penurunan posisi. Namun di Tiongkok, nama-nama seperti Zhong Shanshan (pendiri Nongfu Spring, kekayaan 79,9 miliar dolar AS) dan Pony Ma (CEO Tencent, kekayaan 71,5 miliar dolar AS) masih bertahan dalam daftar.
Laporan juga menyoroti bahwa kecerdasan buatan (AI) menjadi pendorong utama peningkatan kesenjangan kekayaan global. Kenaikan nilai saham di sektor teknologi membuat miliarder AS seperti Elon Musk, Mark Zuckerberg, dan Jeff Bezos semakin kaya.
Namun, batas untuk disebut miliarder tetap tidak pasti — fluktuasi pasar dapat membuat seseorang naik atau turun dari daftar.
Dalam laporan Altrata, hanya mereka yang memiliki kekayaan bersih minimal 4,2 miliar dolar AS yang masuk dalam kategori miliarder dunia. Tahun 2024 juga mencatat lebih sedikit orang yang keluar dari daftar dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Sumber : Epochtimes.com, Artikel ini sebagian mengacu pada laporan The Wall Street Journal


