EtIndonesia. Jika berbicara tentang ujian paling kompetitif di dunia, tidak ada yang menandingi Gaokao, ujian masuk perguruan tinggi di Tiongkok. Saat hari ujian tiba, seluruh negeri memasuki “mode Gaokao”: proyek konstruksi dihentikan, lalu lintas dialihkan, ambulans siaga — suasana nasional yang “mendukung ujian” ini menunjukkan betapa seriusnya orang Tiongkok memandang Gaokao.
Namun, musim penerimaan mahasiswa tahun ini terasa luar biasa “dingin”: lebih dari 5.000 siswa yang sudah diterima kuliah memilih untuk tidak mendaftar. Mengapa demikian?
Beberapa warganet berkomentar: “Dengan ekonomi yang lesu, kuliah sekarang cuma untuk membantu dosen punya pekerjaan.”
Bukan hanya universitas swasta dalam video yang terdampak — bahkan Universitas Jiaotong Shanghai, yang berada tepat di bawah Tsinghua dan Peking University, juga mengalami fenomena mahasiswa diterima tapi tidak mendaftar.
Padahal, masuk ke Jiaotong Shanghai selama ini dianggap sebagai bukti kekuatan dan keberuntungan, tapi kini ada yang menolak kesempatan itu demi universitas lain — hanya karena universitas lain menawarkan peluang kerja lebih stabil setelah lulus. Ini menunjukkan bahwa kelesuan ekonomi Tiongkok telah mencapai titik yang sangat parah.
Biaya kuliah yang tinggi, jurusan tidak populer, dan kesulitan mencari kerja membuat generasi muda menolak menjadi “korban” dari sistem pendidikan dan ekonomi yang tidak adil.
Baru-baru ini, Kantor Penerimaan Mahasiswa Sarjana Universitas Donghua Shanghai mengumumkan bahwa 43 mahasiswa baru membatalkan pendaftaran mereka.
Berita ini ramai dibicarakan di internet dan bahkan masuk daftar topik hangat di Baidu pada 27 Oktober.
Dalam pengumuman 17 Oktober di situs resmi kampus disebutkan bahwa mahasiswa baru angkatan 2025 seharusnya melapor pada 11 September 2025. Karena 43 orang tidak hadir hingga batas waktu, maka dianggap mengundurkan diri dari hak masuk kuliah.
Berdasarkan data, 43 mahasiswa tersebut berasal dari berbagai fakultas, seperti Fakultas Tekstil, Desain Busana dan Seni, Teknik Mesin, serta Ilmu dan Teknologi Informasi.
Menurut situs resminya, Universitas Donghua berada di Shanghai dan merupakan universitas langsung di bawah Kementerian Pendidikan Partai Komunis Tiongkok (PKT), termasuk dalam proyek nasional “211” dan “Double First-Class University”.
Setelah pengumuman itu muncul, warganet ramai berkomentar:
- “Yang tidak daftar itu pasti memilih masuk sekolah kejuruan.”
- “Temanku lulusan Desain Busana di universitas ini, setelah lulus tidak bisa dapat kerja. Sekarang orang tua malah menjadikan jurusan itu contoh buruk bagi anaknya yang mau pilih jurusan.”
- “Jurusan jebakan, nggak ada masa depan.”
- “Anak muda ini masih berpikiran jernih.”
- “Sekarang gelar sarjana nggak ada harganya.”
- “Kuliah pun ujung-ujungnya cuma jadi buruh pabrik.”
- “Sudah paham, jadi nggak mau ditipu lagi.”
Seorang warganet dari Liaoning menulis: “Di tempatku, mahasiswa S2 saja jadi kurir makanan. Buat apa kuliah?”
Karyawan Kantor Penerimaan Donghua menjelaskan kepada Jimu News bahwa setelah perkuliahan dimulai, para dosen pembimbing sudah menghubungi satu per satu mahasiswa yang tidak hadir.
Dari 43 orang tersebut, ada yang ingin mengulang ujian Gaokao, ada siswa dari Hong Kong, Makau, dan Taiwan yang memilih kuliah di daerahnya masing-masing, serta lebih dari 10 orang yang sudah menemukan pekerjaan memuaskan sehingga meninggalkan hak kuliahnya.
Warganet pun menanggapi dengan menyindir :
- “Beberapa tahun lalu universitas masih sombong, sekarang malah mereka yang harus bujuk-bujuk siswa.”
- “Biaya kuliah sudah terlalu tinggi, orang nggak mampu bayar.”
- “Nanti universitas akan memohon agar siswa mau masuk, lebih heboh dari ibu-ibu berebut telur diskon.”
Sebelumnya, peneliti pendidikan dari Universitas Tsinghua, Huang Wenhan, menyatakan bahwa ketertarikan mahasiswa pada universitas bergengsi kini menurun drastis. Banyak siswa lebih fokus pada tekanan nyata dari biaya hidup dan peluang kerja.
Ia menilai bahwa kondisi ekonomi Tiongkok yang lesu dan gelombang pengurangan tenaga kerja perusahaan telah sangat memengaruhi keputusan siswa dalam melanjutkan pendidikan. Para siswa bukan tidak berusaha, tapi mereka tengah berhitung antara “nilai ijazah” dan “realitas hidup.”
Pada intinya, gelombang penolakan kuliah di seluruh Tiongkok disebabkan oleh dua hal:
- Biaya kuliah terlalu mahal.
- Sulit mencari kerja.
Lebih ironis lagi, beberapa universitas justru menjadi “komplotan pemoles data” untuk memperindah statistik penyerapan kerja lulusan.
Seorang lulusan Universitas Komunikasi Tiongkok mengungkapkan bahwa dosennya memintanya membuat akun Douyin (TikTok versi Tiongkok) dan menuliskan “pekerja fleksibel” dalam formulir data pasca-lulus.
Akhirnya, akun kosong tanpa penghasilan itu pun dihitung sebagai “lulusan yang telah bekerja.”
Padahal, kenyataannya ia tidak punya penghasilan maupun masa depan.
Banyak dari mereka yang dikatakan “bekerja fleksibel” itu sebenarnya masih bergantung secara finansial pada orang tua. Para sosiolog menyebut fenomena ini sebagai lahirnya generasi “anak bangunan mangkrak” (rotting kids) — layaknya proyek bangunan terbengkalai yang menyedihkan: setelah bertahun-tahun “investasi pendidikan”, hasilnya justru sia-sia di reruntuhan ekonomi.
Pengangguran bukan sekadar angka ekonomi, tetapi air mata dari ribuan keluarga dan cerminan dari keruntuhan sosial. Banyak orang tua menulis di media sosial bahwa mereka telah menjual harta demi menyekolahkan anak agar bisa “mengubah nasib,” tetapi anak mereka justru kembali ke rumah tanpa pekerjaan, hidup bergantung pada orang tua — membuat kondisi keuangan keluarga makin terpuruk.
Blogger “Zaiye Shuo” menulis: “Perbedaan antara ‘anak bangunan mangkrak’ dan ‘bangunan mangkrak’ adalah: yang satu dari beton dan baja, yang lain adalah kehidupan manusia yang nyata.”
Namun, di tengah data suram ini, pemerintah PKT masih menutupi dan memoles kenyataan.
Menurut “Zaiye Shuo”, rezim terus menghindari akar masalah: struktur ekonomi Tiongkok tak lagi mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Lebih parah lagi, industri masa depan yang digadang-gadang seperti AI, energi hijau, dan kendaraan listrik, justru berlandaskan otomatisasi tinggi — yang berarti lapangan kerja makin sedikit.
Para sosiolog menegaskan, industri “berkilau” ini nyaris tidak memberi kontribusi pada penciptaan lapangan kerja, bahkan justru menguranginya.
Kebingungan generasi muda pun makin mendalam. Mereka melihat krisis ini bukan sekadar siklus sementara, tapi krisis struktural. Ketimpangan antara sistem pendidikan dan struktur ekonomi ibarat lubang hitam tak berdasar yang terus menelan satu generasi demi generasi berikutnya.
Musim dingin dunia kerja ini tidak akan berakhir dalam waktu singkat — bisa berlangsung bertahun-tahun, bahkan lebih lama lagi. (Hu)
Sumber : NTDTV.com


