EtIndonesia. Gelombang serangan malam kembali mengguncang jantung energi Rusia. Sistem kelistrikan di wilayah Rusia bagian tengah mengalami pembatasan pasokan, sementara Jembatan Krimea kembali ditutup pasca serangan presisi Ukraina pada 31 Oktober 2025 malam.
Di sisi lain, Ukraina meningkatkan eskalasi militernya. Kyiv mengumumkan pembentukan 75 kompi drone serang dan menambah 15 ribu personel operator UAV, sekaligus mengklaim keberhasilan menghancurkan rudal jarak menengah “Oleshnyk” dalam operasi rahasia.
Pertempuran di Pokrovsk: Titik Balik di Garis Depan
31 Oktober 2025, Donetsk Oblast
Pertempuran di dataran timur Ukraina, khususnya arah Pokrovsk, memasuki fase baru. Kota satelit Myrnohrad dipastikan kembali berada di bawah kendali penuh Ukraina setelah pasukan Rusia berhasil dipukul mundur.
Brigade Lintas Udara ke-25 dan Brigade Marinir ke-38 kini mengambil alih pertahanan sektor timur laut kota.
ISW (Institute for the Study of War) dan citra satelit menunjukkan Rusia mengerahkan sekitar:
- 27.000 tentara
- 100 tank
- 260 kendaraan lapis baja
Rusia sempat mengibarkan bendera di dalam kota, tetapi hanya bertahan sekitar satu jam. Pada pukul 10.40, 31 Oktober, Batalyon Serbu ke-425 Ukraina melancarkan serangan balasan dan menghancurkan unit infiltrasi.
Pejabat Ukraina menegaskan kondisi sulit, namun menolak klaim kekalahan total.
“Jika 200 penyusup bisa merebut satu kota, perang ini sudah selesai sejak dua tahun lalu. Rusia telah kehilangan ratusan ribu prajurit, namun masih tertahan di luar kota,” ujar salah satu komandan Ukraina.
Panglima Ukraina Turun Langsung ke Medan Tempur
Panglima Angkatan Bersenjata Ukraina Jenderal Oleksandr Syrskyi kembali meninjau Pokrovsk, kunjungan keduanya dalam sebulan.
Ia menyampaikan tiga pesan utama:
- Pokrovsk tetap titik strategis vital.
- Kota belum jatuh meski tekanan ekstrem.
- Ada proses pembersihan struktur komando dan perbaikan sistem kontrol tempur.
Rusia kini mengadopsi taktik infiltrasi jarak dekat, menyaru sebagai warga sipil, dan bergerak antargedung serta lorong bawah tanah.
Ukraina membalas dengan operasi penyisiran intensif menggunakan drone dan rudal presisi. Sistem peluncur termobarik Rusia TOS-1, TOS-2, BM-27 dan BM-21 dilaporkan hancur, melemahkan kekuatan artileri Rusia.
Serangan Drone Ukraina ke Dalam Teritori Rusia
Malam 31 Oktober 2025
Ukraina meluncurkan serangan massal ke beberapa target energi utama Rusia:
Target yang dikonfirmasi:
- Stasiun daya Vladimirskaya (menyediakan ±10 persen listrik nasional)
- Kilangan minyak Yaroslavl (produksi dihentikan total)
- Pembangkit gas Oryol (kerusakan parah, pemanas warga terganggu)
Serangan ini menekan kondisi domestik Rusia tepat menjelang musim dingin.
Sebagai respons, pada 3 November, Rusia membatasi akses di Jembatan Krimea dan melarang kendaraan listrik/hybrid melintas, dengan alasan “risiko baterai meledak”. Namun analis meyakini langkah ini terkait ancaman bom dan krisis bahan bakar akibat sanksi dan serangan Ukraina.
Usul “Jeda untuk Jurnalis” Ditolak Kyiv
Rusia menawarkan jeda 5–6 jam bagi jurnalis internasional di zona pertempuran. Ukraina menolak, menyebutnya sebagai manuver propaganda sekaligus peluang reposisi pasukan Rusia.
Perang Drone Ukraina Meningkat
Komando drone Ukraina mengumumkan:
- 15.000 personel tambahan
- 75 kompi drone serang baru
- Integrasi AI wajib dalam operasi UAV
Ukraina juga memperkenalkan drone laut C-Baby generasi terbaru dengan kemampuan:
- beroperasi 24 jam
- menyerang kapal dan target darat
- mendukung infiltrasi pasukan
- sistem penghancuran otomatis bila terancam ditangkap
Serangan Terbesar Rusia Sejak Invasi
30 Oktober 2025
Rusia meluncurkan serangan masif:
- 52 rudal
- 653 drone
Ukraina mengklaim menembak jatuh:
- 592 drone
- 31 rudal
Korban sipil:
- 5 tewas
- lebih dari 30 luka-luka
Di saat yang sama:
- Finlandia menempatkan tambahan 15.000 pasukan dalam latihan NATO
- Swedia mempercepat produksi jet untuk Ukraina
Diplomasi dan Tekanan Ekonomi
Uni Eropa mendorong European Peace Initiative: gencatan senjata 24 jam dan zona demiliterisasi. Ukraina belum menyetujui, khawatir memberi legitimasi pendudukan Rusia.
Sementara itu, raksasa energi Rusia Lukoil dilaporkan melepas aset internasionalnya, indikasi tekanan sanksi Barat semakin berat.
Kesimpulan
Serangan Ukraina ke infrastruktur energi Rusia memicu instabilitas domestik di Moskow, sementara garis depan Pokrovsk menjadi simbol ketahanan Kyiv. Rusia membalas dengan operasi udara besar-besaran, tapi efektivitas pertahanan udara Ukraina terlihat signifikan.
Dengan eskalasi drone, ketegangan diplomatik, dan tekanan ekonomi yang meningkat, konflik memasuki fase baru: perang energi, perang teknologi, dan perang stamina nasional. (***)


