Ada Semacam Luka yang Disebut “Kasih Sayang Tanpa Batas”



EtIndonesia. Ada sebuah kisah seperti ini: Suatu musim gugur, sekelompok angsa liar dari utara terbang dan singgah di sebuah pulau kecil di Danau Angsa. Mereka hendak melanjutkan perjalanan ke selatan untuk menghindari musim dingin. Pulau itu dihuni oleh sepasang nelayan tua. Melihat para angsa datang, mereka sangat gembira. Mereka mengambil pakan ayam dan ikan kecil untuk memberi makan angsa-angsa itu dengan penuh kasih.

Musim dingin tiba. Anehnya, angsa-angsa itu tidak jadi terbang ke selatan. Ketika danau membeku dan makanan di alam tidak bisa mereka dapatkan, nelayan tua membuka pintu gubuk mereka, mengizinkan angsa-angsa itu masuk untuk menghangatkan diri, dan terus memberi mereka makan — hingga musim semi tiba dan danau mencair kembali.

Hari berganti hari, tahun berganti tahun — dan pasangan itu terus melakukan hal yang sama, merawat angsa-angsa itu tanpa henti, dengan kasih yang begitu tulus.

Hingga suatu hari, pasangan tua itu akhirnya meninggalkan pulau karena usia yang tak lagi kuat. Angsa-angsa pun menghilang. Tapi mereka bukan terbang menuju selatan. Mereka mati kelaparan — saat danau kembali membeku pada musim dingin berikutnya.

Pasangan nelayan itu mengasihi para angsa seperti anaknya sendiri — memberi makanan, tempat berlindung, dan kenyamanan tanpa kekurangan sedikit pun. 

Sekilas, kita merasa: “Alangkah baiknya pasangan ini, betapa beruntung angsa-angsa itu.”

Namun akhir cerita justru menyentak kita: kasih yang terlalu sempurna itu — telah membunuh kemampuan para angsa untuk bertahan hidup. Mereka terlena, kehilangan naluri, bahkan tak mampu lagi menghadapi perubahan alam. Akhirnya mereka mati — bukan karena musim dingin, melainkan karena terbiasa dimanjakan.

Cermin bagi Orangtua

Betapa banyak orangtua di dunia nyata yang melakukan hal yang sama kepada anak-anak mereka.Sejak kecil, anak selalu dijaga seperti kaca — takut jatuh, takut terluka. Apa pun yang diinginkan — langsung diberi. Tidak pernah disuruh membantu, tidak pernah dibiarkan lelah, apalagi menderita sedikit saja. Hidup anak dibentuk menjadi “tinggal minta, tinggal terima.”

Ketika besar, orangtua kembali mencarikan pekerjaan yang nyaman, aman, tanpa resiko. Bahkan diam-diam menyiapkan warisan agar anak “tidak perlu susah payah.” Semua dilakukan demi cinta — cinta yang mereka percaya sebagai kasih yang paling murni.

Namun, setelah mendengar kisah tentang angsa tadi — masihkah kita yakin bahwa itu bentuk cinta yang paling benar?

“Kasih Tanpa Tantangan” adalah Perangkap Terselubung

Kasih sayang memang dibutuhkan manusia. Tetapi ketika kasih itu berubah menjadi perlindungan total tanpa batas, menjadi buaian kenyamanan yang berkepanjangan, maka cinta itu tidak lagi menguatkan — melainkan melumpuhkan.

Orang yang dibesarkan hanya dalam kenyamanan, akhirnya hanya mewarisi dua hal:

  • ketergantungan
  • kemalasan

Dan ketika “danau kehidupan mereka membeku” suatu hari nanti — nasib mereka tidak akan lebih baik dari angsa-angsa itu.

Kasih semacam ini sebenarnya bukan lagi pertolongan — melainkan pisau yang membunuh secara perlahan — lembut, hangat, dan tidak terasa.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine