EtIndonesia. Tragedi seorang balita di Tiongkok yang tersedak bubble dalam teh susunya telah memicu diskusi daring yang panas tentang tanggung jawab orangtua.
Pada 24 Oktober, ayah balita berusia tiga tahun tersebut, bermarga Li, mengunggah video pengawasan taman bermain di sebuah pusat perbelanjaan di Provinsi Zhejiang, Tiongkok timur.
Dalam video tersebut, anak laki-laki tersebut menyesap bubble tea yang dibelikan ibunya sebelum bermain trampolin pada 19 Oktober.
Li mengatakan putranya pingsan semenit kemudian dan meskipun ibunya telah berusaha, dia tidak dapat menyadarkannya.
Anak laki-laki itu dilarikan ke rumah sakit dengan mobil orangtuanya, tetapi perawatan darurat gagal menyelamatkannya.

Penyebab kematiannya adalah bubble dalam teh.
Bubble itu berukuran sekitar 10 mm, terlalu besar untuk saluran pernapasan balita jika tertelan melalui saluran yang salah. Selain itu, tapioka terlalu lengket sehingga manuver Heimlich sang ibu tidak berhasil.
Li mengunggah video tersebut secara daring untuk meminta pihak toko bubble tea dan pusat perbelanjaan bertanggung jawab atas kematian putranya.
Dia mengklaim bahwa staf toko tidak memasang tanda yang jelas di toko atau memberikan peringatan lisan bahwa bubble tea tidak cocok untuk anak kecil.

Dia juga mengatakan bahwa staf tidak memberi tahu mereka untuk tidak membawa makanan atau minuman ke taman bermain dan tidak memberikan pertolongan pertama.
Kedai bubble tea, yang merupakan jaringan nasional, menyatakan di halaman pemesanan daringnya bahwa “produk bubble tea tidak cocok untuk anak di bawah tiga tahun”.
Perselisihan ini kini sedang dalam proses mediasi.
Namun, di media sosial, kebanyakan orang mengatakan bahwa orangtualah yang harus bertanggung jawab atas tragedi tersebut.
“Orangtualah yang membeli bubble tea untuk balita mereka, dan merekalah yang membiarkannya bermain trampolin sambil meminumnya,” kata seseorang.
“Sudah menjadi akal sehat jika anak-anak tidak boleh makan bubble tea, atau jeli dan ketan. Mereka juga tidak boleh makan atau minum sambil bermain,” kata yang lain.
“Orangtua adalah orang pertama yang bertanggung jawab atas anak-anak mereka,” kata yang ketiga.

Bubble tea pertama kali muncul di Taiwan, lalu menjadi viral di Hong Kong dan Tiongkok daratan.
Pada tahun 2018 dan 2019, minuman ini menggemparkan Jepang. Kata yang digunakan untuk menyebut bubble tea di Jepang, tapioka, bahkan menjadi populer di negara tersebut.
Para ahli kesehatan mengatakan bubble tea harus dikonsumsi perlahan, karena sulit dicerna, dapat tersangkut di tenggorokan, dan menyebabkan tersedak, bahkan untuk orang dewasa. (yn)


