EtIndonesia. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) melaporkan bahwa pada Senin (3 November) dini hari, telah terjadi gempa bumi berkekuatan 6,3 magnitudo di dekat kota Mazar-e Sharif, Afghanistan utara, dengan kedalaman 28 kilometer. Hingga kini, lebih dari 20 orang tewas dan sekitar 320 orang luka-luka.
Pusat gempa berada di sekitar kota Mazar-e Sharif, yang berpenduduk sekitar 523.000 jiwa. USGS sebelumnya telah mengeluarkan peringatan oranye, memperingatkan potensi korban besar dan kerusakan meluas.
Seorang reporter AFP di lokasi melaporkan bahwa gempa tersebut menyebabkan kerusakan pada menara salah satu sisi Masjid Biru (Blue Mosque), landmark abad ke-15 yang terkenal dengan ubin-ubinnya yang berwarna-warni. Puing-puing bangunan jatuh berserakan di halaman masjid. Masjid megah ini merupakan salah satu dari sedikit objek wisata terkenal di Afghanistan.
Juru bicara Kementerian Kesehatan, Sharafat Zaman Amar, mengatakan bahwa operasi penyelamatan masih berlangsung dan jumlah korban diperkirakan akan terus bertambah.
“Tim medis telah tiba di daerah terdampak, dan semua rumah sakit di sekitarnya telah siaga penuh,” ujarnya.
Tim militer dan unit tanggap darurat segera dikerahkan ke lokasi untuk membantu evakuasi korban dan penanganan pengungsi.

Kementerian Pertahanan Afghanistan menyatakan bahwa Provinsi Balkh dan Samangan adalah wilayah yang paling terdampak, dan telah dilaporkan sejumlah korban jiwa.
Data sementara dari otoritas setempat:
- Sedikitnya 7 orang tewas dan sekitar 150 orang luka-luka.
Seorang petugas kesehatan di Provinsi Samangan mengatakan kepada Reuters:
“Berdasarkan laporan rumah sakit, hingga pagi ini ada 150 korban luka yang dirawat dan 7 korban meninggal dunia.”
Menurut laporan gabungan AFP dan Reuters, USGS menyebutkan bahwa gempa terjadi di Kholm, dekat kota Mazar-e Sharif, dengan kedalaman 28 km.
Dalam sistem penilaian cepat gempa global PAGER, USGS mengeluarkan peringatan oranye, menandakan potensi kerusakan dan korban besar.
Pihak berwenang setempat telah membuka jalur darurat untuk warga yang membutuhkan bantuan, namun laporan lengkap mengenai korban masih dalam proses pengumpulan.
Riwayat gempa di Afghanistan:
Pada 31 Agustus tahun ini, Afghanistan timur baru saja diguncang gempa dangkal berkekuatan 6,0 magnitudo yang menewaskan lebih dari 2.200 orang, menjadikannya gempa paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir.
Afghanistan merupakan daerah yang sering dilanda gempa, terutama di wilayah pegunungan Hindu Kush, yang terletak di perbatasan antara lempeng Eurasia dan lempeng India.
Ahli seismologi dari British Geological Survey, Brian Baptie, menyebutkan bahwa sejak tahun 1900, Afghanistan timur laut telah mengalami sedikitnya 12 gempa berkekuatan di atas magnitudo 7.
Sejak mengambil alih kekuasaan pada 2021, pemerintahan Taliban telah menghadapi tiga gempa besar mematikan, sementara bantuan luar negeri yang menopang ekonomi negara itu semakin menurun.
Pada Agustus lalu, gempa di timur Afghanistan menghancurkan desa-desa pegunungan dan menewaskan lebih dari 2.200 orang.
Selain itu, pada 2023, gempa besar juga mengguncang wilayah Herat di barat, dekat perbatasan Iran, serta Provinsi Nangarhar di timur pada 2022, menewaskan ratusan orang dan merusak ribuan rumah.
Catatan: Jenis-jenis kedalaman gempa
Berdasarkan kedalaman pusat gempa di bawah permukaan tanah, gempa diklasifikasikan sebagai:
- Gempa sangat dangkal: 0–30 km
- Gempa dangkal: >30–70 km
- Gempa menengah: >70–300 km
- Gempa dalam: >300–700 km
Secara umum, semakin dangkal pusat gempa, semakin besar kerusakan di permukaan bumi, meskipun dengan kekuatan yang sama.
Sumber: Central Weather Administration (Badan Meteorologi Taiwan)
Diterjemahkan dari Central News Agency /Lu Yongxin


