Tiongkok Bantu Iran Bangun Rudal, Picu Resolusi PBB

Saat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengumumkan pemberlakuan kembali sanksi terhadap Iran, Teheran segera memperluas impor bahan utama rudal dari Beijing untuk membangun kembali persenjataannya. Pengamat menilai, Partai Komunis Tiongkok (PKT) memanfaatkan “zona abu-abu” untuk melanggar resolusi PBB, yang semakin memperkuat citranya sebagai bagian dari “Poros Kejahatan”, merusak tatanan internasional, dan berpotensi memicu eskalasi konfrontasi antara dua blok besar dunia.

EtIndonesia.  Menurut laporan CNN pada 29 Oktober, yang mengutip sumber intelijen Eropa, setelah konflik militer antara Iran dan Israel pada Juni, Teheran membeli 2.000 ton natrium perklorat — bahan utama untuk bahan bakar padat rudal jarak menengah — dari pemasok di Tiongkok untuk menambah persediaan rudalnya. Pengiriman itu mulai tiba di Pelabuhan Abbas sejak 29 September.

Setelah perundingan nuklir antara Iran dan negara-negara Barat gagal, PBB memberlakukan kembali sanksi terhadap Iran pada 27 September. Teheran dilarang melakukan aktivitas apa pun yang terkait dengan pengembangan rudal balistik yang dapat membawa hulu ledak nuklir. Negara-negara anggota PBB juga diwajibkan untuk mencegah pengiriman material apa pun yang dapat membantu Iran mengembangkan sistem pengangkut senjata nuklir — termasuk natrium perklorat.

Su Tzu-yun, Direktur Institut Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan (INDSR), mengatakan tindakan PKT secara terang-terangan menantang keputusan sanksi PBB.

“Ini adalah bentuk pertukaran kepentingan antara Beijing dan Teheran. Negara-negara Barat pasti akan terus memantau. Zat kimia seperti ini memiliki banyak kegunaan dan bersifat ganda — sipil sekaligus militer. Ketika Iran memesan, mungkin disebut untuk keperluan pertanian, namun kemudian dialihkan untuk militer. Inilah cara Beijing memanfaatkan celah regulasi internasional — zona abu-abu, yang merupakan taktik khas PKT,” ujarnya.

Sumber lain menyebutkan, sejak akhir April, jumlah kapal milik perusahaan pelayaran nasional Iran yang berlayar antara Tiongkok dan Iran meningkat tajam.

Sebagai contoh, kapal kargo MV Basht, yang masuk dalam daftar sanksi AS, berangkat dari Zhuhai, Tiongkok pada 15 September dan tiba di Pelabuhan Abbas pada 29 September, kemudian kembali ke Tiongkok. Kapal lain, MV Artavand, berangkat dari Pelabuhan Liuheng pada 12 Oktober dan juga menuju Pelabuhan Abbas. Untuk menyembunyikan pergerakannya, sistem pelacakan AIS kapal-kapal tersebut sengaja dimatikan.

Departemen keamanan Eropa mengungkapkan, ada “armada gelap” yang beroperasi menggunakan berbagai perusahaan cangkang dan beberapa perusahaan legal sebagai kedok, membentuk jaringan yang secara terus-menerus mengirimkan natrium perklorat ke Iran. Sebagian besar perusahaan terlibat berlokasi di Dalian, Tiongkok.

Su Tzu-yun menambahkan: “Bahkan Israel kini mendapat dukungan diam-diam dari negara-negara Arab moderat utama. Jadi hubungan antara Beijing dan Teheran sebenarnya sudah mulai rapuh. Beijing ingin mempertahankan pijakan di Timur Tengah, tapi akibatnya justru sebaliknya — Eropa kini semakin memperhatikan bahwa Tiongkok terus memasok bahan dan peralatan semi-militer ke Iran, yang justru merugikan Beijing sendiri.”

Selama ini, PKT merupakan sekutu utama Iran dalam melawan Barat. Pada tahun 2021, kedua negara menandatangani “Perjanjian Kerja Sama Komprehensif 25 Tahun”, di mana Beijing berjanji akan menginvestasikan 400 miliar dolar AS dalam 25 tahun ke depan di berbagai sektor — mulai dari perbankan, telekomunikasi, pelabuhan, hingga teknologi informasi — dengan imbalan pasokan minyak Iran yang stabil.

Sebelumnya, The Wall Street Journal mengungkap bentuk kerja sama “barter” antara kedua pihak yang menghindari sistem pembayaran berbasis dolar AS: Iran menjual minyak mentah ke Tiongkok, uang hasil penjualan itu mengalir ke lembaga keuangan Tiongkok, lalu dibayarkan kepada perusahaan-perusahaan Tiongkok yang mengerjakan proyek infrastruktur di Iran.

Tahun lalu, sekitar 8,4 miliar dolar AS hasil penjualan minyak disalurkan lewat mekanisme ini untuk mendanai proyek-proyek besar Tiongkok di Teheran.

Namun pada Juni tahun ini, setelah fasilitas nuklir utama Iran dihancurkan oleh Amerika Serikat, Teheran praktis kehilangan posisi tawarnya terhadap Barat.

Dr. Hsieh Pei-hsueh, peneliti di INDSR Taiwan, menilai bahwa demi mempertahankan pengaruhnya di Timur Tengah dan menyaingi Amerika Serikat, PKT tak ingin melihat Iran melemah.

“Beijing justru memilih memperkuat investasinya saat Teheran berada di titik paling rapuh, demi mempertahankan pengaruh jangka panjang di kawasan. Selain itu, ada faktor lain: karena AS menjatuhkan sanksi terhadap Tiongkok dan Iran, kedua negara ini kini menjadi semacam ‘komunitas yang sama-sama disanksi’. Iran membutuhkan Tiongkok untuk menopang ekonomi dan diplomasi, sementara Tiongkok memanfaatkan situasi ini untuk mendapatkan sumber daya strategis seperti minyak dengan harga sangat murah,” jelasnya.

Su Tzu-yun menegaskan, dengan sebagian besar negara Arab kini berpihak ke Amerika Serikat, PKT yang terus mendukung Iran — baik secara terbuka maupun terselubung — justru semakin menegaskan citranya sebagai bagian dari “blok poros”, menciptakan siklus jahat yang makin memperdalam perpecahan global. (Hui)

Li Mingfei / Luo Ya / Gao Yu)

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine