Memahami gaya tidur Anda bisa membantu melindungi kesehatan mental dan fisik
Rachel Ann T. Melegrito
Tidur yang buruk adalah masalah umum, tetapi setiap orang mengalaminya dengan cara berbeda. Ada yang terjaga di jam tiga dini hari sambil memikirkan berbagai hal, sementara yang lain kerap terbangun berulang kali sepanjang malam.
Riset terbaru menunjukkan bahwa perbedaan ini bukan sekadar variasi dari “tidur yang buruk,” melainkan mencerminkan lima profil tidur yang berbeda—masing-masing meninggalkan jejak tersendiri pada otak dan tubuh.
“Tidur Anda tidak sama dengan tidur tetangga Anda, begitu pula dampaknya terhadap kesehatan dan fungsi tubuh,” kata Aurore Perrault, ahli saraf dan peneliti pascadoktoral di Woolcock Institute of Medical Research di Sydney, sekaligus salah satu penulis studi tersebut, kepada The Epoch Times.
Lima Profil Tidur
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal PLOS Biology ini mengidentifikasi lima pola tidur berbeda pada orang dewasa sehat, masing-masing dikaitkan dengan aktivitas otak, efek kognitif, dan risiko kesehatan yang khas. Temuan ini menantang pandangan umum bahwa tidur hanya bisa dikategorikan sebagai “baik” atau “buruk.”
Para peneliti menganalisis data dari 770 orang dewasa muda yang sehat melalui pemindaian otak dan kuesioner rinci mengenai kebiasaan tidur, kesehatan, serta gaya hidup selama sebulan terakhir.
Sekitar 88 persen hubungan antara tidur dan kesehatan dijelaskan oleh satu pola dominan yang mengaitkan tidur buruk dengan kesehatan mental yang lebih rendah. Empat pola lainnya menyumbang 4, 3, 2, dan 1 persen dari total variasi.
Profil 1: Si Pemikir Berlebihan (The Ruminators)
Pola paling dominan ini mengaitkan gangguan tidur umum—seperti sulit tertidur, sering terbangun di malam hari, dan rasa lelah di siang hari—dengan kesehatan mental yang buruk. Kelompok ini menunjukkan tingkat depresi, kecemasan, gejala stres fisik, dan kesulitan mengelola emosi negatif seperti takut, marah, dan frustrasi yang lebih tinggi.
Profil 2: Si Tangguh yang Tertekan (The Resilient Distressed)
Kelompok ini tidak memiliki masalah tidur yang nyata, kecuali sulit berkonsentrasi di siang hari. Mereka juga cenderung mengalami stres dan tekanan psikologis tinggi serta kesulitan mengelola emosi negatif, mirip dengan Profil 1.
Profil 3: Pengguna Obat Tidur (The Medicated Sleepers)
Kelompok ini mengandalkan obat tidur. Para pengguna obat tidur cenderung memiliki kinerja lebih rendah dalam tes memori visual dan pengenalan emosi—menunjukkan bahwa obat bisa menimbulkan dampak kognitif halus. Namun, mereka justru melaporkan tingkat kepuasan sosial yang lebih tinggi.
Profil 4: Si Kurang Tidur (The Sleep-Deprived)
Tidur kurang dari enam hingga tujuh jam setiap malam, kelompok ini menunjukkan penurunan kecepatan berpikir di berbagai aspek kognitif, termasuk membaca dan merespons emosi, menahan dorongan impulsif, memproses bahasa, memecahkan masalah baru, dan memahami isyarat sosial.
Profil 5: Tidur Terfragmentasi (The Fragmented Sleepers)
Sering terbangun karena nyeri, perubahan suhu, gangguan pernapasan, atau ke kamar mandi, kelompok ini menunjukkan tingkat penggunaan zat adiktif yang lebih tinggi, mudah tersinggung, serta kesehatan mental yang lebih buruk secara keseluruhan.
Pola Otak yang Berbeda untuk Setiap Jenis Tidur
Setiap profil tidur memiliki pola aktivitas otak yang unik.
“Kami tidak menyangka akan menemukan perbedaan pola otak yang jelas pada sampel muda dan sehat,” ujar Perrault. “Ini menunjukkan bahwa pengalaman tidur tercermin bukan hanya pada perilaku dan kesehatan, tapi juga dalam struktur dan aktivitas otak.”
Profil 1 dan 2 sama-sama menunjukkan aktivitas tinggi pada jaringan otak yang menjaga kewaspadaan—tanda hyperarousal yang sering dikaitkan dengan stres. Namun keduanya berbeda secara penting.
Pada Profil 1, keseimbangan antara jaringan internal otak—yang aktif saat pikiran berfokus pada diri sendiri, melamun, atau berpikir berulang—dan jaringan perhatian eksternal terganggu. “Obrolan batin” di otak tidak berhenti ketika seharusnya, menjebak seseorang dalam lingkaran pikiran yang berulang.
Profil 2 menunjukkan tingkat kewaspadaan tinggi yang sama, tetapi tanpa pikiran berulang berlebihan, yang mungkin membantu mereka tetap bisa tidur dengan lebih baik.
Profil 3 memperlihatkan gangguan pada jaringan visual, memori, dan pemrosesan emosi—kemungkinan akibat efek sedatif obat tidur yang mengganggu cara otak memadukan persepsi dan isyarat emosional.
Profil 4 menunjukkan tanda-tanda “utang tidur,” di mana otak tampak bekerja lembur untuk tetap berfungsi.
Profil 5 memperlihatkan komunikasi yang lebih lemah antara wilayah otak yang mengatur perhatian, gerakan, dan kesadaran tubuh—kemungkinan karena tidur mereka sering terputus.
Mengapa Temuan Ini Penting
Tidur yang terganggu bukan hanya membuat seseorang lelah, tapi juga dapat mengacaukan sistem otak yang mengatur emosi dan respons terhadap stres.
Perrault menekankan bahwa temuan ini berasal dari orang muda yang sehat tanpa gangguan tidur terdiagnosis, sehingga perubahan otak akibat tidur tampak memengaruhi siapa pun, bukan hanya mereka yang memiliki masalah klinis.
Menurutnya, penelitian ini menunjukkan pentingnya menilai tidur seseorang secara menyeluruh—termasuk kualitas, waktu, dan kontinuitasnya—agar dokter dapat memberikan evaluasi dan penanganan yang lebih tepat.
Sebagian besar intervensi tidur, baik berbasis obat maupun perilaku, masih memperlakukan “tidur buruk” sebagai satu masalah tunggal, tanpa membedakan jenis kesulitannya. Padahal, beberapa gangguan membutuhkan pendekatan berbeda—misalnya melatonin untuk kesulitan tidur jangka pendek, atau tempat tidur goyang untuk mengatasi tidur yang mudah terputus.
Terapi perilaku kognitif untuk insomnia (Cognitive Behavioral Therapy for Insomnia atau CBT-I) dapat membantu mereka yang sulit menenangkan pikiran sebelum tidur, sedangkan tidur terfragmentasi sering kali terkait masalah lain seperti sleep apnea atau gangguan lingkungan saat malam hari yang perlu diatasi.
Secara umum, menjaga kebersihan tidur (sleep hygiene)—seperti menjaga waktu tidur dan bangun yang konsisten, serta menghindari kafein dan gula setidaknya dua jam sebelum tidur—dapat membantu memperbaiki kualitas dan durasi tidur.
Perrault menegaskan pentingnya tidak menunggu hingga gangguan tidur menjadi parah. Ia menyarankan agar siapa pun yang merasa mudah lelah di siang hari atau kesulitan berfungsi dengan baik segera berkonsultasi ke dokter atau klinik tidur.
“Masalahnya tidak selalu pada lamanya tidur, tetapi pada kualitasnya,” ujarnya.


