EtIndonesia. Dua kilang minyak di Rusia — sebuah pabrik petrokimia di Bashkiria dan kilang Nizhny Novgorod — telah menghentikan operasinya menyusul serangan pesawat nirawak semalam, menurut Andriy Kovalenko, kepala Pusat Penanggulangan Disinformasi Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina.
“Dua fasilitas — pabrik petrokimia di Bashkiria dan kilang Nizhny Novgorod — telah menghentikan operasinya setelah serangan pesawat nirawak tadi malam,” kata Kovalenko.
Dia juga mencatat bahwa sumber-sumber Rusia melaporkan pemadaman listrik di beberapa wilayah di wilayah Kursk.
Latar Belakang
Sebelumnya, dilaporkan bahwa sebuah pabrik petrokimia lokal di Kota Sterlitamak, Bashkortostan (Rusia), rusak semalam setelah sebuah ledakan. Peringatan serangan pesawat nirawak telah diumumkan di wilayah tersebut sebelumnya.
Kemudian, wali kota kota tersebut mengonfirmasi bahwa ledakan tersebut terjadi di bengkel pengolahan air milik Pabrik Petrokimia Sterlitamak JSC, yang menyebabkan sebagian fasilitas runtuh. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Penyebab ledakan masih diselidiki.
Selain itu, pada malam tanggal 4 November, penduduk Lipetsk dan Nizhny Novgorod melaporkan adanya ledakan, dan sistem pertahanan udara aktif. Bandara di Volgograd, Tambov, Penza, Saratov, dan Samara ditutup sementara. Pada malam tanggal 3 November, pemadaman listrik dilaporkan terjadi di beberapa kota di Rusia.
Malam sebelumnya, tanggal 3 November, Pasukan Pertahanan Ukraina menyerang Kilang Minyak Saratov di wilayah Saratov, Rusia. Serangan tersebut dilaporkan mengenai sasaran, menyebabkan kebakaran di area kilang.
Kilang Saratov merupakan salah satu kilang minyak tertua di Rusia, dengan kapasitas pemrosesan sebesar 4,8 juta ton pada tahun 2023. Fasilitas ini terlibat dalam penyediaan bahan bakar untuk angkatan bersenjata Rusia.
Dalam beberapa hari terakhir, kepala Dinas Keamanan Ukraina (SBU) Vasyl Malyuk menyatakan bahwa pasukan Ukraina telah melakukan 160 serangan terhadap kilang dan target lainnya jauh di dalam wilayah Rusia. Menurutnya, pada bulan September-Oktober saja, beberapa kilang utama terkena dampak, yang mengakibatkan penurunan produksi minyak hingga 90% dan kekurangan bahan bakar melebihi 20%. (yn)


