Fenomena Benda Antarbintang Kembali Mengguncang Sains : Influencer Turut Angkat Suara, Video Ditonton Jutaan Kali dan Diserbu Ribuan Komentar

EtIndonesia. Akhir-akhir ini, perhatian manusia di seluruh dunia tampak tertuju ke langit. Sejak benda antarbintang ketiga — 3I/ATLAS — memasuki tata surya, kedatangannya yang misterius terus memicu perbincangan hangat. 

Layaknya “sebuah batu yang menimbulkan ribuan gelombang”, perdebatan pun muncul: apakah 3I/ATLAS hanyalah komet besar biasa, ataukah merupakan teknologi luar angkasa dari peradaban asing?

Percakapan Ilmiah yang Menggugah Dunia

Perdebatan ini membuka kembali luka lama di dunia sains. Baru-baru ini, ilmuwan Harvard Dr. Avi Loeb menjadi tamu di acara podcast milik Joe Rogan, influencer dengan lebih dari 20 juta pengikut. Dalam wawancara itu, Loeb berbicara tentang pengalamannya difitnah oleh The New York Times serta menegaskan tekadnya untuk mencari kebenaran ilmiah. Sikapnya itu memicu gelombang dukungan luas di media sosial.

Sejak 3I/ATLAS ditemukan pertama kali pada 1 Juli 2025, Dr. Loeb telah meneliti gambar dan data tanpa henti, mempublikasikan lebih dari 100 unggahan dan 11 makalah penelitian terkait objek misterius ini. Namun, sebagian ilmuwan menuduhnya mencari popularitas, dengan menganggap 3I/ATLAS hanya komet biasa.

Pada 28 Oktober, wawancara Joe Rogan dengan Dr. Loeb di YouTube telah mencapai 1,8 juta penayangan, lebih dari 40.000 suka, dan 10.000 komentar. Banyak penonton terinspirasi oleh ketulusan dan semangat Dr. Loeb dalam mengejar kebenaran ilmiah demi masa depan umat manusia. Beberapa bahkan menawarkan bantuan hukum gratis untuk membelanya dari fitnah di dunia akademik.

Permintaan Data kepada NASA: Apakah Tertunda karena Penutupan Pemerintah?

Pada 1 November, melalui situs pribadinya (avi-loeb.medium.com), Dr. Loeb mengungkapkan bahwa NASA belum merilis gambar dari kamera HiRISE milik Mars Reconnaissance Orbiter (MRO) selama lebih dari empat minggu. Gambar tersebut diambil pada 2–3 Oktober 2025, saat 3I/ATLAS berjarak sekitar 30 juta kilometer dari Mars.

Menurutnya, gambar-gambar itu sangat penting karena memiliki resolusi 30 km per piksel, tiga kali lebih baik dibanding gambar terbaik yang dirilis oleh Teleskop Hubble pada 21 Juli 2025.

“Gambar Hubble diambil dari sudut tepi karena posisi Bumi dan Matahari hanya berjarak sekitar 10 derajat dari pandangan ke 3I/ATLAS. Sedangkan citra HiRISE memberikan pandangan samping, yang penting untuk memahami bagaimana materi komet menguap saat mendekati Matahari,” tulis Loeb.

Ia pun mempertanyakan alasan keterlambatan publikasi tersebut.

 Apakah ini disebabkan oleh penutupan sementara pemerintahan AS pada 1 Oktober? Ataukah karena data tersebut mengandung bukti keberadaan teknologi luar angkasa?

“Keterlambatan ini bukan tanda adanya kecerdasan alien,” ujarnya, “melainkan tanda kebodohan manusia. Kita tidak boleh membiarkan ilmu pengetahuan menjadi korban dari politik pemerintah.”

Joe Rogan kemudian menyarankan agar Loeb langsung menghubungi Sean Duffy, pejabat pelaksana NASA. Dr. Loeb juga meminta bantuan dari anggota Kongres Anna Paulina Luna, yang pada 31 Oktober mengirim surat resmi kepada Duffy untuk meminta agar NASA mempublikasikan data pengamatan terkait 3I/ATLAS dan objek antarbintang lainnya.

“Data ini sangat penting untuk meningkatkan pemahaman kita tentang tamu antarbintang dan interaksinya dengan tata surya,” tulis Luna.

“Menunjuk Gajah, Disebut Zebra” — Loeb tentang Tekanan di Dunia Akademik

Dalam wawancara dengan Joe Rogan, Dr. Loeb menceritakan tekanan besar yang dia hadapi dari komunitas ilmiah. Banyak ilmuwan menolak hasil temuannya karena tidak sesuai dengan teori yang telah mapan. Ia menggambarkan situasi itu dengan perumpamaan:

“Bayangkan seseorang mendeskripsikan zebra. Ia pergi ke kebun binatang, melihat seekor gajah, lalu berkata: ‘Oh, zebra itu cuma kehilangan belangnya.’ Sementara saya berkata: ‘Tidak, itu hewan yang benar-benar berbeda.’”

Menurut Loeb, pesawat luar angkasa tidak bisa disamakan dengan batu atau komet karena tidak memiliki ekor komet dan digerakkan oleh mekanisme berbeda.

Ia juga mengenang pengalamannya pada 2020 ketika menjabat sebagai ketua Physics and Astronomy Committee di Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional AS. 

Saat itu, NASA mengkonfirmasi bahwa sebuah meteorit yang jatuh di Samudra Pasifik 99,999% berasal dari luar tata surya. Ia dan timnya berhasil menemukan 850 butir fragmen dari meteorit tersebut, dan sekitar 10% di antaranya memiliki struktur kimia yang tidak ditemukan di tata surya kita.

Namun, media arus utama menuduh mereka salah lokasi, bahkan menyamakan sinyal seismik dari jatuhnya meteorit dengan “getaran akibat truk yang lewat”. The New York Times pun menerbitkan laporan yang merendahkannya.

Dr. Loeb kemudian mengirim surat protes: “Bagaimana Anda bisa menulis laporan tanpa mengkonfirmasi dengan saya? Lokasi ini dikonfirmasi oleh data satelit pemerintah AS, bukan dari perkiraan seismik.”

Ia juga menegur redaksi surat kabar itu:

“Jika kalian memperlakukan sains dengan cara seperti ini, bagaimana publik bisa mempercayai laporan politik kalian?”

“Mereka tidak hanya menolak membicarakan kemungkinan teknologi alien,” ujarnya, “tetapi juga menekan siapa pun yang berani membicarakannya.”

Ledakan Minat Publik terhadap Benda Antarbintang

Meski mengalami penolakan dari rekan-rekannya, Dr. Loeb tetap bersemangat dan berpikiran terbuka.

“Saya lebih senang berbicara dengan penulis fiksi ilmiah kelas satu daripada ilmuwan kelas dua,” ujarnya sambil tertawa.

Ia awalnya ingin menjadi filsuf, namun takdir membawanya menjadi ilmuwan. Ia berseloroh bahwa kini dirinya “sudah memiliki kulit setebal titanium.”

Fenomena ini juga melahirkan gelombang minat baru terhadap sains. Seorang pilot Angkatan Udara AS mengatakan kepada Loeb:

“Karena Anda, putri saya ingin menjadi ilmuwan.”

Seorang jurnalis Inggris juga menulis: “Saya membacakan artikel Anda kepada anak-anak saya, dan mereka semua ingin menjadi ilmuwan.”

Dr. Loeb menekankan bahwa ilmuwan dibiayai oleh pajak rakyat, sehingga mereka berkewajiban untuk mengabdi kepada publik. Ia menilai rekan-rekannya gagal memahami bahwa 3I/ATLAS justru membangkitkan semangat ilmiah di kalangan masyarakat dan anak muda.

“Pertanyaan sejati yang harus dijawab ilmuwan,” katanya, “adalah: Apakah manusia sendirian di alam semesta ini? Itu adalah pertanyaan paling romantis dalam sains.”

Dukungan dari Seorang Pengacara Filsafat

Seorang pengacara hak sipil menulis surat terbuka kepada Loeb — yang kemudian diunggah di situsnya — menyatakan bahwa kata philosophy berasal dari bahasa Yunani philos (cinta) dan sophos (kebijaksanaan).

“Filsuf sejati selalu mencintai pengetahuan di segala bidang,” tulis sang pengacara, “dan Anda telah menginspirasi banyak orang — termasuk saya — meskipun Anda mungkin tidak menyadarinya.”

Ia bahkan menawarkan bantuan hukum gratis jika Loeb membutuhkan perlindungan terhadap fitnah akademik.

“Apapun yang terjadi dalam tiga bulan ke depan, terima kasih karena telah mengingatkan saya bahwa masih ada orang yang rasional dan berhati baik di dunia ini,” tulisnya.
“Saya optimistis, jika suatu hari kita menemukan kecerdasan non-manusia, mungkin mereka telah memecahkan masalah besar yang dihadapi manusia — seperti perang dan krisis iklim.”

Sembilan Karakteristik Unik 3I/ATLAS yang Ditemukan oleh Dr. Avi Loeb

  1. Jalur orbitnya hanya menyimpang kurang dari 5° dari bidang orbit planet-planet (probabilitas 0,2%).
  2. Memiliki ekor yang mengarah ke Matahari — kebalikan dari komet biasa.
  3. Massa intinya 1 juta kali lebih besar dari 1I/‘Oumuamua dan 1.000 kali lebih besar dari 2I/Borisov, dengan kecepatan yang lebih tinggi (probabilitas <0,1%).
  4. Waktu kedatangannya sangat presisi: melintas dekat Mars, Venus, dan Jupiter pada jarak puluhan juta km, namun tak bisa diamati dari Bumi (probabilitas 0,005%).
  5. Kandungan nikel di gas sekitarnya jauh lebih tinggi daripada besi — setara dengan paduan industri (probabilitas <1%).
  6. Kandungan air hanya 4%, padahal air biasanya komponen utama komet.
  7. Memiliki polaritas negatif yang sangat kuat, belum pernah ditemukan pada komet lain (probabilitas <1%).
  8. Arah datangnya hampir sejajar dengan arah sinyal radio terkenal “Wow! Signal” (selisih <9°, probabilitas 0,6%).
  9. Kecerahannya meningkat sangat cepat saat mendekati Matahari, lebih cepat dan lebih biru dibanding komet mana pun yang diketahui.

Profil Singkat Dr. Avi Loeb

  • Kepala Galileo Project
  • Pendiri dan Direktur Black Hole Initiative, Universitas Harvard
  • Direktur Institute for Theory and Computation di Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics
  • Ketua Departemen Astronomi Harvard (2011–2020)
  • Anggota President’s Council of Advisors on Science and Technology (AS)
  • Ketua Physics and Astronomy Committee, National Academies of Sciences
  • Penulis buku laris Extraterrestrial: The First Sign of Intelligent Life Beyond Earth
  • Penulis bersama buku teks Life in the Cosmos
  • Penulis buku baru Interstellar

Laporan oleh Jin Hong, diterjemahkan dan disunting oleh Lin Qing

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine