Banyak Anak Muda di Tiongkok Terjangkit “Penyakit Mematikan Tersembunyi”

Di kalangan generasi muda Tiongkok, jumlah penderita depresi, hipokondria (penyakit kecemasan akan kesehatan), dan gangguan kecemasan meningkat tajam. Banyak anak muda terjebak dalam “penyakit mematikan tersembunyi” ini — menderita secara mental dan emosional — hingga menjadi perhatian publik.

EtIndonesia.  Menurut penjelasan dokter spesialis kejiwaan, hipokondria (dalam istilah medis disebut Illness Anxiety Disorder) bukanlah “berpura-pura sakit”, melainkan ketidakmampuan seseorang untuk mempercayai bahwa dirinya sehat, meskipun hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ada penyakit. Gejalanya meliputi pikiran terobsesi tentang penyakit, ketakutan berlebihan akan sakit, serta sensasi tubuh yang diperbesar secara psikis.

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah anak muda Tiongkok yang mengalami hipokondria meningkat pesat. Seorang blogger Tiongkok bernama “九九不要長太高” (dibaca: Jiǔjiǔ Jangan Terlalu Tinggi) mengunggah video pada 26 Oktober, menceritakan pengalamannya sendiri menderita hipokondria.

Ia berkata: “Kalian tahu apa itu hipokondria? Ini adalah masalah paling besar dari kecemasan saya — saya selalu curiga diri saya sedang sakit. Kalian tahu seberapa parahnya? Saya sudah melakukan banyak pemeriksaan medis: CT otak, pemeriksaan hidung dan tenggorokan, EKG, USG, endoskopi lambung dan usus (lebih dari sekali), bahkan tes pembekuan darah di kaki. Padahal, di usia saya, semua itu sebenarnya tidak perlu dilakukan.”

Ia juga menambahkan bahwa hampir dua kali sebulan ia melakukan tes darah lengkap: “Sejak tahu kadar lemak darah saya tinggi, saya periksa setiap bulan. Beberapa hari lalu, setelah minum obat, saya melihat sedikit darah di feses, dan tengah malam saya panik — langsung pergi tes urin. Tapi hasilnya normal.”

Menurutnya, hipokondria adalah masalah terbesar dalam hidupnya: “Setiap kali tubuh saya terasa sedikit tidak nyaman, saya akan sangat gelisah. Pikiran saya akan terus memperbesarnya — seperti jika tenggorokan terasa sakit, saya langsung berpikir mungkin saya kena kanker tenggorokan.”

Video tersebut mendapat banyak respons dan simpati dari netizen. Banyak yang menulis:

  • “Aku juga begitu. Rasanya menyiksa. Aku tidak mau lagi minum Duloxetine (obat antidepresan). Baru saja berhenti selama 10 bulan.”
  • “Setiap hari ada saja yang sakit. Orang yang tidak paham akan menganggap kita berlebihan, tapi rasa sakitnya benar-benar nyata. Punggung, pinggang, paha — semuanya sakit. Dokter menyuruhku minum obat antikecemasan, tapi aku malah takut meminumnya.”
  • “Aku sudah hipokondria 20 tahun. Dulu takut kena kanker getah bening, lalu AIDS, kemudian Parkinson, sampai ALS. Sekarang takut kanker paru, kanker nasofaring, kanker payudara, bahkan kanker rahim. Aku benar-benar lelah…”
  • “Dulu aku pikir penyakit berat tidak akan menimpaku di usia muda. Tapi sejak pandemi, setelah tahu kelenjar tiroidku bermasalah, setiap kali tubuh sedikit tidak nyaman aku langsung takut kena kanker.”

Di media sosial Tiongkok, banyak blogger membagikan pengalaman mereka menghadapi hipokondria, gangguan kecemasan, dan depresi.

Seorang blogger lain, yang dikenal dengan panggilan “Adik”, mengaku telah menderita gangguan kecemasan selama 10 tahun. Ia pertama kali didiagnosis saat magang pada 2015 setelah mengalami pusing berkepanjangan. Sejak saat itu, hidupnya seperti tak pernah jauh dari rumah sakit — selalu diliputi rasa sakit fisik tanpa sebab yang jelas, seperti sakit kepala, nyeri dada, atau nyeri lambung. Ia sempat yakin dirinya terkena penyakit jantung, stroke, atau kanker otak.

Ketika pada akhir 2022 pemerintah Partai Komunis Tiongkok (PKT) mencabut kebijakan nol-COVID dan gelombang infeksi besar melanda, banyak orang muda mendadak meninggal setelah terinfeksi virus tersebut. Sang blogger pun mengalami kecemasan parah, selalu diliputi ketakutan akan kematian.

Ada pula yang bercerita tentang perjuangan melawan depresi. Awalnya ia tidak berani memberi tahu siapa pun, bahkan beberapa kali terpikir untuk bunuh diri, tapi akhirnya selamat berkat dukungan keluarganya.

Menurut artikel yang diterbitkan akun WeChat “十点人物志” (Ten O’Clock People), berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), tingkat prevalensi hipokondria di kalangan orang dewasa umum mencapai 1,3% hingga 10%.

Dulu, gangguan ini lebih sering muncul pada orang tua. Namun kini, semakin banyak anak muda yang terobsesi dengan kesehatan, dan di media sosial Tiongkok, sudah ada puluhan ribu unggahan bertagar “hipokondria”. Dalam kehidupan perkotaan yang serba cepat, penuh tekanan, dan informasi berlebihan, hipokondria kini menjadi epidemi tersembunyi baru di kalangan muda Tiongkok. (Hui/asr)

Laporan oleh Luo Tingting / Wen Hui

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine