Gedung Putih: AS Bekerja Sama dengan Negara-Negara Arab untuk Akhiri Konflik di Sudan

Sekjen Liga Arab Ahmed Aboul Gheit menyerukan tindakan mendesak untuk melindungi warga sipil dan menghentikan kekerasan.

EtIndonesia. Amerika Serikat tengah bekerja sama dengan mitra-mitra Arabnya untuk mengakhiri konflik di Sudan, kata Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt pada 4 November, seraya menggambarkan situasinya sebagai “sangat kompleks.”

Dalam konferensi pers, Leavitt mengatakan Washington “secara aktif terlibat dalam upaya mediasi perdamaian” dan tetap “berkomitmen untuk bekerja sama dengan para mitra internasional, termasuk anggota kelompok Quad—Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab—serta pihak lain untuk memimpin proses perdamaian yang mencakup krisis kemanusiaan saat ini dan tantangan politik jangka panjang.”

Kelompok Quad merupakan forum diplomatik informal yang terdiri dari Amerika Serikat dan tiga negara Arab tersebut, yang bekerja sama dalam isu-isu strategis kawasan.

Sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt berbicara dalam konferensi pers di Gedung Putih pada 12 Februari 2025. Madalina Vasiliu / The Epoch Times

Pada 29 Oktober, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan terkejut atas laporan bahwa Pasukan Dukungan Cepat (RSF), kelompok paramiliter Sudan, telah membunuh lebih dari 460 orang di sebuah rumah sakit di kota El-Fasher, Sudan bagian barat. RSF membantah tuduhan itu.

WHO melaporkan bahwa pasien dan pendamping mereka dibunuh oleh anggota RSF di Rumah Sakit Saudi pada 29 Oktober. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan sebelum serangan terbaru itu, WHO telah memverifikasi 285 serangan terhadap fasilitas kesehatan di Sudan, dengan sedikitnya 1.204 korban jiwa serta lebih dari 400 tenaga kesehatan dan pasien luka-luka sejak konflik meletus pada 2023.

Departemen Luar Negeri AS mengutuk kekejaman massal tersebut dan mendesak RSF untuk “menghentikan aksi balas dendam dan kekerasan etnis.”

“Amerika Serikat akan terus bekerja sama dengan para mitra untuk mencari jalan damai. Tidak ada solusi militer yang layak, dan dukungan militer dari pihak luar hanya memperpanjang konflik. AS mendesak kedua pihak untuk menempuh jalur negosiasi guna mengakhiri penderitaan rakyat Sudan,” bunyi pernyataan Departemen Luar Negeri AS pada 1 November di platform X (Twitter).

Leavitt juga mengakui meningkatnya perhatian media terhadap konflik itu dan menyebut telah berdiskusi dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada hari yang sama. Ia menambahkan bahwa pemerintahan AS “secara rutin berkomunikasi” dengan para mitra Arabnya mengenai perkembangan di Sudan.


Perang yang Memporakporandakan Sudan

Perang di Sudan telah menghancurkan negara terbesar ketiga di Afrika itu.

Pertempuran antara Angkatan Bersenjata Sudan dan RSF telah menewaskan lebih dari 61.000 orang di Negara Bagian Khartoum saja, menurut studi tahun 2024 oleh Sudan Research Group dari London School of Hygiene and Tropical Medicine.

para pengungsi Sudan yang melarikan diri dari El Fasher tiba di kota Tavira yang dilanda perang di wilayah Darfur, Sudan barat, setelah Pasukan Dukungan Cepat (RSF) merebut kota tersebut. (AFP via Getty Images)

PBB menyebut lebih dari 7 juta orang telah mengungsi di dalam negeri per pertengahan Oktober, memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah sangat parah.


Dorongan Diplomatik untuk Gencatan Senjata

Pada September, Washington dan mitra Quad-nya—Mesir, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab—bersama-sama mengusulkan gencatan senjata kemanusiaan selama tiga bulan di Sudan, yang akan dilanjutkan dengan gencatan senjata permanen dan transisi sembilan bulan menuju pemerintahan sipil. Namun, pemerintah Sudan menolak usulan tersebut.

Pada 24 Oktober, Amerika Serikat menjadi tuan rumah pertemuan anggota Quad di Washington untuk memperkuat upaya bersama menuju perdamaian dan stabilitas di Sudan.

Kelompok itu menegaskan kembali komitmen mereka terhadap rencana September dan sepakat membentuk komite operasional bersama untuk mengoordinasikan prioritas mendesak, termasuk akses kemanusiaan, gencatan senjata, dan penghentian dukungan eksternal bagi pihak-pihak yang bertikai.

“[Presiden Donald Trump] menginginkan perdamaian, dan kami bersatu dalam komitmen untuk mengakhiri penderitaan rakyat Sudan,” ujar Massad Boulos, Penasihat Senior AS untuk Urusan Arab dan Afrika, setelah pertemuan tersebut.

Boulos memimpin upaya diplomatik di kawasan. Akhir pekan lalu, ia mengadakan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty, dan kemudian bertemu dengan pejabat Liga Arab di Kairo.

Menurut Boulos, pembahasan di Mesir berfokus pada “perluasan akses kemanusiaan dan upaya penyelesaian konflik di Sudan,” serta kerja sama kontra-terorisme dan isu migrasi regional.

Ia mengatakan, pertemuan dengan Sekjen Liga Arab Ahmed Aboul Gheit juga membahas tantangan paling mendesak di kawasan.

“Kami mengecam kejahatan keji terhadap warga sipil di El-Fasher dan menyerukan tindakan segera untuk melindungi masyarakat serta menghentikan kekerasan,” kata Boulos.


Kekejaman Meningkat dan Reaksi Dunia

Serangan terhadap El-Fasher pada akhir Oktober memicu kecaman internasional. Laporan dari organisasi kemanusiaan dan warga menggambarkan pembunuhan massal, kekerasan seksual, dan serangan terhadap pekerja bantuan selama ofensif berlangsung.

“Kami sangat terguncang oleh meningkatnya kekerasan dan serangan terhadap warga sipil di El-Fasher,” ujar Boulos pada 29 Oktober. “Penargetan terhadap kelompok rentan dengan tindakan kekerasan dan pembalasan adalah hal yang menjijikkan dan tidak dapat diterima.”

Ia menegaskan bahwa para pelaku “harus dimintai pertanggungjawaban” dan mendesak pimpinan RSF agar mengubah komitmen mereka untuk melindungi warga sipil menjadi “tindakan nyata di lapangan.”

Dalam forum di Qatar pada 4 November, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mendesak pihak-pihak yang bertikai di Sudan untuk “duduk di meja perundingan” dan mengakhiri “mimpi buruk kekerasan” yang tengah melanda negara itu.

Para menteri luar negeri Jerman, Yordania, dan Inggris pada 1 November juga menyerukan gencatan senjata segera di Sudan.

“Terlalu lama konflik ini diabaikan, sementara penderitaan rakyat terus bertambah,” kata Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper dalam forum keamanan Manama Dialogue di Bahrain.

Ia juga menjanjikan tambahan bantuan kemanusiaan senilai 6,5 juta dolar AS sebagai tanggapan atas kekerasan di El-Fasher.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine