Para ilmuwan menemukan alasan mengapa cokelat hitam dapat membantu memperpanjang usia
Rachel Ann T. Melegrito
Secangkir cokelat panas harian Anda ternyata bukan hanya untuk menghangatkan tubuh — minuman ini juga dapat membantu mencegah penyakit jantung dan peradangan yang menjadi pemicunya, menurut sebuah penelitian terbaru.
Seiring bertambahnya usia, tubuh kita cenderung mengalami peningkatan peradangan, yang meningkatkan risiko terkena penyakit kronis dan kematian dini.
Dalam sebuah penelitian berskala besar yang mengikuti peserta selama dua tahun, para peneliti menemukan bahwa mereka yang mengonsumsi suplemen kakao setiap hari mengalami kadar peradangan tubuh yang tetap stabil, tidak meningkat — dengan efek paling kuat terlihat pada mereka yang sejak awal memiliki tingkat peradangan tinggi.
Dalam penelitian COcoa Supplement and Multivitamin Outcomes Study (COSMOS), konsumsi suplemen ekstrak kakao setiap hari dikaitkan dengan penurunan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular sebesar 27 persen.
Selain itu, kadar C-reactive protein (CRP) — penanda utama peradangan sistemik dalam tubuh — menurun hingga 70 persen setelah dua tahun.
Penurunan ini setara dengan penurunan risiko kejadian kardiovaskular antara 7 hingga 23 persen, menggeser peserta dari kategori risiko rata-rata menjadi risiko rendah untuk penyakit jantung. Sementara itu, kelompok plasebo tetap berada di kategori risiko rata-rata.
Hubungan Antara Peradangan dan Penyakit
Penelitian ini berfokus pada C-reactive protein (CRP), protein yang biasanya meningkat sekitar 5 persen setiap tahun seiring bertambahnya usia, dan menjadi indikator umum peradangan tubuh. Proses ini disebut “inflammaging” oleh para peneliti — kombinasi antara “inflammation” (peradangan) dan “aging” (penuaan) — yang diyakini berperan besar dalam memicu penyakit kronis, kelemahan tubuh, disabilitas, dan kematian dini.
Pada kelompok plasebo, kadar CRP meningkat sekitar 5 persen per tahun, sedangkan pada kelompok yang mengonsumsi kakao, kadar CRP justru turun sekitar 3 persen. Meskipun perbedaan ini tidak signifikan secara individual, secara keseluruhan, kakao terbukti mampu mencegah peningkatan peradangan akibat penuaan, menjaga kadar peradangan tetap stabil selama dua tahun.
Penelitian ini menggunakan suplemen flavanol kakao standar 500 miligram (termasuk 80 miligram epikatekin).
Menurut Howard Sesso, profesor kedokteran di Brigham and Women’s Hospital sekaligus penulis utama studi ini, hasil tersebut menunjukkan bahwa kakao dapat membantu melindungi jantung dengan menurunkan peradangan, faktor utama penyebab penyakit kardiovaskular.
Kelompok yang mengonsumsi kakao juga menunjukkan peningkatan kecil namun signifikan pada kadar IFN-γ, zat yang memiliki potensi antivirus, meski efek kesehatannya masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Studi ini merupakan bagian dari sub-studi COSMOS-Blood, yang melibatkan hampir 600 orang dewasa berusia lanjut (rata-rata usia 70 tahun) tanpa riwayat penyakit jantung atau kanker, yang dipantau melalui tes darah berkala selama dua tahun.
Cara Kerja Kakao dalam Melawan Peradangan
Ekstrak kakao tampaknya mampu menekan “inflammaging” dengan cara menurunkan kadar CRP.
Kakao secara alami kaya akan flavanol, senyawa yang dapat melawan peradangan di tingkat molekuler. Flavanol menonaktifkan sinyal utama dalam sel yang memicu produksi molekul pro-inflamasi seperti CRP.
Selain itu, flavanol juga meningkatkan produksi nitric oxide, yang membantu melemaskan pembuluh darah, menurunkan stres oksidatif, dan meredakan peradangan pada dinding pembuluh darah.
Dalam sistem kardiovaskular, flavanol membantu menurunkan tekanan darah, memperlancar aliran darah, serta mengurangi risiko stroke dan aterosklerosis dengan menjaga elastisitas pembuluh darah dan mencegah penggumpalan trombosit.
Tinjauan terhadap beberapa uji klinis juga menemukan bahwa kakao atau cokelat hitam dapat meningkatkan kadar nitric oxide dan menurunkan stres oksidatif, terutama pada dosis flavanol tinggi di atas 450 miligram per hari.
Cara Memaksimalkan Manfaat Kakao
Tidak semua produk kakao memiliki manfaat yang sama, kata Sesso. Sebagian besar produk kakao kehilangan kandungan flavanol selama proses produksi, dan label kemasan jarang mencantumkan jumlahnya.
Ahli gizi terdaftar Melissa Mitri menambahkan bahwa penelitian ini menggunakan dosis terstandar, yaitu 500 miligram ekstrak kakao per hari.
“Jumlah flavanol kakao dalam bentuk makanan seperti cokelat hitam bisa sangat bervariasi, dan sering kali tidak mengandung kadar yang cukup untuk memberikan manfaat antiinflamasi seperti yang ditunjukkan dalam penelitian,” kata Mitri kepada The Epoch Times.
Sesso menyarankan bubuk kakao murni sebagai pilihan yang lebih baik. “Namun, ini bukan berarti semua orang harus mengonsumsi suplemen. Yang terpenting adalah fokus pada makanan alami kaya flavanol seperti kakao, buah beri, teh, anggur, dan makanan nabati lainnya,” ujarnya.
Ahli gizi Kara Siedman, direktur kemitraan di resbiotic Nutrition, menambahkan, “Manfaat sesungguhnya berasal dari kakao, jadi semakin tinggi kadar kakao dalam cokelat, semakin baik. Pilihlah cokelat dengan kadar kakao minimal 70 persen.”
Ia juga mengingatkan bahwa cokelat padat kalori dan mudah dikonsumsi berlebihan. Ia menyarankan untuk menikmati satu atau dua potong kecil setelah makan malam, atau menggunakan bubuk kakao tanpa pemanis dalam smoothie, oatmeal, atau yogurt untuk mendapatkan flavanol tanpa tambahan gula dan lemak.
Pendekatan paling efektif adalah mengombinasikan konsumsi kakao dengan gaya hidup sehat, termasuk olahraga teratur dan pola makan bergizi seperti diet Mediterania dan asupan omega-3.
“Yang paling penting adalah konsistensi — pada akhirnya, manfaat datang dari kebiasaan dan pola makan yang kita jalani setiap hari,” tutupnya.


